Tari Sajojo: Riang Gembira Papua di Panggung Budaya PPI Maroko
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Indonesian Cultural Day 2025 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia atau PPI Maroko, Tari Sajojo tampil memukau di panggung Teater Taman Hassan II, Rabat (24/7/2025).

MAROKO – Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Indonesian Cultural Day 2025 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia atau PPI Maroko, Tari Sajojo tampil memukau di panggung Teater Taman Hassan II, Rabat (24/7/2025).
Tarian asal Papua ini membawa nuansa ceria, dinamis, dan penuh energi yang berbeda dari tarian daerah lainnya. Dengan gerakan yang sederhana namun kompak, para penampil mengajak penonton dari berbagai negara ikut merasakan semangat kebersamaan khas timur Indonesia.
Sorak-sorai dan tepuk tangan penonton pun mengiringi setiap hentakan kaki dan irama lagu Sajojo yang familiar.
Filosofi dan Daya Tarik Tari Sajojo
Tari Sajojo berasal dari Papua dan sudah lama dikenal sebagai tarian pergaulan masyarakat setempat. Tarian ini sering dibawakan dalam acara adat, penyambutan tamu, atau perayaan besar sebagai simbol solidaritas dan suka cita.
Gerakannya yang berulang dan mudah diikuti mencerminkan keterbukaan serta sifat egaliter masyarakat Papua. Sajojo juga dikenal sebagai tarian yang menghapus batas—siapa saja bisa ikut menari bersama tanpa dibedakan status, usia, atau latar belakang.
Lagu yang mengiringi Tari Sajojo umumnya menggunakan lirik sederhana dan repetitif, namun sangat efektif menciptakan suasana meriah dan bersahabat. Musiknya yang khas dengan irama cepat membuat siapapun yang mendengarnya ingin ikut bergoyang.
Sajojo bukan hanya tentang estetika tari, tetapi juga tentang bagaimana budaya mampu menjadi jembatan emosional yang menyentuh hati penontonnya. Di berbagai kesempatan, tarian ini sering digunakan sebagai media untuk membangun suasana inklusif, baik dalam perayaan lokal hingga pertunjukan internasional.
Secara filosofis, Tari Sajojo mencerminkan nilai-nilai gotong royong, keterbukaan, dan persatuan. Ketika penari berdiri berdampingan, bergerak serentak, dan saling menggenggam tangan, itu adalah lambang dari masyarakat yang saling mendukung dan hidup berdampingan secara harmonis.
Tidak ada posisi yang menonjol dalam formasi tari ini, semua sejajar, semua bergerak bersama. Inilah yang menjadikan Tari Sajojo begitu relevan dengan pesan-pesan global tentang toleransi dan perdamaian.
Panggung Diplomasi Budaya Mahasiswa Indonesia
Dalam pertunjukan di Rabat, para pelajar Indonesia mengenakan kostum khas Papua dengan hiasan kepala, rumbai, dan corak warna cerah. Penampilan mereka begitu total, tidak hanya menari, tapi juga membawakan ekspresi dan semangat yang kuat khas masyarakat Papua.
Mereka menampilkan koreografi hasil latihan intens selama beberapa minggu dengan tujuan menampilkan Papua secara utuh dan berkesan. Tak sedikit penonton Maroko maupun internasional yang turut berjoget, menciptakan suasana yang meriah dan inklusif.
PPI Maroko menjadikan Tari Sajojo sebagai salah satu bentuk perkenalan budaya Indonesia yang paling ramah dan menghibur. Dalam konteks Indonesian Cultural Day 2025, pertunjukan ini menjadi bukti bahwa budaya adalah jembatan universal yang bisa menyatukan berbagai bangsa.
Ketua panitia, Ibnu Iftitah, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menyuguhkan hiburan semata, tetapi menjadi wujud nyata diplomasi budaya. “Lewat Tari Sajojo, kami ingin menyampaikan bahwa Indonesia itu kaya, ceria, dan terbuka bagi siapa saja. Ini cara kami menyapa dunia lewat budaya,” ujar Ibnu.
Mahasiswa sebagai Duta Budaya di Luar Negeri
Tari Sajojo menjadi simbol bagaimana Indonesia menjalin hubungan budaya dengan dunia, bahkan melalui tangan-tangan mahasiswa yang sedang belajar di luar negeri. Pertunjukan ini menunjukkan bahwa pelajar Indonesia di Maroko tak hanya fokus pada pendidikan formal, tetapi juga aktif memperkenalkan warisan budaya bangsanya.
Mereka bertransformasi menjadi duta budaya yang membagikan nilai-nilai persahabatan, toleransi, dan kebersamaan. Hal ini sekaligus menjadi bentuk nyata diplomasi budaya ala generasi muda.
Latihan membawakan Tari Sajojo bukan tanpa tantangan, terutama karena tarian ini menuntut kekompakan dan energi tinggi dari seluruh penampil. Para mahasiswa harus meluangkan waktu di sela-sela kesibukan akademik untuk berlatih bersama secara rutin.
Namun semua rasa lelah terbayarkan ketika penampilan mereka mampu mengundang tawa, senyum, dan bahkan partisipasi aktif dari penonton. "Sajojo bukan hanya soal menari, tapi soal menyatukan semangat dalam gerakan bersama," ujar Alya, salah satu penari.
Keberhasilan Tari Sajojo dalam mencuri perhatian penonton internasional menjadi kebanggaan tersendiri bagi PPI Maroko. Tarian ini membuktikan bahwa nilai-nilai lokal Indonesia dapat diterima dan diapresiasi dalam ruang global.
PPI Maroko juga menyajikan tari Ratoeh Jaroe dan Kecak Bali. Mereka berharap ke depannya akan lebih banyak karya budaya Indonesia yang bisa mereka tampilkan di panggung dunia. Melalui Tari Sajojo, Indonesia tidak hanya dikenalkan, tetapi juga dirasakan secara langsung oleh dunia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


