Marsma TNI dr Mukti Arja Berlian Tawarkan Respectful Engagement Sebagai Solusi Manajemen SDM Kesehatan
Di tengah momen kebahagiaan meraih gelar Doktor Ekonomi di Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Sabtu (9/5/2026), Marsma TNI dr. Mukti Arja Berlian, Sp.PD., Sp.KP., M.M., FINASIM, memberikan catatan kritis sekaligus solusi atas fenomena memilukan di
JAKARTA – Di tengah momen kebahagiaan meraih gelar Doktor Ekonomi di Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Sabtu (9/5/2026), Marsma TNI dr. Mukti Arja Berlian, Sp.PD., Sp.KP., M.M., FINASIM, memberikan catatan kritis sekaligus solusi atas fenomena memilukan di dunia kedokteran tanah air.
Sebagai seorang praktisi medis sekaligus birokrat di Kemhan, dr. Mukti menyoroti kasus gugurnya para dokter muda saat menjalani program internship. Masalah ini, menurutnya, bukan sekadar isu teknis medis, melainkan persoalan mendasar dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (SDM) dan Ilmu Ekonomi terkait efisiensi serta kesejahteraan kerja.
Solusi di Tengah Tragedi: Pola 'Respectful

Engagement'Menanggapi isu meninggalnya dokter internship belakangan ini, dr. Mukti menegaskan bahwa rumah sakit perlu segera mengevaluasi pola interaksi dan beban kerja melalui pendekatan Respectful Engagement.
"Kita mendengar kabar duka tentang rekan-rekan dokter muda yang meninggal saat internship. Ini adalah alarm keras bagi manajemen SDM rumah sakit. Di sinilah pentingnya ilmu ekonomi manajemen diterapkan; bukan hanya bicara profit, tapi bagaimana mengelola modal manusia (human capital) agar tetap sehat secara fisik dan psikologis," ujar jenderal bintang satu tersebut.
Ia menjelaskan bahwa pola Respectful Engagement—yang menjadi inti disertasinya—adalah solusi nyata. Pola ini mengatur bagaimana komunikasi dua arah, dukungan interpersonal, dan penghargaan terhadap martabat individu dilakukan di lingkungan kerja yang bertekanan tinggi.
"Jika pola Respectful Engagement ini diterapkan, manajemen akan lebih peka terhadap kondisi kelelahan staf. Ada rasa saling menjaga (care) antar senior dan yunior, serta sistem yang memberikan dukungan afirmatif, bukan sekadar perintah hirarki yang kaku. Ini bisa mencegah burnout yang berujung fatal," tambahnya dengan nada serius.
Dukungan Tokoh dan Harapan Besar

Pandangan visioner ini mendapat apresiasi dari Walikota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat dan Waketum GM FKPPI, Ir. R. Agoes Soerjanto, MT, yang hadir di lokasi.
Mereka sepakat bahwa pemikiran lintas ilmu antara medis dan ekonomi manajemen yang dibawa dr. Mukti adalah terobosan yang dibutuhkan untuk membenahi sistem kesehatan nasional.
"Kami sangat bangga atas gelar doktor yang diraih dokter sekaligus jenderal kita, Mukti Arja Berlian. Beliau adalah sosok dengan dedikasi tinggi untuk NKRI. Selain sebagai dokter dan tentara, beliau sangat aktif di berbagai aktivitas kepemudaan dan memiliki kreativitas yang membanggakan," ujar Agoes Soerjanto di sela acara.
Brigjen TNI (Purn.) Adam Suwarno Pangeran, selaku Ketua Umum YPTM Malang, menyebut dr. Mukti sebagai contoh nyata intelektual militer yang solutif terhadap masalah bangsa.
Kesimpulan Akademik: Manajemen yang Memanusiakan
Dengan lulusnya dr. Mukti sebagai Doktor Manajemen, ia membawa misi besar: membawa pola "interaksi yang menghormati" ke dalam kebijakan kesehatan pertahanan dan umum. Di usia 56 tahun, sang jenderal peniup saxophone ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan adalah senjata paling ampuh untuk memperbaiki sistem dan menyelamatkan lebih banyak nyawa tenaga medis di masa depan.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


