Pendidikan

Gaya ISNU Jatim Peringati Hardiknas: Dari Workshop hingga Belajar Keteladanan Muassis NU

Kamis, 02 Mei 2024 - 20:34 | 24.20k
Gus Kikin hadir di acara ISNU Jatim di Unisma Malang, 2 Mei 2024. (Foto: Dok ISNU Jatim)
Gus Kikin hadir di acara ISNU Jatim di Unisma Malang, 2 Mei 2024. (Foto: Dok ISNU Jatim)

TIMESINDONESIA, MALANG – "Sejak lama NU berharap agar semua perguruan tinggi di lingkungan NU mendapatkan akreditasi unggul. Itu tujuan kita ke depan," ucap Ketua PW ISNU Jawa Timur, Prof, M. Mas’ud Said penuh semangat.

Hal itu ia sampaikan saat sambutan Workshop Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama’ melalui Akreditasi Unggul dalam memperingati Hardiknas, 2 Mei 2024. Acara diselenggarakan di Pusat Studi Jawa Timur Gedung Pascasarjana Unisma.

Dalam peta jalan abad kedua NU, sambung Mas'ud, pendidikan di perguruan tinggi menjadi salah satu prioritas yang harus dikuatkan di NU selain bidang kesehatan, pengkaderan, dan tata organisasi. 

Oleh karena itu, akreditasi unggul menjadi kebutuhan bagi semua perguruan tinggi NU saat ini. Di sinilah ISNU Jatim akan melakukan pendampingan kepada perguruan tinggi NU agar bisa mendapatkan status akreditasi unggul. 

”Setelah ini, kita geser ke perguruan tinggi yang lain yang mau ditempati, narasumbernya ISNU yang mengurusi. Dua tahun. Harus unggul!” tandas direktur Pascasarjana Unisma ini.

Dalam workshop ini, ISNU Jatim manghadirkan tiga orang pembicara. Pesertanya memenuhi ruangan Pusat Studi Jatim Pascasarjana Unisma yang mestinya diisi 70 orang membludak menjadi 105 peserta.

Membludaknya peserta workshop menjadi indikator bahwa akreditasi unggul harus segera dicapai oleh semua perguruan tinggi di bawah naungan NU.

Ketua PWNU Jawa Timur, KH.  Abdul Hakim Mahfudz menegaskan, sejak didirikan oleh Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari, NU selalu melakukan transformasi dalam rangka mengantisipasi perkembangan zaman. Menurut Gus Kikin (sapaan akrab KH. Abdul Hakim Mahfudz), meski NU didirikan para ulama dan menjadi tempat beraktivitas para ulama alim, namun tidak pernah berhenti melakukan transformasi. 

"Hal ini dilakukan dalam rangka menjawab tantangan dan perubahan zaman. Ilmu-ilmu agama ditekuni secara fokus dan bersanad. Sedangkan ilmu umum juga dipelajari di pesantren-pesantren agar NU selalu mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan prinsip “almuhafadzatu ‘alal qadimis sholih wal ahdu biijadidil ashlah”. Segala sesuatu yang baik akan tetap dipertahankan dengan mengadaptasi hal-hal baru yang lebih baik," tutur Gus Kikin. 

Gus Kikin berharap perguruan tinggi juga melakukan transformas-transformasi dalam rangka menghadapi perkembangan zaman, termasuk menjadi perguruan tinggi yang unggul.

“Hadratussyaikh (KH. Hasyim Asy’ari) sangat fokus menekuni keilmuan agama, tapi bukan berarti meninggalkan urusan berbangsa dan bernegara. Mudah-mudahan para peserta mendapatkan banyak pencerahan supaya semakin kaya khazanah keilmuan untuk bertransformasi sesuai perkembangan zaman,” ungkap pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini.

Workshop yang digelar PW ISNU Jawa Timur ini menghadirkan 3 narasumber. Dua narasumber pertama, Prof. Dr. Maskuri, M.Si., Rektor UNISMA dan Prof. Jazidie, M.Eng., Ph.D. berbicara tentang Success Story dan Best Practice kampus masing-masing mendapatkan akreditasi unggul. Sedangkan Prof. Slamet Wahyu, M.T., Guru Besar Universitas Brawijaya memberikan pedoman agar perguruan tinggi NU bisa mendapatkan akreditasi unggul. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imam Kusnin Ahmad
Publisher : Rifky Rezfany

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES