Pendidikan

Stafsus Menag Dorong Guru PAI Miliki Cara Tepat Ajar 43 Juta Siswa di Indonesia

Sabtu, 18 Mei 2024 - 23:06 | 16.11k
Stafsus Menag Abdul Rochman (berdiri) didampingi Direktur PAI Dr. H.M Munir (kiri) dan Kasubbag TU PAI H. Solla Taufiq (kanan) saat acara Pembinaan dan Pembekalan Mutu SDM Moderasi Beragama Pada PAI di Bogor, (17/5/2024). (FOTO: dok. Kemenag) 
Stafsus Menag Abdul Rochman (berdiri) didampingi Direktur PAI Dr. H.M Munir (kiri) dan Kasubbag TU PAI H. Solla Taufiq (kanan) saat acara Pembinaan dan Pembekalan Mutu SDM Moderasi Beragama Pada PAI di Bogor, (17/5/2024). (FOTO: dok. Kemenag) 

TIMESINDONESIA, BOGOR – Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki tanggung jawab penting, yaitu, memberikan pemahaman agama kepada 43 juta siswa muslim di Indonesia. Karenanya, Staf Khusus Menteri Agama (Stafsus Menag) Abdul Rochman meminta para guru PAI punya metode ajar agama yang tepat di sekolah, meski jam pelajaran yang tersedia sangat singkat.

Hal tersebut disampaikan Stafsus Menag Abdul Rochman dalam acara Pembinaan dan Pembekalan Mutu SDM Moderasi Beragama Pada PAI di Kabupaten Bogor, Jumat (17/5/2024) kemarin. 

"Guru Pendidikan Agama Islam ini menjadi sangat penting. Sebab, (pemahaman) 43 juta anak muslim Indonesia ini ada di pundak dan menjadi tanggung jawab dari Bapak Ibu sekalian," ujar Abdul Rochman dalam keterangan persnya kepada TIMES Indonesia, Sabtu (18/5/2024). 

Pria yang akrab disapa Gus Adung menegaskan bahwa guru PAI harus punya target tentang pelajaran-pelajaran agama yang hanya 2 jam dalam 1 minggu di sekolah umum.

"Dengan 2 jam seminggu itu, kita juga harus memikirkan apa yang kita ajarkan kepada siswa. Yang lainnya bobotnya bisa dikurangi dari itu, tapi bukan berarti lainnya tidak penting. Minimal salatnya itu benar. Berarti wudhu, salat, doa atau wiridan setelah salat," ujarnya.

Gus Adung juga menekankan pentingnya kemampuan membaca Al-Qur'an. Keluar dari SD, SMP, SMA, kata dia, para siswa minimal harus bisa baca Al-Qur'an. Guru PAI harus bisa mencari metode yang paling cepat.

Selain itu, ia menggambarkan bahwa buku agama bisa diringkas dan dibuat agar siswa bisa mempelajari agama dengan mudah dan lebih simpel, seperti tentang rukun Islam, fiqihnya salat dan haji.

"Dibuat tabel-tabel misalnya. Itu dibuat yang simpel sehingga orang itu bisa memahami agama dengan cara yang lebih mudah. Selebihnya adalah penekanan ketauhidannya, dan terutama akhlaknya itu. Dan itu harus dibentuk melalui keteladanan," katanya.

Pelajaran agama Islam di sekolah umum, kata dia, itu sebaiknya sifatnya praktikal. "Kita tidak sedang mencetak ahli agama di sekolah-sekolah umum, tapi mencetak umat Islam yang menjalankan agama, yang mempraktikkan agama. Beda dengan madrasah atau pesantren. Kita menyiapkan untuk orang yang mendalami agama," katanya.

Guru PAI, lanjut Koordinator Stafsus, harus bisa berpikir bagaimana caranya agar para siswa bisa mencintai agamanya. "Semangat untuk beragama, moderat berfikirnya dengan waktu yang sangat pendek. Itu bagaimana kita mengajarkannya karena waktu kita ini pendek," katanya.

Lebih lanjut, Stafsus Menag menyebut bahwa Direktorat PAI sebuah unit yang sangat penting karena akan berpengaruh terhadap 43 juta anak muslim se-Indonesia. Oleh karenanya, keberhasilan pengembangan program dan kebijakan yang diambil harus diutamakan. "Kalau direktorat ini gagal di dalam mengembangkan programnya, kebijakannya itu maka punya pengaruh terhadap 43 juta anak muslim di Indonesia," tandasnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES