Advertisement
Pendidikan

Tembus 91,46 Persen, Lulusan SMK Jawa Timur Sukses Jalankan Program BMW

Lulusan SMK Jawa Timur mencatatkan serapan 91,46 persen melalui program BMW (Bekerja, Melanjutkan, Wirausaha). Gubernur Khofifah tegaskan keberhasilan link and match dengan industri.

TIMES Indonesia,
Tembus 91,46 Persen, Lulusan SMK Jawa Timur Sukses Jalankan Program BMW
Lulusan SMK di Jatim jalankan program bekerja, melanjutkan, dan wirausaha dengan peningkatan serapan mencapai 91,46 persen. Gubernur Khofifah juga mendorong sertifikasi keahlian. (Foto: Dok.Humas Pemprov Jatim)
A-AA+

Surabaya Tingkat serapan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jawa Timur terus menunjukkan tren positif melalui program BMW (Bekerja, Melanjutkan, dan Wirausaha). Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sebanyak 91,46 persen lulusan SMK di Jawa Timur telah terserap dalam program tersebut.

Dari total 221.174 lulusan SMK di Bumi Majapahit, tercatat 195.429 lulusan telah berpartisipasi aktif. Rinciannya, sebanyak 55,83 persen lulusan memilih bekerja, 20,79 persen berwirausaha, dan 14,84 persen melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Advertisement

Sementara itu, 7,05 persen lainnya menjalani aktivitas pengembangan diri seperti pelatihan, kursus, hingga persiapan studi lanjutan. Adapun angka pengangguran lulusan SMK tercatat sangat rendah, yakni hanya 1,49 persen.

Lulusan SMK di Jatim

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengungkapkan rasa bangganya terhadap capaian ini. Menurutnya, hasil ini membuktikan bahwa kualitas lulusan SMK Jawa Timur semakin kompetitif dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.

“Alhamdulillah, capaian ini menunjukkan bahwa keterserapan lulusan SMK Jawa Timur terus meningkat. Ini menjadi indikator bahwa penguatan link and match antara sekolah dengan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI) berjalan semakin efektif,” ujar Gubernur Khofifah di Surabaya, Senin (11/5/2026).

Selain serapan yang tinggi, tingkat keselarasan pekerjaan lulusan SMK Jatim dengan bidang keahliannya mencapai 69,43 persen, dengan rata-rata masa tunggu kerja hanya 3,38 bulan. Khofifah menilai, penyelarasan kurikulum dan kompetensi dengan kebutuhan industri terus diperkuat Pemprov Jatim, terutama dalam menghadapi disrupsi industri 4.0.

Advertisement

“Sektor industri saat ini bergeser ke rekrutmen berbasis skill atau kemampuan nyata, bukan sekadar ijazah. Memperbanyak latihan dan sertifikasi akan membantu siswa masuk ke DUDI dengan persaingan yang cukup ketat,” tambahnya.

Optimalisasi Teaching Factory dan Magang Luar Negeri

Pemprov Jatim juga terus mendorong penguatan Teaching Factory (TeFa) di 298 SMK Negeri dan 1.860 SMK Swasta. Keberadaan TeFa dinilai penting untuk membentuk budaya kerja industri, mulai dari standar mutu, disiplin, hingga ritme kerja di lingkungan sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, menambahkan bahwa berbagai program strategis terus digulirkan agar lulusan SMK tidak menjadi penyumbang angka pengangguran. Salah satu langkah terbarunya adalah mendorong siswa mengikuti program magang kerja ke luar negeri.

“Sebanyak 3.186 siswa kelas 12 dan 13 diusulkan mengikuti program magang kerja luar negeri dari Kemendikdasmen. Selain itu, terdapat 1.734 lulusan SMK Jatim yang siap diberangkatkan sebagai pekerja migran profesional,” jelas Aries.

Data Serapan Per Bidang Keahlian

Berdasarkan Kurikulum 2013, serapan kerja tertinggi berasal dari bidang Energi dan Pertambangan (69,99 persen). Sedangkan untuk jalur wirausaha didominasi oleh bidang Agribisnis dan Agroteknologi (30,22 persen). Untuk lulusan yang melanjutkan studi, bidang Kesehatan dan Pekerjaan Sosial menjadi yang terbanyak (41,64 persen).

Lulusan SMK Jawa Timur Sukses Jalankan Program BMW

Sementara pada Kurikulum Merdeka, sektor Kemaritiman memimpin serapan kerja sebesar 65,35 persen. Sektor Agribisnis dan Agriteknologi tetap mendominasi kategori wirausaha (32,50 persen), dan bidang Teknologi Konstruksi serta Properti menjadi yang tertinggi untuk kategori lulusan yang melanjutkan pendidikan (31,59 persen).

Di sisi lain, Dinas Pendidikan Jatim juga mencatat beberapa bidang dengan tingkat pengangguran yang masih menjadi tantangan, seperti Produksi Film (48,89 persen) dan Teknik Pemboran Minyak dan Gas (11,76 persen). Hal ini akan menjadi bahan evaluasi untuk penguatan kompetensi di masa mendatang. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Lely Yuana
PenulisLely YuanaPernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (AWS). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 8 September 2017. Meliput berbagai topik, termasuk politik, birokrasi, hukum, gaya hidup, seni dan budaya, serta isu sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia