Advertisement
Pendidikan

Founder Social Movement Institute: Marwah Kampus Mulai Bergeser Akibat Pragmatisme Pendidikan

Founder Social Movement Institute, Eko Prasetyo, menilai kampus tidak boleh hanya menjadi pencetak tenaga kerja. Untuk itu, ia mengajak mahasiswa menjaga nalar kritis, keberanian bersuara, dan keberpihakan terhadap keadilan sosial.

TIMES Indonesia,
Founder Social Movement Institute: Marwah Kampus Mulai Bergeser Akibat Pragmatisme Pendidikan
ILUSTRASI: penyampaian aspirasi mahasiswa melalui aksi demo. (FOTO: BBC)
A-AA+

MALANG Perguruan Tinggi sejatinya mencetak generasi yang tidak hanya unggul pada prestasi akademik, tetapi juga karakter diri sendiri. Namun nyatanya, banyak institusi pendidikan saat ini dinilai hanya sebagai pencetak tenaga kerja saja dibandingkan menjadi ruang pembentukan karakter yang berpihak pada kebenaran. 

Pandangan tersebut disampaikan Founder Social Movement Institute, Eko Prasetyo, S.H., saat menjadi narasumber dalam Kuliah Tamu yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (13/6/2026).

Advertisement

Menurut Eko, saat ini terjadi pergeseran fungsi dan marwah perguruan tinggi yang ditandai dengan semakin menurunnya keberanian generasi muda untuk berpikir kritis dan menyuarakan ketidakadilan. Ia menilai orientasi pendidikan yang semakin pragmatis, menguatnya budaya individualisme, serta dominasi teknologi menjadi faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut.

“Hal-hal tersebut secara tidak sadar mulai menggeser marwah kampus. Mahasiswa akan semakin terasing dari tradisi menyuarakan kepentingan publik,” ujarnya.

Eko menegaskan bahwa kampus merupakan ruang yang dinamis dan seharusnya dimanfaatkan mahasiswa tidak hanya untuk mengejar prestasi akademik. Lingkungan perguruan tinggi juga harus menjadi tempat berdiskusi, berorganisasi, bertukar gagasan, serta menguji berbagai pemikiran yang berkembang di masyarakat.

Menurutnya, keberanian mempertanyakan berbagai persoalan sosial merupakan fondasi penting bagi kaum intelektual yang ingin membawa perubahan.

“Berani mempertanyakan persoalan sosial adalah fondasi utama kaum intelektual yang mampu membawa perubahan,” katanya.

Advertisement

Dalam kesempatan tersebut, Eko juga menyoroti fenomena komersialisasi pendidikan yang semakin menguat. Ia menilai biaya pendidikan yang semakin tinggi berpotensi mempersempit ruang perjumpaan antarberbagai kelompok sosial dan pada akhirnya mengikis empati mahasiswa terhadap realitas masyarakat.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa derasnya arus informasi di era digital juga menghadirkan tantangan tersendiri. Mahasiswa kerap memperoleh informasi dalam jumlah besar, namun tidak selalu memiliki kesempatan untuk memahami akar persoalan secara mendalam.

Kondisi tersebut, menurutnya, diperparah oleh menurunnya budaya literasi, diskusi yang komprehensif, serta kemampuan berpikir analitis.

“Budaya kepatuhan kini lebih dominan daripada berpikir kritis. Karena itu, kampus harus menjaga tradisi intelektual agar tetap hidup,” jelasnya.

Di akhir pemaparannya, Eko mengajak seluruh sivitas akademika untuk merefleksikan berbagai tantangan moral dan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini. Ia mendorong mahasiswa agar tidak bersikap apatis, melainkan terlibat langsung dalam memahami dan mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Menurutnya, intelektual sejati tidak diukur dari banyaknya gelar akademik yang dimiliki, tetapi dari keberanian untuk memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan dalam kehidupan nyata.

Ia juga mengingatkan bahwa kampus harus tetap menjadi ruang tumbuhnya gagasan yang kritis, independen, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.

“Esensi seorang intelektual sejati tidak pernah diukur dari tumpukan gelar akademik, melainkan dari seberapa besar nyali dan keberaniannya dalam mempertahankan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan secara nyata,” ucapnya. (*)

 

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia