Indonesia Perluas Kerja Sama Pendidikan di Asia Tenggara hingga Pasifik
Indonesia memperkuat diplomasi pendidikan di Asia Tenggara dan Pasifik melalui beasiswa Indonesian AID, pembukaan kelas kedokteran bagi mahasiswa Timor Leste, hingga pemetaan sistem pendidikan di Palau.
JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus memperkokoh posisi diplomasinya di kawasan Asia Tenggara hingga Pasifik Barat melalui sektor pendidikan dan riset. Langkah strategis ini diwujudkan lewat perluasan program beasiswa, pelatihan, serta pengembangan kapasitas SDM dengan sejumlah negara sahabat.
Inisiatif tersebut dijalankan secara sinergis oleh Kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Dili dan KBRI Manila. Pemaparan rencana kerja ini disampaikan dalam forum Webinar Series Atdikbud & Wadetap RI-UNESCO yang digelar baru-baru ini.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Dili, Tasrifin Tahara, menjelaskan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Timor Leste saat ini difokuskan pada program-program konkret yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Salah satu proyek mercusuarnya adalah pembukaan kelas khusus di Fakultas Kedokteran bagi mahasiswa asal Timor Leste.
“Salah satu inisiatif utama adalah pembukaan kelas khusus Fakultas Kedokteran bagi mahasiswa Timor Leste serta pengembangan program Vocational Sister School untuk mendukung pembangunan sumber daya manusia negara tersebut,” ujar Tasrifin dalam keterangan tertulis yang diterima pada Minggu (3/5/2026).
Tasrifin mengungkapkan bahwa Indonesia tetap menjadi destinasi utama bagi pelajar asal Timor Leste. Hal ini didukung oleh berbagai skema pembiayaan, mulai dari beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), Indonesian AID, hingga bantuan langsung dari berbagai perguruan tinggi di tanah air.
“Pada 2025, terdapat 350 penerima beasiswa dari Timor Leste yang berkuliah di Indonesia,” tambahnya.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 1.800 warga Timor Leste tengah menempuh studi di berbagai universitas di Indonesia, yang tersebar dari wilayah Aceh hingga Papua. Tasrifin juga menekankan pentingnya pendekatan kultural dalam menjaga hubungan baik antarnegara.
“Sering kali kesuksesan kerja sama internasional ditentukan oleh hubungan personal. Diplomasi di meja makan terkadang lebih efektif daripada pertemuan formal,” tegas Tasrifin.
Ekspansi ke Pasifik Barat
Di sisi lain, Indonesia juga mulai melirik potensi kerja sama di wilayah Pasifik Barat. Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Manila, Nina Yulianti, menyatakan bahwa pihaknya tengah melakukan pemetaan mendalam terhadap sistem pendidikan di Palau dan Kepulauan Marshall.
Melalui program Indonesian AID Scholarship, Indonesia menawarkan kesempatan bagi generasi muda di kedua negara tersebut untuk meningkatkan kapasitas akademik mereka di universitas-universitas terbaik di Indonesia. Selain beasiswa, penjajakan kerja sama juga mencakup pertukaran budaya serta kolaborasi riset dalam pelestarian bahasa Austronesia.
Sinergi antara KBRI Dili dan KBRI Manila ini mencerminkan komitmen kuat Jakarta dalam menjadikan pendidikan sebagai instrumen utama soft diplomacy (diplomasi lunak) di kawasan.
Berdasarkan data UNESCO, meski terdapat sekitar 59.000 pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri pada 2024, posisi Indonesia sebagai negara tujuan studi kini semakin diperhitungkan, terutama bagi negara-negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


