Advertisement
Pendidikan

Atasi Permasalahan Nelayan, Guru Besar UB Malang Kenalkan Teknologi MarineScape

Perubahan iklim secara global menjadi ancaman serius bagi sumber daya alam di laut karena akan memengaruhi suhu permukaan laut. Hal ini akan menimbulkan dampak distribusi atau migrasi zona potensi penangkapan ikan (ZPPI) secara umum.

TIMES Indonesia,
Atasi Permasalahan Nelayan, Guru Besar UB Malang Kenalkan Teknologi MarineScape
Prof. Bambang Semedi kenalkan teknologi MarineScape dalam mengatasi permasalahan nelayan dalam mencari ikan. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Perubahan iklim secara global menjadi ancaman serius bagi sumber daya alam di laut karena akan memengaruhi suhu permukaan laut. Hal ini akan menimbulkan dampak distribusi atau migrasi zona potensi penangkapan ikan (ZPPI) secara umum. Dalam hal ini, bagi nelayan, mereka akan bingung dan mengeluarkan tenaga lebih banyak lagi dalam mencari lokasi dengan potensi ikan berada. 

Menjawab tantangan tersebut, Guru Besar Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Ir. Bambang Semedi, M.Sc., Ph.D mengenalkan MarineScape (Marine Intelligent System for Spatio-temporal Catch Prediction), yaitu teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dengan memanfaatkan data satelit untuk memprediksi daerah potensi penangkapan ikan secara presisi, adaptif, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian kondisi lautan. 

Advertisement

“Nelayan kita banyak yang mengeluhkan hasil tangkapan turun karena perubahan iklim ini, maka dari itu saya coba menggabungkan data satelit dengan teknologi untuk bisa menemukan daerah dengan potensi ikan,” ujarnya dalam Konferensi Pers Pengukuhan Guru Besar UB, Senin (8/6/2026). 

Ia menjelaskan bahwa nelayan Indonesia banyak yang masih menggunakan metode konvensional, yaitu menangkap ikan berdasarkan pengalaman empiris turun temurun. Hal tersebut yang membuat tangkapan nelayan tidak pasti karena harus bertabrakan dengan kondisi iklim yang tidak menentu.

Menurutnya, permasalahan lainnya adalah nelayan tidak bisa memprediksi secara pasti dimana daerah yang memiliki potensi ikan. Sehingga, mereka mengeluarkan banyak tenaga untuk mencari daerah tersebut. Hal tersebut akan berdampak pada pemborosan energi, solar, hingga waktu.  

“Tidak heran bahwa permasalahan nelayan kita adalah sulit untuk mencari dimana ikan itu berada, dampaknya dia akan mengeluarkan biaya solar, waktu, ya secara ekonomi dia akan spend banyak,” tambah Doktor lulusan Hokkaido University, Jepang tersebut.

Ia menjelaskan bahwa komponen penting dalam teknologi terbaru yang ia canangkan terletak pada data dari satelit. Data ini bisa didapatkan di internet dan bisa mengetahui terkait informasi suhu permukaan laut. Lanjutnya, karena kondisi lautan yang tidak pasti, maka prediksi juga memungkinkan untuk ikut berubah.

Advertisement

Maka dari itu, Prof. Bambang menggabungkannya dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) melalui machine learning supaya data posisi ikan yang didapatkan lebih akurat dan tajam. 

Prof. Bambang menjelaskan, melalui teknologi ini, maka nelayan dapat menghemat bahan bakar, energi, dan waktu dalam mencari ikan. Selain itu, melalui teknologi ini juga akan meningkatkan persentase peluang nelayan mendapatkan ikan. 

“Mereka tidak akan bingung, sebelum berangkat udah tau posisi ikan dimana, tentu ini akan menghemat bahan bakar, energi, dan waktu sekaligus spend ekonominya berkurang,” jelasnya. 

Keunggulan lainnya dari MarineScape adalah dapat memprediksi daerah mana yang cocok untuk budidaya biota laut. 

Lebih lanjut, Prof. Bambang menjelaskan posisi UB sebagai center teknologi ini berperan untuk menerjemahkan keilmuan tersebut kepada masyarakat. Data satelit yang didapatkan akan diolah kemudian ditransfer melalui teknologi tersebut supaya bisa langsung dimanfaatkan oleh nelayan. 

“Jadi nelayan gak usah repot-repot bagaimana membaca data satelit, mereka sudah tau dari kami jadi akan memudahkan,” imbuhnya.

Sebagai informasi, Prof. Bambang dikukuhkan sebagai profesor ke-28 FPIK UB dan profesor ke-256 di UB. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia