Advertisement
Pendidikan

Wagub Jatim Ungkap “Speak Up” Jadi Kunci bagi Korban Child Bullying

Sebagai pihak yang paling dekat, Emil menekankan orang tua harus tau perilaku perubahan anak. 

TIMES Indonesia,
Wagub Jatim Ungkap “Speak Up” Jadi Kunci bagi Korban Child Bullying
ILUSTRASI: Fenomena child bullying masih marak di Indonesia, Wagub Emil tekankan keberanian speak up oleh korban. (FOTO: Freepik)
A-AA+

MALANG Fenomena bullying (perundungan) di sekolah masih menjadi tantangan tersendiri bagi dunia akademik di Indonesia. Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang dikutip dari Goodstats, terdapat lonjakan signifikan kasus bullying. Pada 2023, JPPI mencatat terdapat 285 kasus, dan pada 2024 melonjak 573 kasus. 

Sementara itu, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap bahwa pada 2023 terdapat 3.800 kasus perundungan dimana hampir separuhnya terjadi di sekolah dan pesantren. Pada 2024 laporan yang masuk sebanyak 2.057 kasus. 

Advertisement

Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menilai bahwa bahwa kasus perundungan (bullying) terhadap anak masih menjadi persoalan serius yang dapat terjadi di berbagai lingkungan, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di rumah hingga lingkungan sosial.

“Child bullying gak hanya terjadi di institusi pendidikan, tetapi juga bisa di lingkungan tetangga atau rumah sendiri,” ujarnya di Malang, Sabtu (2/5/2026).

keberanian speak up oleh korban 2

Menurutnya, praktik bullying kerap luput dari pengawasan karena terjadi di ruang-ruang yang tidak terjangkau, termasuk di luar area sekolah. Oleh karena itu, diperlukan kepekaan dari berbagai pihak, baik guru maupun orang tua, untuk mendeteksi tanda-tanda awal perundungan.

Ia menegaskan bahwa keberanian korban untuk berbicara (speak up) menjadi kunci penting dalam mengungkap kasus perundungan. Namun, upaya tersebut harus diimbangi dengan dukungan berbagai pihak, termasuk peran guru Bimbingan Konseling (BK) dan orang tua dalam melakukan deteksi dini.

Advertisement

“Korban perundungan penting untuk berani speak up, selain itu, kepekaan orang tua dan peran guru BK juga penting dalam melakukan deteksi dini,” tambahnya. 

Menurut Emil, seluruh tenaga pendidik juga harus memiliki kepekaan terhadap gejala perundungan yang dialami anak muridnya. Meskipun seperti hanya melempar ejekan yang melampaui batas. 

Selain itu, orang tua juga harus menjadi mitra strategis dalam mengawal permasalahan ini. Mereka diperlukan untuk mengintervensi cepat tanda-tanda perundungan. Sebagai pihak yang paling dekat, Emil menekankan orang tua harus tau perilaku perubahan anak. 

“Orang tua harus tahu perubahan perilaku anak mereka, harus ada intervensi cepat jika sudah muncul tanda-tanda perundungannya,” pungkasnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia