Advertisement
Pendidikan

Soroti Penurunan Literasi Matematika, Dosen UGM Ungkap Faktor Penyebabnya

Prof Indah menilai penurunan literasi matematika dipengaruhi berbagai faktor, mulai perubahan pola belajar hingga distraksi teknologi.

TIMES Indonesia,
Soroti Penurunan Literasi Matematika, Dosen UGM Ungkap Faktor Penyebabnya
Dosen Matematika Aljabar FMIPA, UGM, Prof. Dr.rer.nat. Indah Emilia Wijayanti (FOTO: mipa.ugm.ac.id)
A-AA+

YOGYAKARTA Kemampuan literasi matematika siswa dan mahasiswa dilaporkan mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Dosen Matematika Aljabar FMIPA, UGM,  Prof Dr.rer.nat. Indah Emilia Wijayanti angkat bicara terkait kondisi ini.

Menurut Prof Indah, kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari perubahan pola belajar hingga distraksi teknologi. Dan sejumlah riset memperkuat temuan tersebut.

Advertisement

Studi University of Eastern Finland yang dipublikasikan dalam British Journal of Educational Psychology pada akhir 2023 menunjukkan minat siswa terhadap matematika cenderung menurun dalam tiga tahun pertama pendidikan dasar.

Sementara itu, hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 mencatat penurunan skor di bidang matematika, literasi, dan sains sejak 2015.

Prof. Indah menyebut tren ini sejalan dengan kondisi di perguruan tinggi. Ia mengamati adanya penurunan kemampuan berpikir matematis pada mahasiswa baru dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

“Mahasiswa baru sekarang secara umum kemampuan berpikir matematisnya tidak sekuat lima hingga sepuluh tahun lalu,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).

Menurutnya, lemahnya fondasi matematika sejak jenjang sekolah dasar hingga menengah menjadi salah satu penyebab utama. Pengurangan materi di tahap awal berdampak berantai hingga ke tingkat pendidikan lebih tinggi.

Advertisement

“Kalau di tingkat dasar materinya berkurang, maka di jenjang berikutnya juga ikut berkurang,” jelasnya.

Selain itu, kemudahan teknologi turut memengaruhi cara belajar siswa. Akses instan terhadap jawaban membuat proses berpikir dan latihan menjadi berkurang. Di sisi lain, gangguan konsentrasi juga semakin tinggi.

“Peran pengajar menjadi penting untuk menghadirkan metode belajar yang menarik agar siswa tetap fokus,” katanya.

Ia menegaskan bahwa latihan rutin menjadi kunci utama dalam meningkatkan kemampuan matematika. Bahkan, mengerjakan soal sederhana secara konsisten dinilai efektif untuk melatih logika dan daya pikir.

“Dengan latihan, kemampuan akan terbentuk dan bisa berkembang sesuai minat masing-masing,” imbuhnya.

Prof Indah juga menyoroti pentingnya peran kurikulum dalam mendukung peningkatan literasi matematika.

Ia berharap sistem pendidikan memberi ruang lebih fleksibel, terutama di perguruan tinggi, agar mahasiswa dapat mengeksplorasi bidang lain tanpa meninggalkan dasar matematika.

Menurutnya, pendekatan pembelajaran juga perlu dikemas lebih menarik agar mudah dipahami. Salah satu strategi yang dilakukan adalah menggabungkan motivasi, teori, dan praktik secara bertahap.

“Mahasiswa perlu diajak memahami konsep, lalu langsung menerapkannya agar lebih mudah diserap,” jelasnya.

Ia menilai peningkatan literasi matematika tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pendidik, keluarga, dan kebijakan pendidikan untuk menciptakan budaya belajar yang kuat. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

A. Tulung
PenulisA. TulungSarjana Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Tahun 2006 dan Magister Manajemen Universitas Teknologi Yogyakarta (2017). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia