Inovasi Pendidikan Anak, Program SAE Ceria Majalengka Padukan Animasi dan Wisata Sejarah
Pemkab Majalengka luncurkan program SAE Ceria, perpaduan animasi dan wisata sejarah untuk menumbuhkan literasi anak usia dini secara menyenangkan, kontekstual, dan sarat nilai lokal.
MAJALENGKA – Upaya membangun fondasi literasi sejak usia dini terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Majalengka (Pemkab Majalengka) Jawa Barat, melalui pendekatan yang inovatif dan kontekstual. Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Bunda PAUD Majalengka, Hj. Iim Maemunah Suherman, resmi meluncurkan program SAE Ceria (Storytelling Edukatif untuk Anak melalui Cerita Animasi Majalengka).
Program ini dirancang sebagai terobosan pembelajaran yang memadukan teknologi animasi dengan pengalaman langsung, guna menumbuhkan minat literasi anak secara menyenangkan.
Melalui media cerita rakyat berbasis animasi, anak-anak tidak hanya diajak berimajinasi, tetapi juga dilatih menyimak, memahami alur cerita, hingga memperkaya kosakata sejak dini.
Dalam pelaksanaannya, ratusan anak usia dini diajak berkeliling kota menggunakan mobil Motekar, mengunjungi sejumlah taman sejarah di Majalengka. Perjalanan edukatif tersebut kemudian ditutup dengan pemutaran film animasi di Gedung Yudha Karya, yang menjadi puncak kegiatan literasi hari itu.
Hj. Iim Maemunah menegaskan, pendekatan literasi kontekstual menjadi kunci dalam membangun pemahaman anak. Menurutnya, pembelajaran tidak cukup hanya melalui teori, melainkan perlu diperkuat dengan pengalaman nyata agar lebih membekas.
"Anak-anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga melihat langsung jejak sejarah yang diceritakan. Ini membuat pemahaman mereka lebih kuat dan bermakna," ujarnya, Selasa (5/5/2026)
Ia menambahkan, literasi pada anak usia dini mencakup kemampuan yang lebih luas dari sekadar membaca dan menulis. Kemampuan memahami cerita, berkomunikasi, hingga mengekspresikan gagasan menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang adaptif dan kreatif.
Melalui metode storytelling berbasis animasi, anak-anak dilatih untuk berani menyampaikan kembali apa yang mereka lihat dan dengar. Proses ini dinilai mampu memperkuat daya ingat sekaligus melatih keberanian dalam berkomunikasi.
Lebih jauh, perpaduan antara cerita animasi dan wisata sejarah dinilai sebagai bentuk pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang efektif. Anak-anak menjadi lebih aktif, rasa ingin tahu meningkat, serta kemampuan berpikir kritis mulai berkembang sejak dini.
Bunda PAUD Majalengka juga memberikan apresiasi kepada para guru dan panitia yang dinilai berhasil menghadirkan inovasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya lokal.
"Ketika anak merasa senang, proses belajar akan menjadi lebih mudah. Dari situlah kecintaan terhadap literasi tumbuh secara alami," tambahnya.
Program SAE Ceria diharapkan mampu melahirkan generasi Majalengka yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan literasi yang kuat, berkarakter, serta bangga terhadap sejarah dan budaya daerahnya sebagai bagian dari visi Majalengka Langkung SAE.
Antusiasme juga datang dari para orang tua. Salah satunya, Siti Nurjanah (34), yang mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi anaknya.
Menurutnya, pendekatan interaktif seperti ini membuat anak lebih bersemangat dan mudah memahami materi. Ia pun berharap program serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
"Ini sangat membantu orang tua dalam menumbuhkan minat literasi anak sejak dini, apalagi dikemas dengan cara yang menyenangkan," ujarnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


