STKIP PGRI Pacitan Ajak Mahasiswa Lestarikan Dolanan Anak Lewat Festival Budaya
STKIP PGRI Pacitan gelar Festival Dolanan Anak, Ukari & Paduan Suara Dies Natalis ke-34. 25 kelompok mahasiswa latih 25 SD main egrang, dakon, kasti. Ajak lestarikan budaya & karakter anak.
PACITAN – STKIP PGRI Pacitan mengajak mahasiswa berperan aktif melestarikan permainan tradisional atau dolanan anak melalui Festival Budaya Dolanan Anak, Unjuk Karya Seni Tari (Ukari), dan Paduan Suara.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-34 kampus itu juga menjadi media pembelajaran berbasis praktik bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).
Ketua Pelaksana kegiatan, Uyun Akhila Bima Antares, mengatakan festival tersebut merupakan luaran mata kuliah yang wajib diikuti mahasiswa.
Festival Dolanan Anak dan Ukari menjadi proyek akhir mahasiswa PGSD semester IV, sedangkan paduan suara merupakan luaran mata kuliah Seni Musik bagi mahasiswa semester VI.
Untuk Festival Dolanan Anak, mahasiswa diterjunkan langsung ke sekolah dasar yang menjadi mitra STKIP PGRI Pacitan.
Tahun ini, sebanyak 25 kelompok mahasiswa mendampingi 25 sekolah dasar dalam memperkenalkan kembali berbagai permainan tradisional kepada siswa.
"Mahasiswa disuruh terjun langsung ke sekolah dasar untuk melatih anak-anak yang sudah bermitra dengan STKIP PGRI Pacitan. Kebetulan ada 25 kelompok dan 25 sekolah yang bermitra, jadi satu sekolah satu kelompok," ujar Uyun, Senin (29/6/2026).
Menurut dia, permainan yang dikenalkan meliputi berbagai dolanan tradisional seperti egrang, dakon, kelereng, hingga kasti.
Melalui kegiatan yang berlangsung dua hari tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar menerapkan materi perkuliahan, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga warisan budaya lokal.
Uyun menilai keberadaan dolanan anak semakin tergerus oleh perkembangan zaman. Karena itu, festival tersebut diharapkan mampu mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda.
"Harapannya baik mahasiswa maupun anak-anak mengetahui kembali apa saja dolanan anak yang dulu sudah ada. Jadi kita ingin menghidupkan kembali dolanan anak yang mulai terancam punah," katanya.
Sementara itu, Ketua STKIP PGRI Pacitan Bakti Sutopo mengatakan festival tersebut menjadi bagian dari implementasi pembelajaran yang menggabungkan teori dengan praktik di lapangan.
Menurut dia, kegiatan itu memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan melalui kolaborasi dengan sekolah mitra.
"Kegiatan ini memberikan ruang kepada mahasiswa untuk berkreasi dan memanfaatkan teori-teori yang diperoleh melalui praktik secara langsung," ujarnya.
Bakti menambahkan, keterlibatan 25 sekolah dasar dalam festival tersebut menjadi bagian dari komitmen STKIP PGRI Pacitan dalam mendukung pelestarian budaya lokal sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan pengetahuan sosial dan budaya di Kabupaten Pacitan.
Lebih lanjut, Bakti menegaskan seluruh aktivitas akademik di STKIP PGRI Pacitan berpedoman pada nilai PRADIPA, yang merupakan akronim dari profesional, religius, amanah, dinamis, inovatif, pelayanan, dan akuntabel sebagai landasan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Ia berharap festival tidak hanya dipandang sebagai ajang pertunjukan seni, tetapi juga menjadi sarana menanamkan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam permainan tradisional kepada mahasiswa maupun siswa sekolah dasar.
Selain Festival Dolanan Anak, kegiatan juga menampilkan Unjuk Karya Seni Tari yang dibawakan mahasiswa semester IV serta paduan suara mahasiswa semester VI sebagai bentuk implementasi pembelajaran seni di lingkungan kampus. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


