Advertisement
Pendidikan

Universitas Harkat Negeri Tegal Diresmikan Jadi Pusat Kajian Perkotaan Pesisir

Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP) diharapkan menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

TIMES Indonesia,
Universitas Harkat Negeri Tegal Diresmikan Jadi Pusat Kajian Perkotaan Pesisir
Rektor UHN Tegal Sudirman Said saat launching PKPP di Universitas Harkat Negeri (Foto: Cahyo Nugroho FOR TIMES Indonesia)
A-AA+

TEGAL Kabupaten Tegal kini mengambil peran baru bukan hanya sebagai kota pesisir terdampak, tetapi juga sebagai ruang percobaan untuk masa depan yang lebih tangguh.

Di banyak kota pesisir Indonesia, laut tidak lagi sekadar batas geografis. Ia perlahan menjadi ancaman yang datang tanpa jeda: merayap melalui banjir rob, mengikis daratan dan mengganggu ritme hidup warga yang telah lama bergantung padanya. 

Advertisement

Dan Kamis, 23 April 2026, menjadi penanda penting ketika Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal bersama Rujak Center for Urban Studies meresmikan Pusat Kajian Perkotaan Pesisir (PKPP). 

Di balik seremoni peluncuran itu, tersimpan gagasan lebih besar untuk menjadikan pengetahuan sebagai alat perubahan langsung bagi kota-kota yang hidup di garis depan krisis iklim.

Ilmu Tak Lagi Sekadar Teori

Rektor UHN Tegal, Sudirman Said, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya menghasilkan teori.

Universitas Harkat Negeri Tegal

“Ilmu harus kembali ke masyarakat, menjawab persoalan nyata,” demikian garis besar pesan yang ia tekankan dalam momentum tersebut. 

Advertisement

PKPP pun dirancang bukan sekadar ruang riset, melainkan laboratorium kebijakan dan aksi yang menyatu dengan kehidupan warga pesisir.

Paradoks Kota Pesisir

Di sisi lain, Direktur Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, melihat kota pesisir sebagai ruang yang sarat paradoks.

Ia menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, pelabuhan aktivitas manusia, sekaligus wilayah yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. 

Di titik inilah PKPP diharapkan menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dan realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

Tegal dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini merepresentasikan banyak kota pesisir sekunder di Indonesia tidak sebesar metropolitan, tetapi justru paling dekat dengan dinamika kerentanan. 

Urbanisasi yang cepat, perubahan tata guna lahan, dan tekanan terhadap ekosistem pantai membuat Tegal menjadi contoh kecil dari persoalan besar yang terjadi di banyak wilayah pesisir Nusantara.

Dalam dua dekade terakhir, wajah kota-kota pesisir berubah cukup drastis. Banjir rob yang dulu hanya muncul sesekali kini menjadi tamu rutin. 

Air laut tidak lagi sekadar naik saat musim tertentu, tetapi mulai perlahan menembus ruang-ruang yang sebelumnya dianggap aman, jalan, permukiman, hingga pusat ekonomi warga. 

Sedangkan di banyak tempat, masyarakat terpaksa beradaptasi dengan kondisi yang terus bergeser, sering kali tanpa kepastian.

Tantangan Pembangunan Wilayah Pesisir

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 8.000 desa pesisir, dengan jutaan penduduk yang menggantungkan hidup pada laut. Lebih dari separuh populasi tinggal di dekat garis pantai. 

Artinya, persoalan pesisir bukan isu pinggiran, melainkan inti dari tantangan pembangunan nasional di masa depan.

PKPP hadir dengan ambisi yang cukup besar: menghubungkan ketahanan ekologis dengan penguatan ekonomi berbasis lokal. 

Pendekatan ini menekankan bahwa solusi tidak bisa hanya bersifat teknis, seperti pembangunan tanggul atau infrastruktur fisik, tetapi juga harus menyentuh aspek sosial dan budaya masyarakat pesisir.

Perwujudan Riset Menjadi Kebijakan

Sementara di bawah arahan urbanis Marco Kusumawijaya, PKPP diarahkan menjadi pusat kajian aksi.

Artinya, hasil penelitian tidak berhenti di laporan akademik, tetapi diterjemahkan menjadi kebijakan yang dapat diuji dan dirasakan langsung dampaknya oleh warga. 

Dari sinilah konsep “pengetahuan yang bekerja” menjadi penting ilmu tidak berdiri di menara gading, tetapi turun ke lapangan.

Lebih jauh, PKPP diharapkan menjadi simpul pertukaran pengetahuan antar kota pesisir. Pengalaman Tegal menghadapi banjir rob, misalnya, bisa menjadi pelajaran bagi kota lain dengan kondisi serupa. 

Sebaliknya, inovasi dari daerah lain juga dapat diadaptasi sesuai konteks lokal. Jaringan pengetahuan ini diharapkan membentuk ekosistem pembelajaran yang lebih luas dan kolaboratif.

Di tengah ancaman iklim yang terus meningkat, kehadiran PKPP membawa pesan sederhana namun ketahanan kota tidak hanya dibangun dari beton dan juga teknologi, 

Tetapi juga dari kolaborasi, pengetahuan, dan keberanian untuk mengubah cara kita memandang pembangunan. 

Dari Tegal, sebuah eksperimen kecil tentang masa depan kota pesisir kini dimulai dengan harapan bahwa ia akan tumbuh menjadi jawaban bagi banyak kota lain di sepanjang garis pantai Indonesia. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Cahyo Nugroho
PenulisCahyo NugrohoSarjana Ilmu Jurnalistik - Ilmu Sosial dan Politik (Kampus Tercinta) Lenteng Agung Jakarta (1989) Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2020 Meliput berbagai topik, Sosial dan budaya dan isu daerah
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia