Tekankan Respectful Engagement, Marsma TNI dr. Mukti Dorong Lingkungan Kerja Lebih Humanis
Fenomena meninggalnya dokter internship menjadi sorotan dalam sidang disertasi Doktor Ilmu Ekonomi, Marsma TNI dr. Mukti Arja Berlian, Sp.PD., Sp.KP., M.M., FINASIM di Universitas Merdeka (Unmer) Malang

MALANG – Fenomena meninggalnya dokter internship menjadi sorotan dalam sidang disertasi Doktor Ilmu Ekonomi, Marsma TNI dr. Mukti Arja Berlian, Sp.PD., Sp.KP., M.M., FINASIM di Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Sabtu (9/5/2026). Dr. dr. Mukti menilai persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan teknis medis, tetapi juga manajemen sumber daya manusia (SDM) di lingkungan rumah sakit.
Dalam disertasinya yang bertajuk "Pengaruh Kepuasan Kerja dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Respectful Engagement Pada RSAU Tipe A di Indonesia", Dr. Mukti menawarkan konsep respectful engagement, yaitu perilaku yang menekankan komunikasi positif, dukungan interpersonal, serta penghargaan terhadap martabat individu dalam organisasi.
Konsep ini sebagai pendekatan untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat, suportif, dan humanis di sektor pelayanan kesehatan yang dapat meningkatkan koordinasi, kepercayaan, dan kolaborasi. Konsep ini menekankan pada rasa hormat dalam organisasi melalui kehadiran, ketulusan, komunikasi afirmatif, mendengarkan aktif, dan komunikasi suportif.

“Respectful engagement, komunikasi afirmatif menjadi indikator yang paling kuat dalam membentuk interaksi kerja yang saling menghormati,” tulisnya.
Dalam penelitiannya yang dilakukan di Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) Tipe A di Indonesia, ia mengkaji mengenai pengaruh kepuasan kerja dan budaya organisasi terhadap kinerja karyawan dengan mediasi respectful engagement.
Ia berdasar pada Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Kep/131/IV/2019 yang meliputi asuhan pasien, profesionalisme, keterampilan hubungan interpersonal, pembelajaran berbasis praktik, serta praktik berbasis sistem.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan kerja, terutama terkait sistem penggajian, serta budaya kerja yang menekankan ketelitian dan profesionalisme berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kinerja karyawan. Selain itu, komunikasi afirmatif menjadi indikator paling dominan dalam membentuk respectful engagement di lingkungan kerja rumah sakit.
Pada budaya organisasi, indikator yang paling dominan adalah perhatian terhadap detail, yang menunjukkan pentingnya ketelitian dan kecermatan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien.

Menurutnya, rumah sakit perlu menerapkan pola interaksi kerja yang menekankan ketelitian, profesionalisme, serta kerja sama tim dalam memberikan pelayanan kesehatan. Selain itu, komunikasi positif dan dukungan interpersonal juga menjadi hal krusial. Baginya, pelayanan kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi teknis, tetapi juga membutuhkan lingkungan kerja yang sehat secara psikologis.
Melalui gagasan ini, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat turut memberikan apresiasinya. Ia menjelaskan bahwa ini bisa menjadi evaluasi bagi pengembangan Rumah Sakit yang ada di Indonesia.
“Ini penelitiannya menarik dan bisa menjadi pelajaran bagi rumah sakit lainnya yang tentunya akan membawa manfaat,” ujarnya saat ditemui usai acara.
Wahyu Hidayat juga mengucapkan selamat atas gelar baru yang disandang oleh Dr. Mukti. Ia pun berharap dengan ilmu tersebut dapat memberikan kebermanfaatan tidak hanya bagi dr. Mukti, tetapi juga masyarakat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


