Advertisement
Pendidikan

UNUSIDA Hadirkan Guru Besar Malaysia, Ajak Mahasiswa Berani Bermimpi dan Siap Hadapi Era AI

Prof. Shukor Sanim menjelaskan, AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang memengaruhi berbagai sektor, mulai pendidikan, kesehatan, perbankan, pertanian, hingga pemerintahan.

TIMES Indonesia,
UNUSIDA Hadirkan Guru Besar Malaysia, Ajak Mahasiswa Berani Bermimpi dan Siap Hadapi Era AI
Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar International Guest Lecture bersama akademisi asal Malaysia, Assoc. Prof. Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM). (FOTO: dok Unusida)
A-AA+

SIDOARJO Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar International Guest Lecture dengan menghadirkan akademisi asal Malaysia, Assoc. Prof. Ts. Dr. Shukor Sanim Mohd Fauzi dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), di Auditorium Lantai 5 Gedung A UNUSIDA.

Kegiatan bertema “AI and the Future of Civilization: Pedagogical Reconstruction, Economic Acceleration, and Contemporary Ethical Matrices in the ASEAN Context” itu diikuti mahasiswa, dosen, dan civitas akademika UNUSIDA. Forum tersebut menjadi ruang diskusi mengenai perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan pengaruhnya terhadap masa depan peradaban manusia, khususnya di kawasan ASEAN.

Advertisement

Mewakili Rektor UNUSIDA, Ketua PCNU Sidoarjo, KH Zainal Abidin, mengajak mahasiswa memiliki mimpi besar dan semangat belajar yang tidak pernah padam. Menurutnya, kemajuan bangsa hanya dapat diraih oleh generasi yang terus haus ilmu pengetahuan dan berani melampaui batas.

“Jangan pernah bangga dengan kebodohan. Kalau kita tidak ingin tertinggal oleh negara lain, kampus lain, atau kelompok lain, maka satu-satunya cara adalah terus belajar, terus ingin tahu, dan terus mengejar cita-cita setinggi langit,” katanya, jumat 5/6/2026).

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo 2

Ia menilai salah satu tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah rasa malas yang muncul karena lingkungan yang relatif nyaman. Padahal, kata dia, kemalasan dapat menjadi penghambat kemajuan umat dan bangsa.

“Allah memberikan negeri yang nyaman kepada kita. Namun jangan sampai kenyamanan itu melahirkan kemalasan. Kalau rasa malas dibiarkan, kita akan tertinggal dari kelompok-kelompok lain yang terus bergerak dan berkembang,” jelasnya.

Advertisement

Zainal berharap mahasiswa UNUSIDA mampu menjadi generasi unggul yang kelak memimpin berbagai sektor strategis, mulai dari pendidikan, pemerintahan, hingga pembangunan masyarakat.

“Jika hari ini kalian memiliki semangat belajar yang luar biasa dan mampu menghilangkan rasa malas, maka kalian pantas menjadi pemimpin Nahdlatul Ulama, memimpin Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur, bahkan Indonesia di masa depan,” tuturnya.

Dalam kuliah tamu tersebut, Prof. Shukor Sanim menjelaskan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang memengaruhi berbagai sektor, mulai pendidikan, kesehatan, perbankan, pertanian, hingga pemerintahan

Menurutnya, dunia saat ini tengah memasuki fase perubahan peradaban yang besar. Jika revolusi industri mengubah cara manusia bekerja secara fisik, maka AI mengubah cara manusia berpikir, mengambil keputusan, dan menciptakan inovasi.

“AI is no longer science fiction. The future is not about replacing humans with AI, but empowering humans with AI,” ujarnya.

Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo 3

Ia menekankan pentingnya rekonstruksi sistem pendidikan di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Di era AI, dosen tidak lagi berperan semata sebagai penyedia informasi, melainkan menjadi pembimbing yang menanamkan kebijaksanaan, etika, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis.

Prof. Shukor menjelaskan, AI kini mampu melakukan sintesis penelitian dalam hitungan detik, menghasilkan kode program secara otomatis, menerjemahkan bahasa secara instan, hingga membantu penyusunan berbagai konten akademik. Karena itu, perguruan tinggi dituntut bertransformasi menjadi pusat pengembangan kapasitas manusia (human capability development).

Selain sektor pendidikan, AI juga dinilai memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital ASEAN. Berdasarkan berbagai proyeksi ekonomi kawasan, nilai ekonomi digital ASEAN diperkirakan dapat mencapai 1 triliun dollar AS pada 2030.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa negara-negara ASEAN tidak boleh hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu menjadi pencipta inovasi AI yang berdaya saing global.

Di sisi lain, perkembangan AI juga menghadirkan berbagai tantangan etis, mulai dari penyebaran hoaks, deepfake, plagiarisme, hingga munculnya sitasi palsu dan ketergantungan berlebihan terhadap teknologi. Karena itu, pendidikan etika digital dan tata kelola AI menjadi kebutuhan mendesak bagi perguruan tinggi.

Menurut Prof. Shukor, keberagaman budaya, bahasa, dan agama yang dimiliki ASEAN harus menjadi fondasi dalam pengembangan teknologi yang tetap menjunjung nilai kemanusiaan, privasi, harmoni sosial, dan inklusivitas.

“Teknologi hanyalah alat. Masa depan peradaban yang lebih baik hanya dapat terwujud apabila manusia mampu mengarahkan teknologi dengan kebijaksanaan, kepemimpinan, dan nilai-nilai etika yang kuat,” katanya.
Ia pun mendorong mahasiswa UNUSIDA untuk memperluas wawasan global, memahami tantangan revolusi kecerdasan buatan, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang adaptif, inovatif, dan kompetitif di tingkat internasional.

“Mahasiswa UNUSIDA harus memperluas perspektif global, memahami tantangan revolusi kecerdasan buatan, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing di tingkat internasional. Terima kasih atas sambutan dan antusiasnya, semoga bisa berjumpa di lain waktu,” ucapnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rudi Mulya
PenulisRudi MulyaSarjana Ilmu Sosial (S.Sos) Universitas Dr. Soetomo, Surabaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2016. Fotografer dan Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, Pemerintahan, Pendidikan, Seni, Budaya dan Isu Nasional
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia