Di Tlogowaru Malang, The Invisible People Belajar Memuliakan Diri
SRMP 16 Kota Malang membuktikan pendidikan berasrama mampu mengubah kehidupan anak-anak miskin ekstrem, membangun karakter, kemandirian, dan harapan baru untuk masa depan.
MALANG – Rabu (10/6/2026) pagi pukul 10.15 WIB, saat TIMES Indonesia tiba di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang, Jawa Timur, pemandangan yang terhampar di halaman eks Gedung Poltekom Jalan Raya Tlogowaru Nomor 3 itu berbeda dari biasanya. Beberapa siswa dan siswi tampak tengah beristirahat usai latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), banjari, dan mendongeng untuk persiapan menyambut kedatangan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman dua hari kemudian. Mereka selonjoran di halaman, bercanda, mengobrol santai. Tawa mereka terdengar ringan, seolah beban masa lalu yang pernah menghimpit perlahan luruh oleh semangat baru.
Di sinilah, di bangunan tua bekas Politeknik Kota Malang yang telah direnovasi, 92 anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem kategori Desil 1 dan 2 berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) belajar untuk pertama kalinya merasa bahwa negara hadir. Mereka yang terdiri dari 41 anak laki-laki dan 51 anak perempuan adalah the invisible people atau anak-anak yang selama ini tak terlihat dalam statistik pembangunan, tak terdengar suaranya dalam percakapan kebijakan, dan tak tersentuh oleh mimpi-mimpi besar tentang masa depan.
Sekolah untuk Mereka yang Tak Terlihat
"Kami tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pengembangan karakter, minat, dan bakat siswa. Kami ingin menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung tumbuh kembang anak secara utuh agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan," ujar Kepala SRMP 16 Kota Malang Dr. Rida Afrilyasanti, SPd, MPd, mengawali perbincangannya dengan TIMES Indonesia saat ditemui di ruang kerjanya.
Kata-kata Rida bukanlah sekadar jargon. Di baliknya ada 92 anak yang terpilih dari ratusan calon peserta didik. Mereka berasal dari keluarga yang bergulat dengan kemiskinan struktural: orang tua yang tidak bisa bekerja karena disabilitas, keluarga yang pernah terjerat masalah hukum, atau rumah tangga yang porak-poranda oleh pinjaman online dan konflik internal.

Muhammad Zainul, Koordinator Wali Asuh dan Wali Asrama SRMP 16 Kota Malang, yang berlatar belakang pendidikan S1 Pekerjaan Sosial dan S2 Pendidikan Nonformal, menjelaskan tantangan yang dihadapi jauh lebih kompleks dari sekadar mengajar anak membaca dan berhitung.
"Banyak dari mereka berasal dari keluarga kurang mampu yang memiliki berbagai persoalan sosial. Misalnya, ada orang tua yang tidak bisa bekerja karena disabilitas, konflik keluarga, masalah sosial, atau bahkan stigma tertentu. Ada juga keluarga yang pernah memiliki masalah hukum sehingga anak-anak mereka kesulitan mendapatkan akses pendidikan yang baik," tutur Zainul.
"Tantangan terbesar kami adalah bahwa anak yang masuk ke SRMP 16 Kota Malang tidak selalu siap sekolah. Mereka sering membawa persoalan keluarga yang belum selesai. Karena itu, yang kami hadapi bukan hanya siswa, tetapi juga kondisi keluarganya," lanjut Zainul.
Sekolah Rakyat, yang digagas sebagai program prioritas nasional oleh Presiden Prabowo Subianto, dirancang sebagai sekolah berasrama gratis untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan. Siswa tidak hanya mendapatkan akses belajar, tetapi juga tempat tinggal, makan tiga kali sehari plus dua kali makanan selingan, seragam, alat sekolah, laptop pribadi, dan layanan kesehatan yang semuanya tanpa biaya sepeser pun. Program ini, hingga kini, telah beroperasi di 166 lokasi di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota dengan total 15.954 siswa di mana salah satunya adalah SRMP 16 Kota Malang.
Ketika 8 Anak Memilih Pulang
Namun perjalanan tidak selalu mulus. Dari 100 siswa SRMP 16 yang diterima pada Juli 2025, delapan anak memilih keluar. Bukan karena mereka tidak cocok dengan sekolah, melainkan karena belum siap tinggal jauh dari orang tua.
"Delapan siswa memang masih dalam proses adaptasi. Karena bentuk sekolah kami berbeda dengan sekolah reguler. Sekolah ini berasrama dan siswa wajib tinggal di asrama selama 24 jam," jelas Rida.
Kelekatan anak usia SMP dengan orang tua masih sangat kuat. Di sekolah reguler, anak pulang dan bertemu keluarga setiap hari. Di SRMP 16, mereka tinggal di asrama yang terintegrasi dengan sekolah dengan rutinitas yang dimulai pukul 03.30 pagi hingga 21.00 malam.

"Keinginan seperti itu tentu ada pada masa awal adaptasi. Namun konsep Sekolah Rakyat memang sekolah berasrama sesuai arahan pemerintah. Anak-anak berasal dari Desil 1 dan Desil 2 yang lingkungannya belum tentu mendukung proses belajar secara optimal. Dengan sistem asrama, kami berupaya menyediakan lingkungan yang mendukung, baik dari sisi pendidikan, pengasuhan, maupun pemenuhan gizi," tambah Rida.
Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, saat meninjau SRMP 16 pada Jumat (12/6/2026), menegaskan bahwa sekolah rintisan ini adalah langkah awal dari cita-cita besar Presiden.
"Saya lihat ini sekolah rintisan. Sekolah rakyatnya nanti akan dibangun di sekitar sini. Masih kita komunikasikan karena ada tanah yang sebetulnya bisa digunakan, tetapi masih punya kelurahan," ujar Dudung dalam kunjungannya.
Pemerintah Kota Malang sendiri telah mengajukan tiga opsi lahan untuk pembangunan gedung permanen: gedung Poltekom, tanah di sekitar GOR Ken Arok, dan lahan di Arjowinangun. KSP berkomitmen mendorong koordinasi antara pemerintah daerah, Kementerian PU, ATR/BPN, dan Kementerian Sosial untuk mempercepat proses pengadaan aset.
Membangun Keterikatan di Tengah Keterbatasan
Di tengah fasilitas yang masih serba terbatas di mana rasio wali asuh yang idealnya 1:10 baru kini bisa terpenuhi setelah penambahan tenaga, SRMP 16 membangun program-program yang dirancang untuk membuat anak-anak betah.
Ada kelas pendampingan khusus di mana satu guru mendampingi dua hingga tiga siswa secara intensif untuk mengatasi ketertinggalan literasi dan numerasi. Ada Kelas Potensi dan Bakat (KPB) bagi siswa yang memiliki potensi lebih agar prestasinya berkembang. Ada ekstrakurikuler silat, musik, Olimpiade Bahasa Inggris, IPA, IPS, dan bulu tangkis. Ada program pembiasaan harian yang didampingi wali asuh: ibadah, pembentukan karakter, hingga refleksi malam sebelum tidur.
"Sebelum tidur, siswa diajak berdiskusi, berbagi cerita, dan merefleksikan kegiatan yang mereka jalani sepanjang hari," kata Rida.
Komunikasi dengan orang tua difasilitasi melalui program kunjungan dan pesiar bergantian setiap dua minggu sekali. Siswa tidak diperbolehkan membawa telepon genggam, sehingga wali asuh menjadi jembatan antara anak dan keluarga.
Zainul menjelaskan bahwa perubahan perilaku menjadi fokus utama di asrama. "Di asrama, proses pendidikan berbeda dengan sekolah formal. Jika di kelas pembelajaran berlangsung secara formal, maka di asrama lebih banyak berfokus pada perubahan perilaku. Pendidikan berlangsung secara nonformal bahkan informal. Anak-anak sering kali tidak merasa sedang belajar, tetapi melalui program-program yang dijalankan sekolah, perubahan perilaku dan pembiasaan hidup mandiri terbentuk secara bertahap melalui pengulangan setiap hari," paparnya.
Indikator Perubahan: Ketika Anak Mulai Bermimpi
Rida menyebutkan indikator paling sederhana bahwa seorang anak benar-benar "dimuliakan" di sekolah ini adalah perubahan yang terlihat: dari aspek kesehatan, kedisiplinan, perilaku, dan kemampuan berkomunikasi.
"Misalnya, ada anak yang sebelumnya memiliki pola hidup kurang sehat. Di sini mereka dibiasakan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, dan menjalani pola hidup yang lebih baik," kata Rida.
Ia melanjutkan, sekolah bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Malang. Setiap hari Jumat ada kunjungan dan pemeriksaan kesehatan rutin dari puskesmas. Ada perawat yang ditugaskan dari Kementerian Sosial untuk menangani siswa yang sakit. Keluhan kesehatan mulai berkurang, postur tubuh membaik, dan kemampuan literasi serta numerasi dasar menunjukkan perkembangan positif.
Zainul menyebutkan adanya 15 indikator perubahan perilaku yang dinilai melalui observasi dan wawancara, yang dituangkan dalam rapor keasramaan empat kali setahun: kebersihan diri dan kamar, kebiasaan mandi, cara berkomunikasi, kemampuan sosial, kedisiplinan, kemandirian, empati, kepemimpinan, ketaatan beribadah, literasi, dan pengembangan diri.
"Perubahan terbesar ada pada pembiasaan hidup mandiri. Banyak orang tua datang dan menyampaikan terima kasih karena anak-anak mereka menjadi lebih tertib dan beretika. Misalnya, mereka sudah terbiasa bangun pagi untuk salat Subuh tanpa harus dibangunkan. Sikap kepada orang yang lebih tua juga menjadi lebih sopan," tutur Zainul.
Joko Purnomo, wali murid dari Muhamad Aji Abdi Negara, membenarkan hal itu. "Sekarang dia (Muhamad Aji Abdi Negara), sudah terbiasa bangun sebelum subuh, lalu salat subuh, mencuci pakaian sendiri, dan mengurus kebutuhannya sendiri. Dulu hal-hal seperti itu biasanya masih dibantu orang tua. Kalau di rumah dulu bangunnya juga sering terlambat," ungkap Joko ditemui terpisah.
"Kami juga bersyukur karena lingkungannya baik dan anak kami mendapatkan banyak pembelajaran yang positif," tambahnya.
Suara dari Mereka yang Selama Ini Tak Terdengar
Di halaman sekolah, TIMES Indonesia berbincang dengan beberapa siswa. Muhammad Ilham Maulana, siswa kelas 7, yang baru saja meraih juara tiga pencak silat dalam O2SN tingkat kota pada Mei lalu.
"Senang sekolah di sini. Bisa bergaul dengan teman-teman dan semuanya gratis," ujar Ilham dengan polos. "Cita-cita saya ingin menjadi pemain pencak silat terbaik nasional," tegasnya.
Nisa Aulia Nurhashana, siswi kelas 7B, mengaku nyaman karena teman-temannya baik dan guru-gurunya baik.
"Wali asramanya seru dan baik," kata Nisa. Cita-citanya? "Saya ingin menjadi artis sinetron." Sebuah mimpi yang mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi Nisa yang sebelumnya mungkin tak pernah punya ruang untuk bermimpi, ini adalah langkah pertama.
Sementara, Khilyatul Mila, siswi kelas 7C, menunjukkan bakat melukisnya di lobi sekolah saat kunjungan Dudung. Ia melukis Istana Negara dan Bendera Merah Putih. Dudung membeli lukisan itu seharga Rp1 juta.
Bagi Mila, apresiasi dari pejabat tinggi negara bukan sekadar soal uang, melainkan bentuk pengakuan atas mimpinya. Pelajar perempuan berusia 14 tahun itu pun berniat memberikan seluruh hasil penjualan lukisan kepada kedua orang tuanya untuk meringankan beban ekonomi keluarga. Kehidupannya kini terasa lebih nyaman karena ia mendapatkan fasilitas lengkap di sekolah berasrama ini. Di sela kesibukannya, Mila terus memupuk cita-cita mulia menjadi seorang guru di masa depan.
Ketika Kegagalan Menjadi Pelajaran
Zainul menceritakan satu pengalaman yang paling berkesan. Seorang siswa dengan prestasi di bidang sepak bola, tetapi perilakunya sulit dikendalikan dan sering mengajak teman-temannya berkonflik. Suatu ketika, siswa itu memutuskan mengundurkan diri.
"Kami kemudian melakukan kunjungan ke keluarganya. Setelah kami dalami, keluarganya sebenarnya tidak memiliki banyak pilihan pendidikan lain untuk anak tersebut. Kami melakukan intervensi kepada keluarga, lingkungan sekitar, bahkan kepada kerabat dan tokoh di sekitarnya agar mendukung anak tersebut tetap bersekolah di sini," kenang Zainul.
Anak itu akhirnya ingin kembali. Namun sekolah tidak langsung menerimanya. "Kami meminta dia belajar dari rumah selama hampir dua bulan. Setelah menunjukkan kesungguhan, dia kembali mengikuti ujian semester dan hingga saat ini masih aktif bersekolah di sini," kata Zainul.
"Dukungan dan kerelaan orang tua untuk melepas anak tinggal di asrama adalah modal utama. Jika orang tua mendukung, anak akan jauh lebih nyaman menjalani kehidupan di asrama," pungkas Zainul.
Memuliakan Bukan Sekadar Menyekolahkan
Kunjungan Kepala Staf Kepresidenan ke SRMP 16 berlangsung hangat dan penuh makna. Dudung Abdurachman tidak sekadar meninjau fasilitas, tetapi juga menyemai optimisme di hati para siswa.
Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini mengingatkan agar para siswa Sekolah Rakyat tidak pernah gentar menghadapi mereka yang datang dari latar belakang lebih beruntung. Keyakinan itu Dudung tularkan melalui kisah hidupnya sendiri: lahir dari keluarga sederhana dengan ayah yang bekerja sebagai tukang sapu, dan setelah sang ayah wafat, ia harus bangun setiap pukul 04.00 pagi untuk berjualan koran demi membantu kebutuhan keluarga.
"Sudah terjadi perubahan nyata dalam waktu hampir satu tahun belajar sejak Sekolah Rakyat dibuka Juli 2025," ucap Dudung dengan penuh keyakinan.
Ia melihat sendiri bagaimana anak-anak yang sebelumnya rapuh kini mulai tumbuh percaya diri dan berprestasi.
Rida Afrilyasanti, sang kepala sekolah, dalam perbincangan dengan TIMES Indonesia melontarkan sebuah harapan tinggi: "Kami berharap fasilitas sekolah semakin lengkap melalui pembangunan lokasi permanen. Dengan fasilitas yang lebih memadai, siswa akan lebih terfasilitasi, kapasitas penerimaan siswa baru dapat ditingkatkan, dan proses pendampingan maupun pengasuhan bisa berjalan lebih optimal."
Di tahun ajaran 2026-2027, pemerintah menargetkan tambahan lebih dari 32.000 siswa di seluruh Indonesia. Di Kota Malang, Dinas Sosial telah mulai mendata calon siswa melalui DTKS. SRMA 22 di Jalan Kawi telah beroperasi. Rencana pembangunan gedung permanen SRMP 16 di Arjowinangun pun terus dikejar.
Namun angka-angka itu hanyalah statistik jika tidak dibarengi dengan perubahan nyata pada diri setiap anak. Pertanyaan yang diajukan TIMES Indonesia kepada Rida mungkin adalah yang paling mendasar: Apa indikator paling sederhana bahwa seorang anak benar-benar dimuliakan di sekolah ini?
Jawaban Rida cukup tegas menggambarkan. "Perubahan siswa. Kami melihat perubahan dari aspek kesehatan, kedisiplinan, perilaku, dan kemampuan berkomunikasi," ujarnya
Dan perubahan itu, seperti yang terlihat dari tawa Ilham, Nisa, dan Mila di halaman sekolah, adalah bukti bahwa the invisible people mulai terlihat. Mereka tidak lagi sekadar angka dalam DTKS. Mereka adalah anak-anak yang belajar bermimpi.
Di balik gedung tua Poltekom yang kini menjadi sekolah rintisan, 92 anak dari keluarga miskin ekstrem sedang menulis ulang takdir mereka. Sekolah Rakyat bukan sekadar menggratiskan biaya, tetapi ia memulihkan martabat. Ia mengajarkan bahwa kemiskinan bukanlah vonis, melainkan titik awal untuk bangkit. Dan di Tlogowaru, Malang, bangsa ini sedang belajar bahwa memuliakan yang tak terlihat adalah ukuran sesungguhnya dari peradaban. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


