Advertisement
Pendidikan

Usai Upacara Hardiknas, Atap SDN 1 Kalisongo Dau Malang Ambruk

Atap SDN 1 Kalisongo, Dau, Malang ambruk usai upacara Hardiknas. Plafon jebol, kondisi sudah lama kropos. Sekolah perbaiki swadaya, pengajuan via Dapodik belum digarap.

TIMES Indonesia,
Usai Upacara Hardiknas, Atap SDN 1 Kalisongo Dau Malang Ambruk
Atap bagian belakang SDN 1 Kalisongo Dau Kabupaten Malang yang ambruk pada Sabtu (2/5/2026) seusai sekolah menggelar upacara Hardiknas 2026. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Suasana peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di SDN 1 Kalisongo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, berubah menjadi kekawatiran. Tak lama setelah upacara selesai, sebagian atap bangunan sekolah tiba-tiba ambruk, Sabtu (2/5/2025).

Peristiwa itu terjadi sesaat setelah warga sekolah kembali ke ruang kelas usai mengikuti upacara. Tanpa tanda-tanda cuaca buruk, atap bangunan mendadak runtuh.

Advertisement

Kepala SDN 1 Kalisongo, Toha, menuturkan kejadian berlangsung begitu cepat dan di luar dugaan. “Nah kejadiannya setelah upacara, kami upacara kan selesainya sekitar jam 9,  Setelah kita upacara, kita masuk ke ruangan, tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba jatuh,” ujarnya.

Suara keras dari atap yang roboh sempat membuat panik warga sekolah. Beberapa guru dan siswa mengira terjadi sesuatu yang lebih besar.

“Banyak teman-teman yang takut, dikira apa, ternyata atapnya jatuh,” katanya.

Secara kasat mata, kondisi bangunan sekolah memang tampak masih layak. Dinding dan cat terlihat terawat karena rutin dilakukan pemeliharaan ringan setiap tahun. Namun di balik itu, terdapat kerusakan serius pada bagian struktur atap, khususnya di sisi belakang bangunan.

“Cuman ini ada yang belakang itu memang atapnya ini kropos,” ungkap Toha.

Advertisement

Kondisi tersebut bukan hal baru. Ia mengaku beberapa bagian atap bahkan sudah lama dalam kondisi rawan dan harus disangga menggunakan kayu agar tidak roboh. Dalam beberapa pekan terakhir, insiden serupa juga sempat terjadi.

“Beberapa waktu lalu juga ada atap yang ambrol, mengenai kaca hingga pecah. Terus yang sebelah itu dua pekan sebelumnya, pas hujan itu juga ambrol,” jelasnya.

Tak hanya di ruang tertentu, kondisi memprihatinkan juga terlihat di beberapa ruang kelas. Plafon yang jebol menjadi ancaman tersendiri bagi keselamatan siswa saat kegiatan belajar berlangsung.

Situasi ini membuat sebagian wali murid diliputi kekhawatiran. Mereka mempertanyakan keamanan lingkungan sekolah dan mendesak adanya perbaikan.

“Juga ada beberapa wali murid yang takut dengan kondisi ini. Takut anaknya kejatuhan,” ujarnya.

Pihak sekolah sebenarnya telah berulang kali mengajukan perbaikan melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Setiap tahun, kondisi sarana dan prasarana dilaporkan secara rinci. Namun hingga kini, perbaikan menyeluruh belum terealisasi.

“Pengajuan itu kan kita lewat Dapodik, setiap tahun kita data semua. Tapi memang mungkin masih menunggu antrian,” kata Toha.

Dengan jumlah 55 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, pihak sekolah kini berupaya melakukan langkah darurat secara swadaya. Perbaikan sederhana dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan lebih lanjut, meski dinilai belum menjadi solusi jangka panjang.

“Untuk mengantisipasi ambrol ya kita perbaiki swadaya sebisanya, agar tidak sampai menimpa murid atau guru,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia