SDN 1 Ketanggung Pacitan Bentengi Siswa dari Gempuran Budaya Modern Lewat Karawitan
SDN 1 Ketanggung Pacitan jadikan karawitan sebagai ekskul unggulan untuk melestarikan budaya Jawa, membentuk karakter, dan menanamkan kecintaan seni tradisional pada siswa.
PACITAN – Di tengah derasnya arus musik modern dan digitalisasi, SDN 1 Ketanggung justru memilih menguatkan akar budaya lokal.
Sekolah dasar di Kecamatan Sudimoro itu menjadikan seni karawitan sebagai ekstrakurikuler unggulan yang wajib dikenalkan kepada 124 siswanya sebagai upaya menjaga warisan budaya Jawa tetap hidup di kalangan generasi muda.
Langkah tersebut bukan sekadar aktivitas tambahan selepas jam pelajaran. Bagi pihak sekolah, karawitan adalah benteng budaya yang harus ditanamkan sejak dini agar anak-anak tidak tercerabut dari identitasnya sendiri di tengah masifnya pengaruh budaya populer.
Kepala SDN 1 Ketanggung, Kajud, menegaskan sekolah memiliki tanggung jawab moral untuk membentuk karakter siswa, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga kesadaran budaya.
“Kami ingin 124 siswa kami tidak hanya cerdas di kelas, tapi juga memiliki rasa memiliki terhadap budayanya sendiri. Seni karawitan ini adalah cara kami membentengi mereka. Musik modern silakan dinikmati, tapi karawitan jangan sampai mati di tangan generasi mereka,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Program ini diperkuat lewat kolaborasi dengan Sanggar Turonggo Budoyo. Sekolah menggandeng Saeran sebagai pelatih sekaligus pendamping utama kegiatan.
Saeran yang juga terlibat aktif dalam komite sekolah menilai pembelajaran karawitan bagi anak usia sekolah dasar bukan hanya soal keterampilan memainkan gamelan. Lebih dari itu, terdapat nilai kedisiplinan, kesabaran, dan kekompakan yang tumbuh dari setiap nada yang dimainkan bersama.
“Melatih anak-anak ini adalah investasi masa depan. Di sini kita tidak cuma belajar menabuh gamelan, tapi belajar unggah-ungguh dan kekompakan. Karawitan adalah seni harmoni. Harapan saya, lewat ekskul ini, seni budaya kita yang mulai terkikis budaya modern bisa tetap tegak berdiri,” katanya.
Setiap pekan, denting saron dan bunyi bonang terdengar dari sudut sekolah saat para siswa berlatih. Dengan perangkat gamelan yang memadai, mereka diajarkan mulai dari teknik dasar hingga membawakan gending-gending daerah secara berkelompok.
Antusiasme siswa disebut terus meningkat. Banyak di antara mereka yang awalnya hanya sekadar mencoba, kini mulai menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap seni tradisional tersebut.
Melalui program ini, SDN 1 Ketanggung membuktikan sekolah negeri di wilayah pinggiran pun mampu menjadi pusat pelestarian budaya.
Sinergi antara manajemen sekolah dan pembinaan sanggar diharapkan melahirkan generasi muda yang tak hanya melek teknologi, tetapi juga kokoh menjaga nyala kebudayaan lokal Pacitan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


