Pendidikan

Tiga dalam Satu Harmoni, Rangkum Talenta Tebar Virus Cinta ala Sanggar Rumah Ilalang

Selasa, 14 Mei 2024 - 20:26 | 33.23k
Agus R. Subagyo, Syifa, Nindy dan Sabrina pada acara Tiga dalam Satu Harmoni (Foto: Afifah Fitri Wahyuningtyas/TIMES Indonesia)
Agus R. Subagyo, Syifa, Nindy dan Sabrina pada acara Tiga dalam Satu Harmoni (Foto: Afifah Fitri Wahyuningtyas/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Riuh keceriaan siswa-siswi kelas 6 SDN Purwantoro 2 Kota Malang memenuhi ruang kelas yang disulap menjadi aula pentas.

Suara mereka mendengungkan rasa antusias untuk menyaksikan pertunjukan kesenian yang sedang dinanti.

Beberapa berbisik-bisik tentang kawan yang akan tampil, beberapa yang lain bertanya-tanya siapa kiranya yang akan menjadi bintang tamu.

Sementara itu, di tempat persiapan tiga gadis berbakat dari Sanggar Rumah Ilalang (SRI) sedang mempersiapkan diri untuk tampil di hadapan para audiens.

Tiga gadis itu adalah Nindy, Sabrina, dan Syifa. Dalam acara bertajuk Tiga dalam Satu Harmoni yang didukung oleh Ikatan Alumni UB pada Selasa (13/5/2024), ketiganya menyajikan tampilan apik.

Talenta di Balik Tiga dalam Satu Harmoni

Menyebut mereka berbakat tidaklah berlebihan, sebab hanya dalam hitungan menit, ketiga gadis yang masih berstatus siswa itu sudah mampu menentukan puisi dan lagu yang ingin ditampilkan tanpa perlu pikir panjang.

Tentu saja, spontanitas itu tidak lahir secara instan. Menurut cerita Agus R Subagyo, sastrawan dan seniman sekaligus pendiri SRI, ketiga anak itu telah berlatih di sanggarnya dalam waktu tidak singkat.

Salah satunya adalah Nindi. Gadis kecil bernama lengkap Adzkia Anindya Saufa Mun’im itu telah belajar membaca puisi selama 5 tahun.

Sanggar-Rumah-Ilalang-2.jpgSabrina, Nindy, dan Syifa tampil di hadapan siswa kelas 6 SDN Purwantoro 2.

Keterlibatannya dalam membaca puisi dimulai dari ketidaksengajaan. “Pas Kakak ke sanggar aku ngerengek ikut,” cerita Nindy kepada TIMES Indonesia.

Waktu itu umurnya baru menginjak 5 tahun dan masih berada di TK A. Niat awal Nindy menginjakkan kaki di SRI hanyalah menemani si kakak yang sudah lebih dulu berlatih membaca puisi.

Namun, interaksinya dengan berbagai puisi yang disuarakan di Sanggar Rumah Ilalang membuat jiwa kecilnya yang masih serba meniru dan penasaran bersentuhan dengan dunia baca puisi.

Kini umurnya sudah menginjak 9 tahun. Meski usianya paling kecil di antara tiga anak SRI yang diajak ke Malang, Nindy merupakan senior dari dua kawannya.

Dengan kata lain, ialah yang paling berpengalaman. Kurang lebih selama 5 tahun belajar di SRI, sudah tak terhitung berapa kali ia membacakan puisi di depan umum.

Selama kurun waktu tersebut, Nindy mengaku tidak tertekan dan malah sebaliknya. “Rasanya seneng. Senangnya karena iso dolan,” ungkapnya dengan lugu.

Tidak terhitung berapa kota yang sudah Nindy kunjungi. “Selama ini sudah main ke Rembang, Solo, Lamongan, Malang, Nganjuk, Kediri, Bojonegoro, udah ga tau lah,” akunya.

Selain dapat menginjakkan kaki di banyak kota, Nindy juga merasa senang karena bisa mendapat teman baru.

Selama beberapa hari di Malang, tiga anak berbakat tersebut telah berhasil memukau banyak orang.

Ada cerita menarik dari Sabrina ketika SRI tampil di Maliki Plaza. Di sana, siswi kelas 5 tersebut menunjukkan kebolehannya dalam membaca puisi.

Tidak tanggung-tanggung, Sabrina membacakan puisi yang belum pernah diketahui sebelumnya. Meski begitu, Sabrina berhasil memukau para audiens pada Senin malam.

“Puisi yang baru dipegang, belum ada satu menit, dia eksekusi di panggung,” cerita Agus.

Sekilas tentang Pentas Nglurug Dulur

Mengunjungi beberapa kota memang merupakan salah satu agenda dari Sanggar Rumah Ilalang, inilah yang dimaksud Nindy dengan dolan.

Mereka menyebutnya Pentas Nglurug Dulur (PND) yang dalam bahasa Indonesia berarti Pentas Menyerang Saudara.

Nglurug dalam bahasa Jawa memang memiliki arti yang negatif. Akan tetapi, Agus R Subagyo menafsirkan kata itu sebagai bentuk saling serang dengan kesenian.

Di kota-kota yang dikunjungi, Sanggar Rumah Ilalang mengajak seniman dan pegiat puisi untuk berkolaborasi atau istilahnya saling serang.

Dengan pertemuan tersebut, PND juga menjadi ruang menjalin silaturahmi, mempererat pesaudaraan, sekaligus memperkenalkan kesenian.

SD Purwantoro 2 menjadi salah satu tujuan langganan Sanggar Rumah Ilalang ketika berkunjung ke Malang. Terhitung sudah empat kali Sanggar Rumah Ilalang nglurug dulur di SD Purwantoro 2.

Sebagai sekolah berpredikat Pemberdayaan dan Pengembangan Seni Tari Tradisi (PPST), tentu tak salah kalau sekolah ini banyak berkolaborasi dengan sanggar ataupun kelompok kesenian, dan SRI menjadi salah satu tamu wajib tiap tahunnya.

Menurut salah satu guru SDN Purwantoro 2, Rudita Anes Candra Negara, kedatangan Sanggar Rumah Ilalang di sekolahnya menjadi salah satu sarana bagi para siswa untuk eksis dalam bidang kesenian.

“Harapannya ya mumpung (ada SRI) jadi anak-anak (SD Purwantoro 2) bisa menambah jam terbang pentasnya dia. Kalau tampil di depan teman sendiri kan sudah biasa, kalau ada tamu meskipun cuma 2 atau 3 orang itu beda,” ungkapnya.  

Bagi Agus R Subagyo, Pentas Nglurug Dulur ini adalah ajang menabur virus. “Kalau istilahnya saya itu, saya ke mana-mana kan menebar virus, jadi menabur virus cinta kesenian,” jelas Agus dengan gaya yang nyentrik dan menyenangkan.

Seniman yang kerap disapa Pak Rego itu memang punya caranya sendiri untuk menebar virus cinta seni dan menumbuhkan motivasi kepada anak-anak di SRI.

“Ketika kita datang ke suatu tempat kamu harus membuat tempat itu merindukan kedatanganmu,” tutupnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES