Nilai Ajaib Eco-Enzyme Dapat Diolah Menjadi Produk Turunan yang Bermanfaat
Akademisi Pascasarjana UB, Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., IPU, ASEAN.Eng dalam memberikan pelatihan terhadap ibu-ibu desa Ngabab, kec. Pujon, kab. Malang pada Jum’at (19/6/2026).
MALANG – Siapa sangka Eco-enzyme yang merupakan produk fermentasi hasil sisa sampah organik dengan bahan dasar molase atau gula jawa, gula aren, dan gula pasir bisa diolah kembali menjadi produk turunan rumah tangga. Hal tersebut yang digaungkan oleh akademisi Pascasarjana UB (Universitas Brawijaya), Dr. Ir. Rita Parmawati, S.P., M.E., IPU, ASEAN.Eng dalam memberikan pelatihan terhadap ibu-ibu desa Ngabab, kec. Pujon, kab. Malang pada Jum’at (19/6/2026).
Ia menjelaskan, proses fermentasi eco-enzyme berlangsung selama 90 hari, tentunya dengan menggunakan sisa sampah rumah tangga segar seperti kulit jeruk, sayuran, atau buah lainnya. Rita menekankan bahwa tidak semua sampah dapat digunakan untuk eco-enzyme dan terdapat kriteria tertentu.
“Yang tidak boleh adalah sayuran atau buah yang mengandung bakteri seperti kulit bawang, yang berlemak dan bersantan seperti alpukat dan durian, sisa makanan yang sudah dimasak, dan tidak tercampur dengan produk hewani,” ujarnya.
Rita merekomendasikan sampah jeruk untuk bahan baku eco-enzyme. Hal ini dinilai karena dapat menghasilkan aromatik yang segar. Kemudian, untuk sayuran ia bisa merekomendasikan semua jenis sayuran kecuali kulit bawang.

Rita menjelaskan bahwa eco-enzyme bukan ramuan fermentasi biasa. Ia memiliki segudang manfaat yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Lanjutnya, manfaat eco-enzyme diantaranya dapat menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh pada hewan ternak, dapat menjadi obat bisul dan gatal, dan tentunya dapat menjadi produk turunan rumah tangga.
“Di desa Ngabab ini banyak warganya yang beternak, biasanya ada banyak lalat di kandang sapi dan menyebabkan penyakit, nah itu disemprot aja pakai eco-enzyme bisa menyembuhkan,” imbuhnya.
Ia menambahkan, produk turunan karbol yang dapat diolah menggunakan eco-enzyme diantaranya seperti pembersih lantai dan kamar mandi, sabun cuci tangan, sabun cuci piring, dan yang lain.
Selain itu, eco-enzyme juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC) yang dapat digunakan dalam pertanian. Ia menjelaskan, apabila dalam pupuk kimia maka tanaman semakin lama semakin resisten. Apabila menggunakan ecp-enzyme, maka pertumbuhan tanaman akan lebih bagus dan tidak menarik hama dan penyakit untuk datang.
“Kalau pakai pupuk kimia tanaman akan semakin resisten dan itu membutuhkan banyak dosis, sedangkan jika menggunakan eco-enzyme tinggal semprot saja maka pertumbuhan tanaman menjadi lebih bagus,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia memberikan cara untuk petani menggunakan eco-enzyme yaitu dengan menyemprotkan cairan eco-enzyme yang telah dicampur dengan air supaya kadar asamnya menurun.

Saat ini, Rita dan tim penelitiannya sedang mengembangkan briket pupuk organik dari eco-enzyme yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pertanian.
Rita menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk hibah pengabdian berbasis wilayah ya dari Kemendikti dengan judul "Menuju Desa Nol Sampah: Strategi Dekarbonisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Circular Economy". Ia berharap bahwa Desa Ngabab dapat menjadi desa percontohan dalam pengelolaan sampah dari sumber.
“Karena selama ini DLH ambil sampah dari Desa Ngabab hanya 5 ton, sementara hasil sampah lebih dari itu,” terangnya.
Nantinya, pelatihan akan diadakan dalam empat sesi yakni pengolahan eco-enzim dan mol, budidaya maggot, vermicomposting, dan terakhir manajemen pemasaran. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


