IAI Attarmasi Pacitan Perkuat Penjaminan Mutu Jelang Akreditasi
IAI Attarmasi Pacitan menggelar rapat koordinasi Monev untuk mematangkan persiapan akreditasi prodi dan evaluasi mutu akademik tahun 2025/2026.
PACITAN – Institut Agama Islam Attarmasi Pacitan mulai mematangkan persiapan akreditasi melalui rapat koordinasi Monitoring dan Evaluasi (Monev) Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu (9/5/2026).
Rapat yang digelar oleh Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Agama Islam Attarmasi Pacitan itu membahas capaian akademik sekaligus evaluasi sejumlah aspek kelembagaan, mulai dari kelengkapan dokumen pembelajaran, penelitian dosen, hingga kesiapan akreditasi program studi.
Audit Mutu Internal (AMI) perdana dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026 sebagai bagian dari implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Wakil Rektor Pelaksana Harian, Dr Ali Mufron, mengatakan budaya mutu harus menjadi perhatian seluruh civitas akademika.
“Peningkatan mutu tidak cukup berhenti pada administrasi. Harus ada perbaikan nyata dalam proses pembelajaran dan layanan akademik,” ujarnya, Minggu (10/5/2026).
Ia juga menegaskan tidak boleh ada praktik kelas kosong.
“Jika dosen berhalangan hadir, wajib dilakukan penjadwalan ulang. Hak akademik mahasiswa harus tetap terpenuhi,” katanya.

Sementara itu, Ketua LPM, Okta Maya Fitri, menyampaikan sejumlah capaian positif institusi. Saat ini, kampus memiliki tiga fakultas dengan lima program studi aktif, 114 mahasiswa aktif, serta 32 dosen tetap.
“Rata-rata IPK institusi berada di angka 3,27. Ini sudah melampaui standar minimal internal sebesar 3,00,” jelasnya.
Selain itu, 93 persen mahasiswa tercatat memiliki IPK di atas 3,00. Tingkat kehadiran dosen mencapai 100 persen, sementara implementasi Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berada di angka 98 persen. Meski demikian, hasil evaluasi masih menemukan sejumlah catatan.
Masih ada satu mata kuliah di Program Studi Manajemen Bisnis Syariah yang belum memiliki RPS. Lebih dari 50 persen dokumen RPS juga belum tervalidasi secara administratif.
“Kami juga menemukan beberapa ketidaksesuaian antara RPS dengan soal UTS dan UAS yang harus segera diperbaiki,” ujar Okta.
Di sektor layanan akademik, indeks kepuasan mahasiswa tercatat 4,48 dari skala 5. Namun partisipasi mahasiswa dalam survei kepuasan baru mencapai 75 persen, masih di bawah target institusi sebesar 80 persen. Persiapan akreditasi menjadi fokus utama rapat tersebut.
Seluruh program studi saat ini belum memiliki akreditasi formal BAN-PT maupun LAM. Karena itu, kampus segera membentuk kelompok kerja akreditasi di masing-masing program studi.
“Penyusunan Laporan Evaluasi Diri dan borang akreditasi harus segera dipercepat,” katanya.
Selain akreditasi, hanya Prodi MBS yang belum memiliki penelitian maupun publikasi ilmiah.
Belum adanya Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) terdaftar juga masuk dalam evaluasi. Sebagai tindak lanjut, kampus akan menggelar workshop penulisan artikel ilmiah, pendampingan submit jurnal, serta fasilitasi pendaftaran HAKI.
“Target kami bukan hanya akreditasi, tetapi membangun budaya mutu yang berkelanjutan,” pungkas Okta. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


