Kisah Elpanta Tarigan, Wisudawan Tunanetra yang Langsung Diangkat Jadi Pegawai Unesa
Kisah Elpanta Tarigan, wisudawan tunanetra Unesa dengan tinggi 215 cm yang lulus 7 semester. Ia langsung diangkat menjadi pegawai tetap oleh Rektor Unesa.
Surabaya – Momen Wisuda Periode 119 Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghadirkan kisah inspiratif yang menyentuh hati. Elpanta Tarigan, wisudawan Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB), membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih prestasi gemilang.
Pemuda kelahiran 16 Agustus 2001 asal Medan ini menarik perhatian bukan hanya karena kondisi gigantisme yang membuat tinggi badannya mencapai 215 sentimeter, tetapi juga karena ketangguhan mentalnya sebagai seorang tunanetra.
Elpanta menceritakan bahwa kehilangan penglihatan di usia 12 tahun sempat membuatnya terpukul. Namun, dukungan keluarga dan lingkungan menjadi energi utama baginya untuk bangkit.
"Awalnya saya cukup terpukul, tapi berkat dukungan keluarga dan teman-teman, saya bisa bangkit. Saya selalu percaya bahwa apa yang saya alami pasti ada hikmah yang lebih baik ke depannya," ungkap Elpanta, Rabu (29/4/2026).
Perjuangannya merantau dari Medan ke Surabaya tidaklah mudah. Ia mengaku sempat mengalami kendala adaptasi budaya dan komunikasi. Namun, keramahan masyarakat Surabaya dan fasilitas inklusif di Kampus Unesa membuatnya merasa diterima dan didukung sepenuhnya.
Lulus 7 Semester dan Berprestasi di Bidang Olahraga
Meski menyandang disabilitas netra, Elpanta tergolong mahasiswa yang sangat produktif. Ia berhasil menyelesaikan studi S1 hanya dalam waktu tujuh semester dengan IPK memuaskan, yakni 3,68.
Prestasi Elpanta tidak berhenti di meja akademik. Ia juga dikenal sebagai atlet multitalenta. Elpanta tercatat pernah meraih medali cabang olahraga tolak peluru pada Pekan Paralimpik Pelajar Nasional di Solo (2017), juara satu cabor Goalball tingkat provinsi (2019), hingga aktif di berbagai turnamen catur.
Hadiah Istimewa dari Rektor Unesa
Ketangguhan Elpanta membuahkan apresiasi luar biasa dari Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes. Atas prestasinya, Elpanta diberikan dua pilihan istimewa: beasiswa penuh S2 atau menjadi pegawai tetap di Unesa.
"Tarigan ini luar biasa, S1 PLB bisa selesai tujuh semester. Kami beri apresiasi, saya suruh memilih, beasiswa S2 atau jadi pegawai tetap di Unesa. Dia pintar, memilih jadi pegawai tetap," ujar rektor yang akrab disapa Cak Hasan tersebut.
Cak Hasan menjelaskan bahwa dengan menjadi pegawai, Elpanta otomatis akan mendapatkan fasilitas beasiswa S2 hingga S3 di masa mendatang, sesuai kebijakan lembaga yang memprioritaskan peningkatan SDM bagi staf dan dosen.
Meski kini menetap di Surabaya dan bersiap mendalami pendidikan inklusi, Elpanta tetap menyimpan mimpi besar untuk tanah kelahirannya.
"Prinsip saya, kenapa orang lain bisa, saya tidak? Saya ingin mendalami inklusi, bukan hanya soal fasilitas, tapi bagaimana masyarakat menerima teman-teman disabilitas," tegasnya.
"Nanti, setelah sukses dan memiliki pengalaman, saya ingin kembali untuk membangun Medan, mungkin menjadi guru atau dosen di sana," pungkas Elpanta. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


