Pendidikan

Simposium Nasional Kepemimpinan Perguruan Tinggi Bahas Pengembangan Kualitas

Kamis, 02 Mei 2024 - 21:45 | 21.64k
Ketua STIE Malang Kucecwara, Drs Bunyamin PhD saat memberikan cinderamata kepada salah satu pemateri Simposium Nasional, Kamis (2/5/2024). (FOTO: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
Ketua STIE Malang Kucecwara, Drs Bunyamin PhD saat memberikan cinderamata kepada salah satu pemateri Simposium Nasional, Kamis (2/5/2024). (FOTO: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Ada banyak materi penting dan menarik yang dibahas dalam Simposium Nasional Kepemimpinan Perguruan Tinggi Indonesia yang diselenggarakan oleh STIE Malangkucecwara, Kamis (2/5/2024). Beberapa materi yang dibahas dalam acara yang mengambil tema Menavigasi Inovasi Perguruan Tinggi Indonesia di Era Antroposes ini seperti soal pengembangan kualitas kepemimpinan perguruan tinggi, Pengembangan SDM, hingga persoalan lingkungan.

Event yang didukung oleh beberapa kampus besar di Indonesia dan diikuti oleh ratusan akademisi dari seluruh Indonesia itu menghadirkan banyak narasumber Kompeten. Seperti iHiLead Project Leader dari University of Gloucestershire UK, Prof David Dawson, Anggota Majelis Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Ahmad Muttaqin, Guru Besar Universitas Padjadjaran, Prof Tri Hanggono Achmad, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Provinsi Jawa Timur, Prof Dyah Sawitri, dan lainya.

Ketua STIE Malangkucecwara, Drs Bunyamin PhD mengatakan bahwa simposium ini merupakan salah satu aktivitas di penghujung hibah yang didanai oleh Erasmus+, atau program UE untuk mendukung pendidikan, pelatihan, pemuda dan olahraga di Eropa.

"Simposium ini tentu terkait dengan kepemimpinan. Pemilihan tema ini karena sudah sedemikan rupa dampak perilaku manusia terhadap alam dan lingkungan. Maka harus ada yang mengambil peran," ucapnya.

Menurutnya pria yang akrab disapa Pak Benny itu, gerakan ini cukup bagus dilakukan dan dimulai oleh akademisi perguruan tinggi. Karena peran perguruan tinggi di Indonesia saat ini masih sporadis. Baik dalam penataan kurikulum hingga soal edukasi kepada mahasiswa terkait kestabilan lingkungan.

"Jika menemui persoalan misal polusi udara maka kita harus melakukan langkah sistematis agar lebih baik di masa depan," ujarnya.

Dia melanjutkan, pihaknya juga melibatkan pakar dari berbagai perguruan tinggi untuk memberikan pandangan hingga solusi akademik. Dengan demikian, perguruan tinggi bisa berinovasi dalam menyikapi kondisi alam atau persoalan lingkungan.

Benny mengatakan bahwa dalam komposium ini muncul rekomendasi-rekomendasi kepada para pimpinan perguruan tinggi untuk menguatkan kepemimpinan dan jejaringnya. Sehingga, permasalahan permasalahan soal isu yang tengah berkembang bisa disikapi melalui diskusi hingga potensi solusi bisa ditemukan.

"Jika kepemimpinannya kuat, maka pengambilan sikap bisa diambil dengan baik. Tentu juga bisa dibantu oleh teman teman. Kan sudah waktunya kita sharing dan berkolaborasi," kata dia.

Simposium ini menurutnya ditujukan untuk menciptakan para pemimpin perguruan tinggi memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat hingga mampu memberikan dampak positif bagi perguruan tinggi sendiri maupun perguruan tinggi lain.

"Jadi pimpinan perguruan tinggi bisa mempengaruhi sistem sehingga perguruan tingginya maupun perguruan tinggi lainnya semakin baik dalam menghadapi tantangan yang sedang berkembang," pungkasnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES