Pendidikan

Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Jadi Kunci Jaga Kualitas Pendidikan Remaja Pacitan

Selasa, 14 Mei 2024 - 14:46 | 10.84k
Ketua STKIP PGRI Pacitan Dr. Mukodi. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Ketua STKIP PGRI Pacitan Dr. Mukodi. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PACITAN – Kualitas pendidikan remaja di Kabupaten Pacitan menjadi perhatian serius berbagai pihak. Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP PGRI Pacitan), Dr. Mukodi, menekankan pentingnya penerapan Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam menjaga kualitas pendidikan generasi muda.

"Terkait dengan bagaimana kualitas pendidikan remaja di Kabupaten Pacitan perlu kita tegaskan bahwa sampai hari ini teorinya Ki Hajar Dewantara terkait dengan tri pusat pendidikan menjadi sangat relevan," ujar Mukodi kepada TIMES Indonesia, Selasa (14/5/2024).

Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang terdiri dari pendidikan di rumah, sekolah, dan masyarakat, menjadi landasan untuk membangun karakter dan moral generasi muda yang tangguh. 

"Peran aktif semua pihak, termasuk orang tua, masyarakat, dan sekolah, sangatlah penting dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas," tambahnya. 

Lebih lanjut, Mukodi menekankan peran orang tua dalam mengedukasi anak agar tidak terjerumus ke dalam perilaku asusila. "Orang tua harus memberikan rambu-rambu terkait dengan kehidupan yang baik," tuturnya.

Pun demikian, masyarakat juga harus berperan aktif dalam memberikan edukasi dan bimbingan kepada para remaja. "Masyarakat dimanapun itu berada harus memberikan edukasi berupa memberikan peringatan kepada para remaja," tegas Mukodi.

Selain itu, peran sekolah juga tak kalah penting. "Mulai dari pendidikan SD sampai perguruan tinggi tentu di dalam muatan pembelajaran, baik itu mata pelajaran yang secara legal formal dalam kurikulum, di dalamnya penuh sarat dengan nilai-nilai baik nilai-nilai sosial budaya keagamaan dan nilai-nilai pendidikan yang ada," jelas Mukodi.

Di era digital ini, para remaja mudah terpapar konten negatif di internet. Mukodi mengingatkan agar para remaja mewaspadai konten-konten tersebut dan menggunakan teknologi dengan bijak.

"Dunia digital mulai WhatsApp, Twitter, kemudian piranti piranti teknologi ini menjadi bagian dari kehidupan mereka. Ini yang perlu diwaspadai adalah bagaimana memimpin meminimalisir pemahaman yang kurang baik terkait dengan konten konten video porno misalnya atau konten konten yang tidak sesuai dengan nilai sosial budaya dan keagamaan," paparnya. 

Mukodi menuturkan bahwa pemerintah juga harus lebih getol melakukan berbagai upaya preventif untuk mencegah tindakan asusila, namun eksekusi program tersebut membutuhkan kerjasama semua pihak.

"Mulai dari pemerintah, cabang Dinas Pendidikan juga seharusnya melakukan langkah-langkah pencegahan," ujarnya.

Di samping itu, semua pihak juga harus berperan aktif dalam mengawasi dan memberikan edukasi kepada para remaja. "Cara meminimalisir dengan edukasi yang konsisten," tandas Mukodi.

Penerapan Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dan kerjasama aktif semua pihak menjadi kunci untuk menjaga kualitas pendidikan remaja di Pacitan. 

Melalui edukasi, bimbingan, dan pengawasan konsisten dari orang tua, masyarakat, dan sekolah sangatlah penting dalam membangun generasi muda Kabupaten Pacitan yang berkarakter dan bermoral. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES