Pendidikan

Ke Ponpes Nurul Jadid, Yayasan Hakka Malang Kagum Lihat Santri Mahir Berbahasa Mandarin

Minggu, 28 April 2024 - 16:45 | 48.08k
Rombongan Yayasan Hakka Malang diterima Kepala Ponpes Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid saat berkunjung pada Minggu 28 April 2024. (Foto: Humas Ponpes Nurul Jadid)
Rombongan Yayasan Hakka Malang diterima Kepala Ponpes Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid saat berkunjung pada Minggu 28 April 2024. (Foto: Humas Ponpes Nurul Jadid)

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Kiprah Ponpes Nurul Jadid dalam mengembangkan Bahasa Mandarin sejak 2004, menyita perhatian banyak pihak. Termasuk dari Perhimpunan Hakka Indonesia, perhimpunan Sub Suku Han, suku terbesar di Tiongkok, yang bermigrasi secara bergelombang hingga ke Indonesia.

Minggu (28/4/2024), Yayasan Hakka Malang berkunjung ke pesantren yang terletak di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur tersebut. Mereka diterima di Aula I Ponpes Nurul Jadid.

“Saya senang sekali mendengar santri Pondok Pesantren Nurul Jadid berbahasa Mandarin. Kalau ditanya rombongan dari Yayasan Sosial Hakka Malang, apakah semua mahir berbahasa Mandarin? Tidak. Mungkin 30 persen yang menguasai bahasa tersebut,” kata Ketua Pembina Yayasan Sosial Hakka Malang Widodo Harsono.

Widodo Harsono mengaku bangga bisa berkenalan dengan pondok pesantren dengan ribuan santri, yang didirikan pada tahun 1948, oleh KH Zaini Mun'im tersebut.

"Saya bangga dapat berkenalan dengan pesantren Nurul Jadid ini. Semoga suatu saat nanti terus bisa menjalin kerjasama," imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Paguyuban Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Malang, Sugiharta Tandya mengungkapkan, rombongan berkunjung ke Ponpes Nurul Jadid karena ingin bersilaturahim, sekaligus berbagi kebahagiaan dengan santriwan-santriwati.

Sementara itu, Kepala Ponpes Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid menerima kunjungan dengan penuh keakraban. Kiai Hamid mengungkapan kunjungan Yayasan Sosial Hakka Malang bukan yang pertama dan terakhir. Ia berharap, hubungan kerja sama dan silaturahmi bisa berlanjut ke masa mendatang.

"Moga-moga bagi pesantren kita bisa saling belajar, saling menimba ilmu, wawasan dan pengalaman. Saya yakin bapak ibu telah makan asam garam kehidupan di profesinya masing masing," ujar Kiai Hamid.

Figur yang juga Rektor Universitas Nurul Jadid atau Unuja Probolinggo ini, juga berterima kasih atas kontribusi yang telah diberikan Yayasan Hakka Malang. “Ini pasti bermanfaat bagi pesantren,” ujarnya.

Selanjutnya, Kiai Hamid menceritakan kondisi santri di pesantren, Katanya, di pesantren itu camping setiap hari, tidur ala kadarnya. Mereka berkelompok nyambung dengan kegiatan akademi di sekolah. Kurikulum itu digarap bersama antara pesantren dan sekolah.

Diketahui, Bahasa Mandarin di Ponpes Nurul Jadid mulai dikenalkan pada 2004 untuk pelajar SMA Nurul Jadid. Kemudian atas bantuan Lembaga Koordinasi Pengembangan Bahasa Tiongkok (LKPBT) Jatim, pada tahun 2006, pesantren mendapatkan bantuan pengajar native dari Tiongkok.

Empat tahun berselang, untuk pertama kali, santri Ponpes Nurul Jadid mendapatkan beasiswa kuliah di Tiongkok. Sejak saat itu, setiap tahun, ponpes di ujung timur Kabupaten Probolinggo ini rutin mengirim santri untuk kuliah ke Tiongkok. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Muhammad Iqbal
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES