Universitas Brawijaya Resmi Kukuhkan Tiga Profesor Baru, Total 258 Guru Besar
Universitas Brawijaya (UB) mengukuhkan tiga guru besar baru lintas fakultas. Simak inovasi pangan lokal, Model LILY ekonomi sirkular, hingga AI kelautan MARINESCAPE.
Malang – Universitas Brawijaya kembali menambah jajaran guru besar lewat pengukuhan tiga guru besar lintas fakultas. Ketiganya adalah Prof. Ir. Bambang Semedi, M.Sc., Ph.D dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Prof. Erni Sofia Murtini, S.T.P., M.P., Ph.D dari Fakultas Agroindustri dan Biosistem (FTAB), dan Prof. Dr. Sri Muljaningsih, S.E., MSP dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Ketiganya akan dikukuhkan pada Rabu (10/6/2026).
Prof. Erni Sofia Murtini, Ph.D dikukuhkan sebagai guru besar bidang Teknologi Serealia dan Makanan Tradisional FTAB. Ia menjadi Profesor ke 28 di FTAB dan Guru besar ke 257 di UB.
Dalam penelitiannya, ia menyoroti ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras dan gandum yang masih tinggi menjadi tantangan ketahanan pangan Indonesia. Menurutnya, Indonesia memiliki berbagai sumber pangan lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal, contohnya seperti serealia seperti jagung, biji-bijian, hingga sorgum. Komoditas tersebut dinilai memiliki potensi besar karena mampu tumbuh di lahan marginal dan dapat menjadi alternatif pengganti gandum impor.
“Serealia penting bagi penduduk dunia karena sumber karbohidrat,” ujarnya saat Konferensi Pers, Senin (8/6/2026).
Selain itu, Prof. Erni juga mengingatkan ancaman hilangnya makanan tradisional di kalangan generasi muda. Ia menilai modernisasi gaya hidup membuat sebagian anak muda lebih mengenal makanan internasional dibanding kuliner tradisional daerah.
Sementara itu, Prof. Dr. Sri Muljaningsih, S.E., MSP resmi dikukuhkan sebagai guru besar bidang dalam Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam. Ia menjadi Profesor aktif ke 33 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan Profesor aktif ke 258 di Universitas Brawijaya.
Prof. Sri memperkenalkan MODEL LILY: Valorisasi Tanaman Lokal Dalam Ekonomi Sirkular Berbasis Komunitas Organik. Model tersebut merupakan konsep yang mengintegrasikan nilai spiritual, komunitas, dan penciptaan nilai tambah sumber daya lokal dalam kerangka ekonomi sirkular. Gagasan ini lahir dari keprihatinannya terhadap tingginya harga produk organik yang masih sulit dijangkau sebagian masyarakat.
“Sayur di desa dibawa ke pasar harapannya biar naik harga, ternyata sampai sana visualnya sama, dan harganya sama saja kayak sayuran non organik,” imbuhnya.
Salah satu contoh yang diangkat adalah pemanfaatan salak Suwaru, varietas lokal yang dahulu hanya dihargai sekitar Rp1.000 per kilogram saat panen raya. Melalui pelatihan pengolahan dan kewirausahaan, salak tersebut diolah menjadi produk “kurma salak” yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi. Bahkan, harga produk olahan tersebut dapat mencapai lebih dari Rp100 ribu per kilogram.
Selain itu, Prof. Sri juga menekankan pentingnya keberlanjutan komunitas dalam mengembangkan produk organik. Ia membentuk Komunitas Lili Organikku yang menjadi wadah bagi petani dan pelaku usaha dalam mengembangkan produk berbasis pertanian berkelanjutan.
Sementara yang terakhir adalah Prof. Ir. Bambang Semedi, M.Sc., Ph.D yang resmi dikukuhkan sebagai Profesor dalam Bidang Ilmu Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis Kelautan FPIK UB. Ia menjadi Profesor ke 28 di FPIK dan profesor ke 256 di UB.
Dalam orasinya yang bertajuk “MARINESCAPE: Integrasi Penginderaan Jauh dan Machine Learning untuk Prediksi ZPPI di Era Perubahan Iklim”, ia memperkenalkan sistem berbasis kecerdasan buatan untuk memprediksi Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI).
Menurut penelitiannya, perubahan iklim global menyebabkan perubahan suhu permukaan laut berdampak pada migrasi ikan pelagis seperti cakalang. Kondisi tersebut membuat metode penangkapan ikan berbasis pengalaman tradisional semakin sulit diterapkan.
“Nelayan kita biasanya selama ini dipandu pengalaman empiris turun temurun, sehingga kurang efektif untuk bisa menemukan posisi ikan secara pasti,” ujarnya.
Ia menjelaskan melalui sistem MARINESCAPE, data satelit seperti suhu permukaan laut dapat dianalisis menggunakan teknologi machine learning dan deep learning untuk menghasilkan prediksi yang lebih akurat.
Prof. Bambang juga menggagas pembentukan UB-MARINESCAPE sebagai pusat riset dan diseminasi data yang menjembatani kebutuhan nelayan, pengelola perikanan, hingga pembuat kebijakan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


