Pendidikan

Bahas Indonesia Maju 2034, Rektor Unair Berikan Gambaran Negara Maju

Selasa, 14 Mei 2024 - 14:01 | 11.38k
Rektor Unair Prof Nasih di diskusi kebangsaan IKA Unair. (FOTO: Fahmi/TIMES Indonesia) 
Rektor Unair Prof Nasih di diskusi kebangsaan IKA Unair. (FOTO: Fahmi/TIMES Indonesia) 

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Rektor Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Mohammad Nasih, S.E.,M.T., Ak. mengatakan untuk mewujudkan Indonesia menjadi negara maju, harus bisa memenuhi beberapa aspek.

Hal tersebut disampaikan Rektor Unair Prof Nasih dalam Diskusi Kebangsaan Ikatan Alumni (IKA) Unair yang mengusung tema “Gagasan Unair Menuju Indonesia Maju 2034”.

“Ada empat karakteristik Indonesia dikatakan sebagai negara maju. Pertama Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita minimal USD 13.000,” ucap Prof. Nasih dalam Diskusi Kebangsaan IKA Unair di Jakarta, Selasa (14/5/2024).

Nasih-2.jpg

Rektor Unair Prof Nasih memberikan keterangan persnya. (FOTO: Fahmi/TIMES Indonesia) 

Selain PDB per kapita, pria yang menjabat sebagai Rektor Unair sejak 2015 juga menyampaikan karakteristik kedua adalah  Indeks Pembangunan Manusia mencapai setidaknya pada angka 85.

“Ketiga, Ekonomi yang berbasis pengetahuan atau Total Factory Productivity (TFP) level minimum 1.6 dan terakhir tingkat kemiskinan harus mencapai angka 2 persen,” ucap Prof. Nasih.

Prof. Nasih menerangkan, untuk mewujudkan Indonesia Maju harus tercapai minimal pertumbuhan ekonomi sebesar 9 persen. Dan untuk pencapaian tersebut tidak dapat hanya bergantung pada keberadaan sumber daya alam.

“Keberadaan sumber daya alam harus didukung dengan peningkatan kualitas SDM. Sektor pendidikan sebagai penggerak utama menuju kemajuan dan kesejahteraan Indonesia,” kata Prof Nasih.

“Pertumbuhan ekonomi 9 persen hanya bisa dicapai melalui pemanfaatan pengetahuan dan teknologi, efisiensi sumber daya alam, dan sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing,” sambungnya.

Menurut Prof. Nasih, ada tiga sumber untuk mewujudkan Indonesia menjadi sejahtera dan makmur yaitu sumber daya alam (SDA), sumber daya manusia, serta sumber daya kuangan dan teknologi.

Bicara tentang SDA, dia menjelaskan, potensi SDA Indonesia, baik mineral maupun biodiversitas sangat luar biasa, akan tetapi pemanfaatan SDA masih belum optimum. “Pemanfaatannya perlu dimaksimalkan melalui pengembangan industri dengan value added tinggi dan kompetitif,” ujarnya.

Selanjutnya soal potensi Sumber Daya Keuangan dan teknologi, kata dia, masih menunjukkan jarak yang masih besar dibandingkan profil negara maju. Ia mengungkapkan, pengeluaran penelitian dan pengembangan harus ditingkatkan untuk mendukung inovasi dalam industri.

“Teknologi akan membuka sektor-sektor unggulan baru dan meningkatkan investasi sehingga ekonomi tumbuh lebih tinggi. Dibutuhkan ekosistem industri dan teknologi yang business- friendly,” ungkapnya.

Terakhir, Indonesia memiliki bonus demografi dengan potensi SDM usia produktif yang tinggi. Namun, Prof Nasih melihat youth unemployment relatif tinggi, menunjukkan urgensi reformasi bidang pendidikan secara holistik, di semua level pendidikan.

“Diperlukan investasi dalam kuantitas dan kualitas tenaga pendidik, prioritas pada bidang Science, Technology, Engineering And Mathematics (STEM), keterlibatan industri, pemanfaatan teknologi, dan menciptakan ekosistem inovasi,” kata Prof. Nasih. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES