Advertisement
Pendidikan

Bupati Bondowoso Melihat Potret Sekolah di Pinggiran: Akses Sulit dan Fasilitas Minim

Bupati Bondowoso Abd Hamid Wahid dan Wakilnya As’ad Yahya Syafi'i melihat langsung kondisi wilayah terpencil.

TIMES Indonesia,
Bupati Bondowoso Melihat Potret Sekolah di Pinggiran: Akses Sulit dan Fasilitas Minim
Tampak Bupati Bondowoso Abd Hamid Wahid saat berinteraksi langsung dengan siswa salah satu sekolah yang berada di daerah terpencil (FOTO: Moh Bahri/TIMES Indonesia)
A-AA+

BONDOWOSO Bupati Bondowoso Abd Hamid Wahid dan Wakilnya As’ad Yahya Syafi'i melihat langsung kondisi wilayah terpencil, tepatnya di Desa Banyuwulu Kecamatan Wringin. 

Kunjungan tersebut merupakan rangkaian kegiatan bertajuk ‘Sehari Bersama Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso’, Jumat (24/4/2026) kemarin. 

Advertisement

Salah satu tempat yang dikunjungi bupati adalah SDN Banyuwulu 2 di Kecamatan Wringin. Dalam kesempatan tersebut bupati berinteraksi langsung dengan siswa serta menyerahkan sejumlah bantuan. 

Sekolah yang berada di daerah lereng pegunungan itu, para siswa belum sepenuhnya akrab dengan kemajuan teknologi karena masih bergelut dengan persoalan akses jalan, jaringan internet, hingga keterbatasan fasilitas sekolah.

Selain menghadapi sinyal internet yang lemah, sekolah ini juga memiliki bangunan rusak yang membuat kegiatan belajar mengajar harus dipindahkan ke ruangan lain.

Guru SDN Banyuwulu 2, Fauzan Adima mengungkapkan bahwa kendala jaringan internet sempat mengganggu pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA). 

Dari delapan siswa yang mengikuti ujian tersebut, satu siswa bernama Muhammad Riski terpaksa mengulang karena tidak bisa menyelesaikan soal tepat waktu akibat gangguan sinyal.

Advertisement

“Untuk pelaksanaan ujian kami menggunakan lima laptop milik guru, sementara tiga lainnya meminjam,” ujarnya.

Menurut Fauzan, sekolah sebenarnya telah menyiapkan jaringan wifi untuk mendukung ujian berbasis online. Namun saat pelaksanaan berlangsung, koneksi internet tetap bermasalah.

“Sebelumnya sudah dicoba, tapi saat pelaksanaan justru mengalami gangguan,” katanya.

Tak hanya persoalan jaringan, keterbatasan sarana prasarana juga menjadi tantangan tersendiri. Meski sekolah memiliki ruangan yang direncanakan sebagai laboratorium komputer, hingga kini perangkat pendukung belum tersedia. SDN Banyuwulu 2 juga belum menerima bantuan Chromebook seperti sekolah lain.

“Kalau bantuan Chromebook kami belum dapat. Hanya monitor besar yang saat ini dipakai untuk pembelajaran,” tambahnya.

Akses menuju sekolah pun masih menjadi persoalan bagi para siswa. Untuk sampai ke sekolah, mereka harus melewati jalan berbatu dengan banyak tanjakan. Sebagian besar siswa berjalan kaki setiap hari, sementara lainnya diantar orang tua.

Kepala SDN Banyuwulu 2, Miskali, menjelaskan bahwa salah satu ruang kelas yang mengalami kerusakan seharusnya digunakan oleh siswa kelas VI. 

Karena kondisi bangunan dinilai membahayakan, kegiatan belajar dipindahkan ke ruang laboratorium.

“Pondasi bangunannya bergeser sehingga dinding bagian atas mengalami retak cukup parah,” jelasnya.

Ia juga membenarkan adanya satu siswa yang harus mengulang TKA akibat gangguan jaringan internet saat ujian berlangsung.

“Padahal sebelumnya kekuatan sinyal sudah kami upayakan untuk ditingkatkan. Mungkin memang karena faktor geografis,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Bahri
PenulisMoh BahriSarjana Sosial (S.Sos) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq atau UIN KHAS Jember (2018). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2018 (Tugas di Kabupaten Bondowoso). Meliput berbagai topik: Politik, peristiwa, hukum, ekonomi, budaya, kuliner dan isu-isu lainnya di daerah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia