Advertisement
Pendidikan

Mahir Mendongeng, Didik Wiyono Jadi Guru Idola Siswa SDN 1 Dersono Pacitan

Didik Wiyono, guru inspiratif asal Pacitan, membuktikan kegagalan bukan akhir. Tujuh kali gagal CPNS, ia tetap mengabdi hingga jadi guru idola di SDN 1 Dersono lewat ketulusan dan dongengnya.

TIMES Indonesia,
Mahir Mendongeng, Didik Wiyono Jadi Guru Idola Siswa SDN 1 Dersono Pacitan
Guru SDN 1 Dersono Didik Wiyono mendampingi para siswa melalui sesi mendongeng di kelas, Jumat (8/5/2026). Cara mengajar yang komunikatif membuatnya dikenal dekat dengan murid. (Foto: WN Artayudha for TIMES Indonesia)
A-AA+

PACITAN Sosok Didik Wiyono dikenal sebagai guru yang punya tempat khusus di hati siswa-siswi SDN 1 Dersono, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. 

Cara mengajarnya yang luwes, sabar, dan piawai mendongeng membuat suasana kelas hidup. 

Advertisement

Di balik itu, ada perjalanan panjang penuh kegagalan yang menempa dirinya hingga menjadi salah satu guru idola di sekolah tersebut.

Selama bertahun-tahun, Didik harus melewati jalan terjal sebelum akhirnya menemukan pijakan yang pas di dunia pendidikan. 

Tujuh kali gagal dalam seleksi CPNS tak membuatnya menyerah. Ia justru terus bertahan menjadi guru honorer dengan segala keterbatasan.

“Waktu itu ikut-ikutan saja, banyak teman yang menyarankan ke sana karena memang jurusannya lagi tren,” kenangnya, Jumat (8/5/2026).

Pilihan mengambil jurusan Matematika saat kuliah pada 2008 menjadi titik awal lika-liku perjalanan kariernya. 

Advertisement

Saat itu, ia mengaku sekadar mengikuti arus pertemanan atau istilah Jawanya grubyuk sapen.

Namun selepas kuliah, Didik baru menyadari persaingan formasi guru matematika sangat ketat. 

Dalam satu formasi CPNS, ia harus bersaing dengan ratusan pelamar. Berkali-kali mencoba di berbagai daerah, mulai Wonogiri hingga Trenggalek, hasilnya selalu gagal.

Didik Wiyono

Alih-alih berhenti, Didik memilih tetap mengajar sebagai honorer. Selama 17 tahun, ia menempuh perjalanan sekitar 25 kilometer setiap hari untuk sampai ke sekolah. Honor yang diterima pun jauh dari cukup, hanya Rp250 ribu per bulan.

“Saya ingin mengangkat derajat keluarga melalui pendidikan. Saya adalah satu-satunya dari lima bersaudara yang bisa mencicipi bangku kuliah, meskipun orang tua saya hanya buruh tani,” ungkapnya.

Titik balik datang pada 2021. Merasa ada yang tidak selaras antara ijazah dan kebutuhan formasi, Didik memberanikan diri mencari kepastian dengan menghubungi Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemdikbudristek secara langsung melalui WhatsApp.

Langkah itu membuka jalan baru. Ia akhirnya bisa mengikuti seleksi PPPK melalui formasi PGSD. Pada saat yang sama, ia mengambil kuliah linear di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Kini, Didik tengah menuntaskan studi Magister Pendidikan Dasar di Universitas PGRI Madiun.

Di lingkungan sekolah, Didik punya pendekatan mengajar yang berbeda. Ia dikenal mahir mendongeng. Metode itu membuat siswa mudah memahami materi sekaligus betah berada di kelas.

Baginya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan membangun kedekatan emosional dengan siswa.

Ia berusaha mengenal karakter setiap anak secara personal, berkomunikasi dengan sabar, serta memposisikan diri tak hanya sebagai guru, tetapi juga kakak sekaligus orang tua di sekolah.

Dedikasinya juga tampak di luar sekolah formal. Sejak 2008, Didik menjadi pelopor berdirinya PKBM Sasono Mulyo. 

Di bawah kepemimpinannya sejak 2014, lembaga itu menorehkan prestasi tingkat provinsi.

Pada 2018, ia meraih juara 3 lomba karya nyata pengelola PKBM tingkat provinsi. Setahun berselang, prestasinya meningkat menjadi juara 2.

Kini, Didik memendam mimpi lebih besar: menjadi dosen.

Ia ingin membekali calon-calon guru dengan semangat pengabdian yang selama ini ia pegang teguh.

Perjalanan Didik Wiyono menjadi bukti bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya.

Dari anak buruh tani yang berkali-kali gagal tes CPNS, ia menjelma menjadi pendidik inspiratif yang menerangi masa depan anak-anak Pacitan lewat cerita, kesabaran, dan ketulusan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia