Pendidikan

Simposium BWCF: Menelusuri Jejak dan Pemujaan Arca Ganesa di Jawa dan Bali

Jumat, 24 November 2023 - 22:12 | 34.11k
Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) hari kedua, di kampus Universitas Negeri Malang, Jumat (24/11/2023) menghadirkan simposium 
Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) hari kedua, di kampus Universitas Negeri Malang, Jumat (24/11/2023) menghadirkan simposium 

TIMESINDONESIA, MALANGBorobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) hari kedua, di kampus Universitas Negeri Malang, Jumat (24/11/2023) menghadirkan simposium "Ganesa di Jawa dan Bali".

Tema ini disampaikan oleh empat pemateri yaitu Drs. Ismail Luthfi, M.A. Ketua Perhimpunan ahli epigrafi Indonesia yang juga dosen ilmu sejarah Universitas Negeri Malang; Hadi Sidomulyo, pemerhati budaya independen; Veronique Degroot EFEO (ECOLE FRANÇAISE D'EXTREME-ORIENTI) dan Drs. i Gusti Made Suarbhawa dari Badan riset dan Inovasi Nasional. 

Mayoritas penduduk Pulau Bali beragama Hindu. Umat Hindu, memiliki keyakinan bahwa dewa adalah sebagai penuntun jalan kehidupan mereka. Maka dari itu, Pulau Bali adalah salah satu pulau yang relatif banyak ditemukan jenis arca kuno.

"Sebagian besar pura pura  kuno yang terletak di Bali Selatan dan Bali timur yang terdiri dari daerah kabupaten Gianyar, Bangli, Badung, dan Tabanan. Pura masih menyimpan arca arca kuno, tetapi yang terbanyak tepatnya ada di kabupaten Gianyar," ujar I Gusti Made Suarbhawa dalam penyampaian materinya.

Jenis jenis arca tersebut seperti arca dewa, arca leluhur, arca raksasa dan arca binatang, arca Siwa, arca caturkaya, arca catur muka, arca durgamahisasuramardhini, arca pendeta (Agustus), arca mukalingga, dan arca linggayoni. 

Arca-arca kuno tersebut masih difungsikan sebagai sarana atau ritual beribadah oleh masyarakat Bali yang beragama Hindu. Adapun arca tertua masa Hindu-Budha di Bali yaitu arca Wisnu yang ditemukan di pedalaman pulau Bali tepat nya di pura Petapan Desa Lembean Kintamani, Bangli. 

Arca Ganesa merupakan arca dewa yang paling banyak ditemukan di pulau Bali. Menurut Dr. Stutterheim fungsi arca ganesa adalah sebagai pelindung dan pembasmi mara bahaya. Dengan begitu arca Ganesa tersebut banyak di tempatkan di tempat - tempat tertentu seperti lereng pegunungan, di bawah pohon beringin, dan pohon besar, tempat angker dan semacamnya. 

Selain itu, di Bali, arca Ganesa juga dianggap sebagai lambang ilmu pengetahuan atau lambang kebijaksanaan maka dari itu, arca Ganesa ini juga tempatkan di lembaga lembaga pendidikan.

Secara keseluruhan Gaṇesa adalah dewa pengetahuan juga seorang dewa perwira yang bisa mengatasi musuh, halangan dan rintangan. 

Selain itu, arca Ganesa juga dijadikan sebagai bentuk pemujaan masyarakat dari dulu hingga saat ini sebagaimana tertulis di prasasti prasasti kuno pulau Bali. Prasasti yang menulis tentang Dewa Ganesa antara lain Prasasti Sukawana All yang dikeluarkan oleh Raja Anak Wungsu yang berangka tahun 976 Saka atau 1054 Maschi.

Kemudian ada Prasasti Depaa yang dikeluarkan Raja Jayasakti (Awal Abad XII), dan Cempaga A yang dikeluarkan Raja Jayapangus yaitu raja yang paling banyak menerbitkan prasasti (1103 Saka/1181Masehi). Selanjutnya Cempaga B (-Saka) dari Kintamani, Prasasti Jiken Satra (1246 Saka/ 1342 Masehi) yang terletak di kKntamani dan Prasasti Gunung Waringin (1285 Saka/ 1363 Maschi) tepatnya di Bali bagian tengah. 

Setiap prasasti yang telah disebutkan di atas, di dalamnya terdapat tulisan mengenai perintah- perintah untuk memuja Dewa Ganesa seperti Bhatara i Kusumadanta yang diperkirakan sebagai Dewa Ekadanta dalam prasasti Jiken Satra. 

Adanya pemujaan Ganesa merupakan suatu mata rantai yang tidak terputus dari waktu ke waktu. Akan tetapi , semakin berkembangnya zaman dan perubahan budaya maka terjadi pergeseran dari sarana pemujaan dalam wujud arca berdalih ke penggunaan sarana pemujaan yang bersifat simbolis. Seperti kegiatan upacara keagamaan misalnya upacara Caru Nasi Gana, yang berfungsi sebagai pembersihan dibuat salah satu sajennya adalah caru nasi gana, yang dibuat dari nasi berbentuk Ganesa.

Kadang-kadang dalam pembuatannya caru nasi gana tidak sama persis dibuat seperti Ganesa yang ditekankan hanya makna simbolis.

Pemujaan Ganesa di Bali tercermin dari cara penghormatan yang khusus oleh kelompok masyarakat. Ganesa diberi nama lokal dengan sebutan Bhatara Gana atau juga Bhatara Lantang Idung. Lantang artinya Panjang, Idung artinya hidung. Dalam konteks ini Bhatara Lantang Idung adalah Dewa/Bhatara yang berhidung panjang atau berbelalai. Dari nama Bhatara Lantang Idung, berkembang menjadi nama Pura Penataran Lantang Idung. 

Arca Ganesa secara umum memiliki ciri-ciri  duduk dengan sikap virasana (sikap duduk berlutut), bertangan empat dengan laksana: Patahan taring (danta) yang dipegang tangan kanan depan, mangkuk dipegang tangan kiri depan, perasu dan akshamala (tasbih) dibawa di kedua tangan belakang. Letak perasu dan akshamala tidak selalu tetap, dapat saling bertukar atau berubah posisi.

Ganesa di Jawa 

Durga (Parwati) dan Gaṇesa dikenal adalah pantheon utama Hindu. Mereka adalah keluarga Siwa. Di tiap candi Hindu di Jawa selalu ada arca Durga, Gaṇesa, Agatsya (utusan Siwa).

Gaṇesa dikenal dengan banyak nama antara lain: Ganapati (pemimpin para Ghana), Vighnesvara (pengendali halangan), Vinayaka (pemimpinutama), Gajanana (yang berwajah gajah), Gajadhipati (dewa para gajah), Lambkarna (yang bertelinga lebar), Lambodara (yang berperut besar), Ekadanta (bergading tunggal). Secara keseluruhan Gaṇesa adalah dewa pengetahuan juga seorang dewa perwira yang bisa mengatasi musuh, halangan dan rintangan. 

Jumlah arca Gaṇesa yang ditemukan di Jawa bahkan jauh lebih banyak dari arca Durga. Arkeolog Belanda N.J Kroom pernah mencatat perbandingan penemuan arca Gaṇesa-Durga-Agatsya di Jawa adalah 22-5-2. Artinya jauh lebih banyak temuan arca Gaṇesa daripada Durga apalagi Agatsya.

Edi Sedyawati,   Dirjen (Direktur Jendral) kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 1993-1998 dalam disertasinya melakukan penelitian secara teliti atas 169 arca Ganesa. Salah satu kesimpulannya adalah arca Gaṇesa dari periode Singosari memiliki ciri-ciri tersendiri yang solid.

Antara lain: Tangan kanan belakang Gaṇesa memegang kapak, tangan kiri belakang menggenggam tasbih, kedua tangan (baik kanan-kiri) depan memegang mangkuk tengkorak, kaki tambunnya menginjak tengkorak (asana tengkorak), mengenakan anting-anting tengkorak dan mengenakan pita di belakang kepala. Unsur asesoris tengkorak yang menonjol ini merupakan kekhasan Gaṇesa periode Singosari. 

Sebagai informasi, Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2023 digelar selama lima hari di kampus Universitas Negeri Malang, mulai tanggal 23-27 dengan tema Membaca Ulang Pemikiran Prof. Dr. Edi Sedyawati.  

Edi Sedyawati, adalah bekas Dirjen (Direktur Jendral) kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 1993-1998.  Edi Sedyawati adalah sosok intelektual yang memiliki banyak dimensi.

Dikutip dari laman resmi BWCF, Edi Sedyawati adalah seorang arkeolog yang mumpuni, seorang pengamat tari (dan juga penari) yang luas pengetahuannya akan karya tari baik tradisi dan modern serta seorang birokrat kebudayaan yang memiliki pengaruh sangat besar dalam kebijakan-kebijakannya. Di zaman Edi Sedyawati, seni dan kebudayaan seolah menjadi roh, jiwa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.    

Edi Sedyawati wafat pada 22 November tahun lalu dalam usianya yang  ke 84 tahun. November tahun ini adalah setahun meninggalnya Edi Sedyawati. Untuk memperingati setahun kepergian ibu Edi maka BWCF (Borobudur Writers and Cultural Festival) menyelenggarakan sebuah festival yang merayakan pemikiran Edi Sedyawati. Sejumlah acara mulai dari pidato kebudayaan, launching buku, simposium, lecture, bazar  buku, workshop berkaitan dengan dunia arkeologi dan tari yang digeluti oleh Edi Sedyawati, sampai pergelaran seni pertunjukan dan sastra. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES