Pendidikan

House of Hope Beri Harapan Buat Anak Berkebutuhan Khusus

Sabtu, 20 April 2024 - 17:26 | 25.31k
Irene Ridjab, Founder House of Hope berfoto bersama Inge Anugrah seorang public figure yang menangani Hopecast dan program Wellness di House of Hope (Dok. Foto Djarot/TIMESIndonesia)
Irene Ridjab, Founder House of Hope berfoto bersama Inge Anugrah seorang public figure yang menangani Hopecast dan program Wellness di House of Hope (Dok. Foto Djarot/TIMESIndonesia)

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Berawal dari niatan untuk menjembatani anak-anak berkebutuhan khusus agar bisa diterima di masyarakat dan produktif sebagai manusia yang bisa mendapat perlakuan sama untuk bekerja atau berkontribusi positif. Siapa sangka, House of Hope dengan usia hari jadinya yang satu tahun di April 2024 ini telah mendapat sambutan dan dukungan luar biasa dari mitra dan masyarakat umum.

Dengan persiapan dan berbasis keprofesionalan, House of Hope ini dibangun dengan berlandaskan cinta dan profesional hingga akhirnya bisa mendapat dukungan dan kepercayaan salah satunya dari perusahaan ternama produsen produk outdoor kenamaan Bandung, PT Eigerindo Multi Produk Industri (Eiger).

Menjadi wadah bagi anak-anak berkebutuhan khusus tentunya tidak hanya “asal” dibangun dan didirikan tetapi harus bisa menjadi solusi bagi para orang tua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) tersebut.

Apalagi, House of Hope bukanlah tempat pelatihan biasa tetapi pusat pembentukan soft skill dan hardskill anak-anak berkebutuhan khusus agar bisa menjadi terampil dan profesional yang kelak bisa diterima di masyarakat dan berkontribusi di perusahaan-perusahaan.

“Berjalan dalam kurun waktu satu tahun ini dan seperti yang direncanakan dalam House of Hope sendiri adalah kita rindu untuk bisa men-deliver anak-anak yang kita bina ini untuk terjun ke masyarakat, ke dunia kerja profesional,” tutur Irene Ridjab, Founder House of Hope, Sabtu (20/04/24).

“Dan semua ini sudah mulai ada pembuktian dimana anak-anak yang dibimbing oleh House of Hope sudah ada yang bekerja dan berkontribusi untuk perusahaan PT Eigerindo MPI,” jelas irene.

Irene berharap House of Hope ini ke depannya dikenal oleh masyarakat bahwa di Indonesia itu ada tempat/wadah yang bisa melengkapi bagi orang-orang yang sudah merasa putus harapan dan memiliki harapan yang tidak mungkin terwujud dan disitulah House of Hope hadir sebagai proyek percontohan dan memberikan solusi.

Ia mengungkapkan bilamana ada tempat pelatihan untuk ABK tersebut atau tempat tersebut menerima job dari luar/karya-karya ABK yang dijual keluar, maka berbedanya dengan House of Hope itu tidak hanya mengerjakan hal itu saja yang dikerjakan oleh lembaga-lembaga pelatihan.

 Akan tetapi, House of Hope ingin menjadikan anak ABK yang telah dibimbing terjun ke masyarakat, mereka mandiri, berbaur dengan masyarakat secara inklusi sehingga ada satu penerimaan dari masyarakat tersebut dan ini tentunya tidak semudah kelihatannya.

Irene pun memaparkan dengan konsep dan goals seperti inilah, House of Hope pun mengajak Inge Anugrah , seorang public figure dengan latar belakang pendidikan Psikologi dan Magister Early Learning for Special Child untuk bersama-sama melakukan campaign atau movement agar masyarakat bisa menerima ABK di dalam interaksi kesehariannya terutama dalam bekerja.

“Tujuan akhir dari House of Hope itu adalah bagaimana anak-anak berkebutuhan khusus  tersebut sampai bisa terdeliver di masyarakat dan mereka bekerja seperti kita. Namun, memang tidak bisa terlepas dari orang-orang normal seperti kita yang selalu mensuport mereka karena mereka memang tidak bisa  berdiri sendiri 100%. Mereka perlu orang-orang seperti kita untuk mensuportnya,” tukas Irene.  

“Kemudian, saya ingin menjadikan House of Hope ini sebagai keluarga kecil mereka, pada saat orang tua mereka satu saat tidak ada anak ABK ini tetap bisa melakukan rutinitas, datang ke sini dan tidak kebingungan saat orang tuanya tidak ada, tidak drop mentalnya tetapi tetap produktif,” papar founder House of Hope ini.

Irene memaparkan bahwa kerinduannya yang lain adalah melalui House of Hope bisa terwujud sebagai talent managemen para ABK ini. Bilamana di dunia artis ada talent management maka House of Hope pun bisa mensolusikan hal tersebut.

Ia berharap tujuan akhir ABK tersebut hadir dan bergabung adalah agar mereka bisa mandiri, produktif dan memiliki penghasilannya sendiri.

Irene pun merasa bahagia ketika mendengar para orang tua yang memberikan putra-putrinya bergabung di House of Hope lebih mandiri dan bisa memiliki karakter dan kepribadian yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

“Saya selalu menghargai setiap progress pertumbuhan kemampuan mereka walaupun kecil. Itu yang saya tekankan ke dalam tim saya semua. Jangan selalu berharap kita melakukan penilaian kepada mereka seperti penilaian berbasis KPI (key performance indicator) di perusahaan. Tetapi, kita selalu menghargai setiap pertumbuhan dan perkembangan mereka yang mereka capai dan penilaiannya pun dengan standar yang House of Hope miliki dan itulah yang membuat kita terus maju dan semangat mensuport mereka,” jelas Irene.

“Di House of Hope itu ada juga Hopecast dimana nara sumbernya tersebut didatangkan dari keluarga, partner business, akademisi, tokoh dan masyarakat umum lainnya yang mempunyai cerita inspirasi untuk bisa dibagikan ke masyarakat luas sebagai sumber inspirasi. Dan kemarin waktu podcast, ada salah satu kakak ABK di sini sebagai narasumber dan aku tanyakan bagaimana kesannya melihat perubahan adiknya setelah bergabung di House of Hope? Si kakak bercerita dengan harunya bagaimana si adik sekarang mengalami banyak perubahan, salah satunya adalah bagaimana dia perhatian terhadap dirinya sendiri, mampu memanage diri lebih baik, jauh dari sebelum bergabung,” kata Inge, menambahkan.

“Para ABK tersebut sebelumnya susah sekali untuk diajak berubah tetapi sejak mereka belajar disiplin di House of Hope, dampaknya sangat terlihat ketika mereka kembali ke rumah. Tanpa harus diajarkan, dipaksa-paksa dan kebiasaan baik di House of Hope mereka aplikasikan juga di rumah,” ulas Inge.

Inge menuturkan bahwa ternyata dari banyak informasi dan penuturan nara sumber yang ia peroleh, ternyata, anak-anak berkebutuhan khusus tersebut senang bersosialisasi, tetapi jika selama ini mereka hanya diam di rumah, dampaknya adalah mereka tidak berkembang, tidak seperti berkegiatan di House of Hope ini.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES