Pendidikan

Upayakan Diplomasi Digital, Mahasiswa UB Ciptakan Media Virtual Budaya

Jumat, 05 Juli 2024 - 10:34 | 17.54k
Dinda Ayu Anggraeni, mahasiswa Sastra Cina dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (UB) menciptakan inovasi media lintas budaya. (FOTO: Dinda for TIMES Indonesia)
Dinda Ayu Anggraeni, mahasiswa Sastra Cina dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (UB) menciptakan inovasi media lintas budaya. (FOTO: Dinda for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (UB), Dinda Ayu Anggraeni,  berhasil menciptakan inovasi dalam memperdalam hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok melalui diplomasi digital. Dinda mengembangkan media lintas budaya berupa virtual field trip untuk Kelenteng Eng An Kiong, Kota Malang.

Diplomasi digital adalah penggunaan teknologi digital dan media online untuk mendukung, memperluas, dan meningkatkan kegiatan diplomasi mainstream. Ini melibatkan pemanfaatan internet, media sosial, atau platform digital lainnya untuk berkomunikasi, membangun hubungan internasional, atau mempromosikan kebudayaan.

Kelenteng Eng An Kiong, yang telah berdiri selama hampir dua abad, bukan hanya merupakan cagar budaya yang tersimpan di Kota Malang tetapi juga manifestasi budaya Tionghoa di Indonesia.

Melalui media virtual ini, Dinda berupaya memperluas pemahaman masyarakat tentang warisan budaya Tionghoa di Indonesia, serta memperkuat kerja sama antarnegara dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045 dengan meningkatkan kesepemahaman lintas budaya. 

"Menyongsong visi Indonesia yaitu Indonesia Emas 2045 sekaligus bonus demografi, namun tanpa persiapan bukan tidak mungkin akan menjadi boomerang. Calon tenaga kerja terdidik harus diimbangi dengan keterampilan serta pemahaman lintas budaya," tutur Dinda kepada TIMES Indonesia, Jumat (5/7/2024).

Menurutnya, pemahaman lintas budaya dianggap krusial dalam menghadapi bonus demografi yang melimpah di Indonesia. 

"Jika pemahaman lintas budaya minim, akan timbul konsekuensi negatif seperti penafsiran yang salah, bahkan konflik antar budaya dan bukan tidak mungkin akan memperlambat hubungan bilateral," jelas mahasiswa Sastra Cina ini.

Dinda menuturkan, proyek yang dikerjakannya dibimbing langsung oleh dosen Ressi Maulidina Delijar, dan peneliti M. Naufal Islam. Media ini juga telah divalidasi oleh sejumlah ahli, termasuk Rafsanjaya Mahaputra dan M. Naufal Islam,, sebagai validator ahli media, Wishnu Mahendra, sebagai validator ahli hubungan internasional, serta Cahyo Ramadhan Pratama, sebagai validator materi.

Hasil Proyek Diserahkan ke Kelenteng Eng An Kiong

Sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan proyek ini, hasil penelitian dihibahkan ke Kelenteng Eng An Kiong. Media virtual field trip ini dapat diakses langsung di Kelenteng Eng An Kiong atau melalui tautan bit.ly/engankiong.

Perempuan kelahiran Malang ini berharap, melalui media ini, pengalaman wisata budaya di Malang dapat diperkaya serta kesepemahaman lintas budaya di Indonesia dapat ditingkatkan, sehingga dapat berpotensi mengakselerasi hubungan bilateral antara kedua negara. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES