Pendidikan

Pengmas Polinema Kenalkan Teknologi Pertanian ke Warga RW 2 Kebonsari Malang

Minggu, 30 Juni 2024 - 03:11 | 14.67k
Pelaksanaan sosialisasi Kampung Proklim dan Penyuluhan yang dilakukan tim pengabdian masyarakat Polinema di Kampung Kebonsari, Sabtu (29/6/2024). (FOTO: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
Pelaksanaan sosialisasi Kampung Proklim dan Penyuluhan yang dilakukan tim pengabdian masyarakat Polinema di Kampung Kebonsari, Sabtu (29/6/2024). (FOTO: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Ada banyak pengetahuan berharga yang dibagikan tim pengabdian masyarakat (Pengmas) Politeknik Negeri Malang (Polinema) dalam acara Sosialisasi Kampung Proklim dan Penyuluhan untuk warga RW 2 Kelurahan Kebonsari Kecamatan Sukun Kota Malang, Sabtu (29/6/2024). Mulai dari upaya penanggulangan perubahan cuaca, hingga teknologi pertanian yang bisa diterapkan di kampung.

Ketua Tim Pengmas Polinema, Prof. Ratih Indri Hapsari, ST MT Ph.D mengatakan, ada beberapa fokus yang diberikan oleh Polinema dalam penyuluhan ini. Diantaranya yakni mengenai kampung Proklim, kesadaran lingkungan dan bencana, dan juga urban Farming.

Wanita yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur 4 Polinema itu menyebut, warga RW 2 Kelurahan Kebonsari ini sebenarnya sudah banyak yang paham mengenai Program Kampung Iklim (Proklim) yang digalakkan pemerintah. Namun dalam pengembangannya, masih ada beberapa aspek yang belum terjamah. Seperti kesadaran bencana dan pembinaan dari perguruan tinggi dan pemerintah.

"Sehingga kami berusaha untuk membantu masyarakat pada aspek aspek yang belum tersentuh itu," ucapnya.

Dia menyebut Polinema mewajibkan setiap kegiatan Pengmas tidak hanya dilakukan dengan memberikan bantuan fisik berupa alat atau bangunan saja. Tetapi harus ada sebuah penyuluhan dan pelatihan yang diberikan sebagai tindak lanjut.

Prof Ratih melihat, RW 2 Kebonsari telah memiliki modal yang apik, karena banyak masyarakatnya yang telah mampu mengembangkan urban farming. Namun kebanyakan dari tanaman yang mereka budidayakan belum mampu membawa nilai perekonomian yang signifikan.

Alasanya, karena masih kurangnya pengetahuan masyarakat terkait budidaya yang baik serta teknologi pendukung. Sehingga dalam kesempatan itu, Pengmas Polinema banyak membagikan pengetahuan berharga soal urban Farming serta teknologi yang bisa digunakan oleh masyarakat.

"Penyuluhan ini tidak hanya berakhir disini.  Ini baru tahun pertama. ini juga arahan dari DLH bahwa ada beberapa kampung di Kota Malang ini yang butuh sentuhan butuh di edukasi oleh akademisi. Kami pertama kali akan mencoba di kampung kebonsari di tahun ini," kata dia.

Prof Ratih berharap, sosialisasi dan penyuluhan dari Polinema ini bisa menumbuhkan pemahaman dan kesadaran dari masyarakat, khusunya dari lingkungan yang paling kecil, tentang pentingnya penghijauan, untuk  mengurangi dampak perubahan iklim.

Dalam kesempatan Prof. M Sarosa yang juga sebagai anggota Pengmas Polinema  banyak membagikan ilmu soal pemanfaatan lahan kosong, macam-macam hidroponik mulai dari nutrient system technique, deep flow technique, sistem sumbu, irigasi tetes, hingga sistem rakit apung.

"Kita harus bisa memanfaatkan lahan terbatas yang ada sekitar kita. Sekarang lahan itu semakin terbatas Karena dibangun rumah," ucapnya.

Pemanfaatan lahan sempit tersebut bisa dalam bentuk budidaya tanaman. Dimana dalam budidaya daya itu, masyarakat bisa menggunakan teknologi seperti hidroponik.

Pada acara tersebut, Prof Sarosa memamerkan green house hidroponik berbasis IoT yang telah dibangun oleh Polinema di Kampung Merjosari. Pihaknya pun ingin, hal serupa bisa dilakukan juga di Kampung Kebonsari.

"Yang saya tawarkan adalah hidroponik yang telah diterapkan di kampung merjosari. Kemudian sekarang sedang kita kembangkan untuk irigasi tetes untuk nama anggur," katanya.

Dia menyadari, masih banyak masyarakat yang belum bisa menggunakan teknologi ini. Hal ini karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki oleh warga itu sendiri.

"Karena itu memang teknologi yang mengikuti perkembangan zaman. Kita menggunakan teknologi digital. Ada IoT, tidak semua orang bisa. Ada beberapa titik yang belum ada internetnya. Sehingga kami coba kembangkan bagaiamana lahan itu bisa dimanfaatkan dengan benar dengan teknologi," pungkasnya.

Disisi lain, ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kebonsari, Aji Jatmiko menyambut baik dan mengapresiasi langkah Polinema yang mau memberikan penyuluhan  dan pembinaan untuk masyarakat Kebonsari. Menurutnya warga RW 2 telah melakukan langkah nyata dalam pemanfaatan lahan kecil yang ada di lingkungan mereka. Baik untuk budidaya tanaman maupun ikan.

Pihaknya berharap, hal semacam ini bisa terus berlanjut, sehingga pengetahuan masyarakat terkait perkembangan teknologi dalam  budidaya ini bisa terus di upgrade.

"Kita menyambut baik Polinema sudah turun ke masyarakat, khususnya di RW 2 ini. Karena memang masyarakat membutuhkan pembinaan semacam ini. Agar tanaman yang mereka budidayakan ini bisa memiliki nilai ekonomi yang lebih," kata dia. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES