Advertisement
Pendidikan

Menteri PPPA dan Mendiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Jadi Ruang Aman Bebas Kekerasan

Menteri PPPA Arifah Choiri Fauzi tekankan kampus sebagai laboratorium peradaban dan garda depan cegah kekerasan. Perguruan tinggi diminta wujudkan budaya aman bagi perempuan, anak, dan seluruh civitas.

TIMES Indonesia,
Menteri PPPA dan Mendiktisaintek Dorong Perguruan Tinggi Jadi Ruang Aman Bebas Kekerasan
Diskusi panel Menteri PPPA Arifah (kiri) dan Mendiktisaintek Brian (tengah) di Unesa. (FOTO: Humas Unesa for TIMES Indonesia)
A-AA+

SURABAYA Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun generasi muda Indonesia yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing. 

Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi panel Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Menurutnya, kampus bukan sekadar ruang transfer ilmu pengetahuan, melainkan laboratorium peradaban yang membentuk karakter pemimpin masa depan.

Advertisement

“Selain sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, kampus merupakan laboratorium peradaban yang mempersiapkan pemimpin masa depan dengan empati, integritas, dan penghormatan terhadap sesama,” ujarnya, Sabtu (9/5/2026). 

Peradaban, katanya, tidak melulu diukur dari kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, maupun prestasi akademik, tetapi ikut dinilai dari kemampuan sebuah bangsa dalam melindungi kelompok rentan, terutama perempuan dan anak.

Arifah juga memaparkan tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak berdasarkan data nasional. Hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menunjukkan satu dari empat perempuan usia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual sepanjang hidupnya.

Sementara itu, Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 mencatat satu dari dua anak usia 13–17 tahun pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan, baik fisik, emosional, maupun seksual.

"Kondisi tersebut menuntut komitmen nyata seluruh civitas academica untuk membangun budaya kampus yang menghormati harkat dan martabat manusia, menjunjung nilai kemanusiaan, kesetaraan, serta menolak segala bentuk kekerasan," tegasnya. 

Advertisement

Dalam kesempatan yang sama, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menambahkan bahwa kasus kekerasan di lingkungan perguruan tinggi harus terus menjadi perhatian seluruh civitas academica. 

"Meski satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual telah dibentuk di berbagai kampus, penguatan sosialisasi tetap harus dilakukan secara berkelanjutan," ungkapnya. 

Brian menegaskan bahwa dampak kekerasan tidak selalu hanya dirasakan oleh korban, tetapi keluarga dan lingkungan sekitar. Karena itu, persoalan tersebut harus dipandang sebagai tanggung jawab bersama seluruh elemen kampus.

“Kampus adalah pusat pengetahuan, peradaban, dan kemajuan bangsa. Karena itu, kondisi di dalam kampus, termasuk persoalan kekerasan, harus mendapat perhatian serius agar kampus tetap menjadi ruang aman sekaligus mitra strategis negara dan pemerintah,” tuturnya.

Ia juga menghimbau para pimpinan perguruan tinggi untuk terus mengingatkan dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan melalui berbagai panduan, serta informasi yang ditempatkan di titik-titik strategis. 

"Agar setiap warga kampus merasa terlindungi dan memiliki akses mudah untuk melapor apabila terjadi kekerasan," pungkasnya. (*) 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Siti Nur Faizah
PenulisSiti Nur FaizahSarjana Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. Jurnalis TIMES Indonesia di Surabaya sejak 2021. Aktif menulis di Pemerintahan, Politik, Hukum, Pendidikan, Seni, Budaya dan Isu Nasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia