Advertisement
Pendidikan

Wamendikdasmen Ingatkan Pentingnya Budaya Menulis Tangan di Era Digital

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menyampaikan arahan Presiden Prabowo Subianto agar budaya menulis tangan tetap dijaga di tengah digitalisasi pembelajaran. Pemerintah juga akan mendistribusikan buku tulis untuk peserta didik mulai tahun ini.

TIMES Indonesia,
Wamendikdasmen Ingatkan Pentingnya Budaya Menulis Tangan di Era Digital
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq saat Bimbingan Teknis Pemanfaatan Sarana Digitalisasi Pembelajaran Jenjang SMK Tahun 2026 Region Malang yang diikuti 150 guru SMK di Jawa Timur, Jumat (19/6/2026).
A-AA+

MALANG Digitalisasi pembelajaran terus didorong pemerintah, namun kemampuan dasar literasi peserta didik tetap menjadi perhatian utama. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, mengingatkan pentingnya menjaga budaya menulis tangan di tengah semakin masifnya penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan.

Pesan tersebut disampaikan Fajar saat menutup Bimbingan Teknis Pemanfaatan Sarana Digitalisasi Pembelajaran Jenjang SMK Tahun 2026 Region Malang yang diikuti 150 guru SMK dari berbagai daerah di Jawa Timur, Jumat (19/6/2026).

Advertisement

Menurut Fajar, pemanfaatan teknologi seperti Papan Interaktif Digital (PID) harus berjalan seiring dengan penguatan kemampuan dasar siswa, mulai dari membaca, menulis, berpikir kritis, hingga kemampuan berkonsentrasi.

“Digitalisasi sangat penting, tetapi anak-anak kita juga harus tetap dibiasakan menulis manual. Menulis dengan pensil atau pulpen membantu memori lebih dalam, melatih konsentrasi, dan mengaktifkan proses berpikir. Karena itu, digitalisasi dan budaya menulis tangan harus berjalan beriringan,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya tersebut, pemerintah akan mulai mendistribusikan buku tulis kepada peserta didik pada tahun ini. Program tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga kebiasaan menulis manual di sekolah sekaligus memperkuat kemampuan literasi dasar.

Fajar menjelaskan, perhatian terhadap budaya menulis tangan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya menjaga kemampuan dasar literasi di tengah perkembangan teknologi digital. Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan secara optimal, tetapi tidak boleh menghilangkan praktik belajar yang terbukti mendukung perkembangan kognitif anak.

Ia juga mengutip berbagai kajian neurosains yang menunjukkan bahwa aktivitas menulis tangan dapat memperkuat daya ingat, fokus, dan pemahaman informasi karena melibatkan proses kerja otak yang lebih kompleks dibanding sekadar mengetik.

Advertisement

“Otak kita elastis dan terus berkembang. Karena itu, stimulasi belajar yang tepat sangat penting. Pembelajar sepanjang hayat adalah kunci menghadapi perubahan zaman,” katanya.

Transformasi Pendidikan Berjalan di Tiga Jalur

Dalam kesempatan itu, Fajar menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di bawah kepemimpinan Menteri Abdul Mu'ti tengah menjalankan transformasi pendidikan melalui tiga agenda utama, yakni transformasi pedagogis, penguatan infrastruktur digital, dan revitalisasi infrastruktur fisik sekolah.

Ketiga agenda tersebut diarahkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih berkualitas, aman, nyaman, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik secara menyeluruh.

Karena itu, ia meminta para guru memanfaatkan PID dan teknologi pembelajaran lainnya secara optimal dalam kerangka pedagogis yang jelas. Teknologi, menurutnya, harus membantu guru menjelaskan materi, meningkatkan partisipasi siswa, memperkaya pengalaman belajar, dan mendukung pembelajaran mendalam.

Fajar juga mendorong peserta bimtek menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing dengan membagikan pengetahuan dan praktik baik yang diperoleh kepada guru lain melalui komunitas belajar.

“Ilmu yang diperoleh jangan berhenti pada peserta pelatihan. Fasilitasi belajar bersama, bangun komunitas belajar, dan sebarkan praktik baik agar transformasi pendidikan menjadi gerakan bersama,” pesannya.

Soroti Kesehatan Mental Peserta Didik

Selain literasi dan digitalisasi, Fajar menaruh perhatian pada isu kesehatan mental siswa. Ia menilai salah satu tantangan generasi muda saat ini adalah menurunnya kemampuan fokus, berkurangnya kualitas interaksi sosial, serta meningkatnya kecemasan akibat penggunaan teknologi yang tidak seimbang.

Merujuk pemikiran Jonathan Haidt dalam buku The Anxious Generation, Fajar menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari upaya menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Karena itu, Kemendikdasmen terus memperkuat peran guru Bimbingan Konseling (BK) dan mendorong setiap guru memiliki kepekaan sebagai pendamping tumbuh kembang peserta didik.

“Kesehatan mental menjadi salah satu perhatian kami. Pembelajaran mendalam hanya akan berhasil jika pendidikan dijalankan secara holistik. Dalam batas tertentu, setiap guru adalah konselor bagi peserta didik,” ujarnya.

Menutup kegiatan, Fajar mengajak para pendidik untuk membangun ekosistem pembelajaran yang mampu mengintegrasikan teknologi, literasi dasar, pendidikan karakter, dan kesehatan mental secara seimbang.

“Digitalisasi bukan tujuan akhir. Tujuan akhirnya adalah manusia Indonesia yang mampu berpikir, berkarakter, sehat secara mental, dan siap menjadi pembelajar sepanjang hayat,” ucapnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Khoirul Amin
PenulisKhoirul AminAhli Madya Bahasa Inggris Dan Dunia Usaha Universitas Negeri Malang (2001). Bergabung di TIMES Indonesia sejak Oktober 2024. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains (pendidikan), seni, budaya dan kegiatan sosial keagamaan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia