Advertisement
Pendidikan

Pernah Putus Sekolah, Tiga Anak Banyuwangi Ini Berhasil Bangkit Berkat Sekolah Rakyat

Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 46 Muncar luluskan tiga siswa yang pernah putus sekolah. Aura ke UNEJ, Dimas dan Luis kerja di Toyota. Bupati Ipuk: perluas akses pendidikan.

TIMES Indonesia,
Pernah Putus Sekolah, Tiga Anak Banyuwangi Ini Berhasil Bangkit Berkat Sekolah Rakyat
Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 46 Muncar, Banyuwangi, diwisuda. (FOTO: Humas Pemkab for TIMES Indonesia)
A-AA+

BANYUWANGI Harapan yang sempat pupus kini kembali menyala bagi tiga anak Banyuwangi yang pernah putuh sekolah akibat keterbatasan ekonomi. Melalui program Sekolah Rakyat, mereka berhasil melanjutkan pendidikan hingga lulus dan kini siap menatap masa depan dengan lebih optimistis.

Ketiga siswa tersebut resmi mengikuti prosesi kelulusan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 46 yang berada di kompleks Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kecamatan Muncar, Sabtu (20/6/2026).

Advertisement

Tiga siswa yang lulus dari jenjang SMA sederajat tersebut adalah Auratul Hasanah, Dimas Kiki Andreansyah, dan Luis Cicko Putra Erdiyanto. Sebelum bergabung dengan Sekolah Rakyat, mereka sempat berhenti sekolah karena berbagai faktor, terutama kondisi ekonomi keluarga.

Auratul Hasanah atau Aura menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pendidikan mampu mengubah masa depan seseorang. Gadis berusia 18 tahun itu sempat meninggalkan bangku sekolah dan bekerja di perkebunan kopi.

“Setelah tidak sekolah, saya ikut bekerja di perkebunan. Terus ditawari masuk Sekolah Rakyat, Alhamdulillah sekarang sudah lulus,” kata Aura, Sabtu (20/6/2026).

Perjuangan Aura pun berbuah manis. Setelah lulus, dia diterima untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Jember (UNEJ).

Di sisi lain, dua rekannya memilih jalur berbeda. Mereka memutuskan langsung memasuki dunia kerja untuk membantu perekonomian keluarga.

Advertisement

Salah satunya adalah Dimas yang mengaku sempat menganggur selama setahun setelah putus sekolah.

“Saya dulu sempat satu tahun menganggur karena tidak sekolah. Lalu ditawari masuk Sekolah Rakyat, dan alhamdulillah tidak mengulang dari awal kelas 10, tapi langsung kelas 12 sehingga sekarang bisa lulus. Saya ingin bekerja untuk membantu ekonomi keluarga,” bebernya.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang hadir dalam prosesi wisuda, mengaku bangga melihat semangat para siswa yang tidak menyerah meski pernah mengalami putus sekolah.

“Hari ini tidak hanya menyaksikan prosesi kelulusan. Tapi kita menyaksikan anak-anak yang terus tumbuh, belajar, berkarya, dan mempersiapkan diri meraih masa depan yang lebih baik,” tuturnya.

Menurut Ipuk, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi akan terus memperluas akses pendidikan yang inklusif dan berkualitas agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan belajar.

“Berbagai program pendidikan terus kami jalankan untuk memastikan tidak ada anak Banyuwangi yang tertinggal dalam memperoleh hak pendidikan,” tegasnya.

Pemkab Banyuwangi selama ini telah menjalankan berbagai program pendidikan, seperti Siswa Asuh Sebaya (SAS), Gerakan Daerah Angkat Anak Putus Sekolah (Garda Ampuh), Banyuwangi Cerdas, hingga program pendampingan anak putus sekolah. Kehadiran Sekolah Rakyat dinilai semakin melengkapi upaya tersebut.

Sementara itu, Kepala SRT 46, Winarno, menjelaskan bahwa sistem pendidikan di Sekolah Rakyat menyesuaikan jenjang terakhir yang pernah ditempuh siswa.

“Anak yang masuk Sekolah Rakyat disesuaikan dengan jenjang pendidikan sebelumnya. Jika putus sekolah saat kelas 3, maka tidak perlu mengulang dari kelas 1, tetapi bisa langsung melanjutkan di kelas 3,” jelasnya.

Winarno menyebut, setelah lulus para siswa juga mendapatkan pendampingan untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja. Dua lulusan yang memilih bekerja bahkan telah mengikuti pelatihan di BPVP Muncar.

“Alhamdulillah keduanya telah diterima bekerja di Toyota,” ungkapnya.

Saat ini, program pendidikan unggulan Presiden Prabowo di Muncar ini memiliki 88 siswa, terdiri dari 48 siswa jenjang SD dan 40 siswa jenjang SMA.

Sebagai informasi, di Banyuwangi, Sekolah Rakyat sementara beroperasi di dua lokasi, yakni di Balai Diklat PNS di Kecamatan Licin dan BPVP Muncar.

Ke depan, seluruh siswa akan dipusatkan di SRT yang sedang dibangung oleh Kementerian Pekerjaan Umum di Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, di atas lahan seluas tujuh hektare milik Pemkab Banyuwangi.

Keberhasilan tiga lulusan tersebut menjadi bukti bahwa kesempatan kedua dalam pendidikan mampu mengubah jalan hidup. Dari sempat putus sekolah, kini mereka kembali memiliki harapan dan tujuan untuk meraih masa depan yang lebih baik. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Muhamad Ikromil Aufa
PenulisMuhamad Ikromil AufaPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2024. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia