Advertisement
Pendidikan

Guru Besar UB Sampaikan Aspirasi Terhadap KSP Terkait Ketahanan Pangan

KSP Dudung Abdurachman kunjungi UB. Guru besar Mangku Purnomo dorong modernisasi pertanian, green house, hilirisasi biomassa, Land Grant College untuk kampus, dan libatkan mahasiswa di food estate.

TIMES Indonesia,
Guru Besar UB Sampaikan Aspirasi Terhadap  KSP Terkait Ketahanan Pangan
Agenda Ngopi bareng KSP yang digelar di Guest House UB, Jumat (12/6/2026). (FOTO: Humas for TI)
A-AA+

MALANG Dua guru besar Universitas Brawijaya, Prof. Mangku Purnomo, S.P.,M.Si, Ph.D. dan Prof. Dr. Unti Ludigdo, SE., M.Si., Ak. menyampaikan aspirasinya saat kunjungan Kepala Staff Kepresidenan (KSP), Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman dalam kegiatan Ngopi Bareng KSP, Jumat (12/5/2026) di Guest House UB.

Sebagai seorang praktisi bidang pertanian, Prof. Mangku menyampaikan beberapa poin besar terkait ketahanan pangan. Ia mendorong adanya transformasi modernisasi sektor pertanian, tidak hanya sebatas modernisasi alat produksi, tetapi juga modernisasi supply chain.

Advertisement

“Kami mendorong pertanian bisa bertransformasi melalui modernisasi, tidak hanya alat produksinya saja tetapi juga supply chain,” ujarnya saat diwawancarai usai kegiatan. 

Selanjutnya, ia mencontohkan seperti di kawasan padat penduduk untuk segera dibangun kawasan suplai pangan, terkhusus hortikultura bernilai tinggi seperti paprika, tomat, cabai, sayur-sayuran hingga buah-buahan untuk diubah menggunakan konsep green house yang lebih modern dan berteknologi tinggi.

“Di kawasan padat penduduk segera digeser menggunakan konsep green house yang lebih modern dan berteknologi tinggi, nantinya hasil pertanian dapat menembus pasar modern dan dapat mengurangi signifikansi inflasi,” tambahnya. 

Selanjutnya, apabila terdapat modernisasi alat pertanian, Prof. Mangku mendorong untuk alat dapat disertai teknologi yang mampu mengumpulkan biomassa hasil panen. Menurutnya, biomassa seperti jerami, sekam, dan bekatul memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun bahan baku industri.

Selama ini, potensi tersebut masih banyak terbuang. Padahal, nilai tambah sektor pertanian tidak hanya berasal dari hasil utama seperti beras, tetapi juga dari produk turunannya. 

Advertisement

“Jadi alat-alat pertanian itu harus ter-combine juga dengan menyuplai produk turunannya, sehingga hilirisasi ini yang harus kita mulai juga,” imbuhnya. 

Agenda Ngopi bareng KSP 2

Prof. Mangku juga mengusulkan untuk setiap universitas diberikan Land Grant College melalui aset negara yang tidak terpakai. Hal ini akan memberikan kewenangan kepada kampus untuk mengelola kawasan pertanian berskala ekonomi untuk menjadi pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi.

Terakhir, Prof. Mangku menekankan pentingnya konsolidasi sumber daya manusia dalam mendukung agenda ketahanan pangan nasional. Menurutnya, pemerintah yang memiliki program di sektor pangan perlu melibatkan mahasiswa sebagai pionir pembangunan pertanian di berbagai kawasan strategis, seperti Food Estate di Papua, Sorong, Kalimantan, maupun wilayah pengembangan pertanian lainnya.

“Nanti melibatkan mahasiswa, bagaimana mereka bisa menjadi pionir di kawasan yang dipilih, seperti food estate di Merauke atau Kalimantan,” jelasnya.

Ia menilai bahwa masih belum ada program yang benar-benar melibatkan mahasiswa seperti pada masa awal Revolusi Hijau. Kehadiran sumber daya manusia muda dinilai penting untuk mendukung pengembangan sektor pertanian, terutama di daerah-daerah yang masih membutuhkan tenaga profesional di bidang tersebut.

“Kita mendorong fresh graduate untuk bisa masuk kesana, karena bagaimanapun kawasan-kawasan tersebut membutuhkan lulusan-lulusan pertanian,” pungkasnya. 

Sementara itu, Unti juga menyampaikan pendapatnya terhadap KSP. Ia menjelaskan terkait pentingnya perguruan tinggi untuk memberikan pendampingan atau advokasi terhadap petani lokal untuk menghasilkan spesies tanaman tertentu.

“Perguruan tinggi perlu memberikan pendampingan terhadp petani lokal untuk menghasilkan spesies tanaman tertentu, benih-benih unggul sesuai karakteristik lokalnya,” jelasnya.

Menurutnya, potensi untuk mengembangkan lebih jauh lagi hasil pertanian petani melalui pendampingan cukup besar. Oleh karenya, ia mendorong perhatian terhadap hal tersebut sekaligus sebagai bentuk melindungi para petani lokal. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia