Mahasiswa UMM Rancang Bed Dryer Pengering Gabah
Bed Dryer karya mahasiswa UMM tidak hanya untuk gabah padi, alat ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lain.

MALANG – Mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan bed dryer, teknologi pengering gabah yang dirancang lebih efektif dan stabil untuk menjaga mutu hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu.
Inovasi bed dryer tersebut digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Melalui penelitian lapangan, Malikul melihat secara langsung kesulitan petani dalam mengeringkan gabah saat musim hujan. Cuaca yang tidak stabil membuat metode penjemuran tradisional menjadi kurang efektif dan berisiko menurunkan kualitas panen.
“Ketika kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ terlihat bahwa pengeringan gabah secara manual kurang optimal. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar Malikul, Sabtu (1/2/2026).
Bed dryer ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung merata dan berkelanjutan.
Tidak hanya untuk gabah padi, alat ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lain. “Selain gabah, bed dryer ini dapat dimanfaatkan untuk biji-bijian seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” jelas Malikul.
Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Kombinasi bahan besi dan aluminium menuntut ketelitian tinggi agar hasil pengelasan tetap optimal. “Kami sempat mengalami kesulitan karena perbedaan karakter material, sehingga proses pengerjaan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkapnya.
Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, prototipe tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga kisaran ideal, yakni 12–14 persen.
Ke depan, bed dryer ini dirancang untuk direalisasikan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam, menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius.
Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., menilai inovasi bed dryer merupakan wujud nyata kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi teknik untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
“Karya ini menunjukkan kemampuan mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya.
Ia menilai karya tersebut mencerminkan peran engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Thomy berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan, baik dari sisi efisiensi energi, ergonomi, maupun kesiapan implementasi di lapangan.
“Harapannya, karya ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap digunakan secara luas,” tambahnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


