Kemendikdasmen Perkuat Wajib Belajar 13 Tahun, PAUD Jadi Fondasi SDM Indonesia
Kemendikdasmen memperkuat implementasi Wajib Belajar 13 Tahun dengan meningkatkan kualitas PAUD, kelompok bermain, dan penitipan anak sebagai fondasi pembangunan SDM.

JAKARTA – Pemerintah menempatkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai titik awal dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia. Melalui implementasi Wajib Belajar 13 Tahun, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperluas perhatian tidak hanya pada taman kanak-kanak, tetapi juga kelompok bermain dan layanan penitipan anak sebagai bagian dari ekosistem pendidikan usia dini.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pendidikan nasional sejak tahap paling awal, ketika perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan karakter anak berlangsung sangat pesat.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini merupakan investasi jangka panjang yang menentukan kualitas peserta didik pada jenjang berikutnya.
"Kami di kementerian berkomitmen memperkuat pendidikan anak usia dini. Wajib Belajar 13 Tahun dimulai dari taman kanak-kanak, dan kami juga terus memberikan perhatian terhadap layanan kelompok bermain maupun penitipan anak agar kualitas layanan pendidikan sejak usia dini semakin baik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026).
PAUD Menjadi Fondasi Pendidikan
Menurut Abdul Mu'ti, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman belajar pada usia dini memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan akademik, kesiapan belajar, hingga perkembangan sosial anak pada masa berikutnya.
Karena itu, peningkatan mutu PAUD dipandang bukan sekadar memperluas akses pendidikan, tetapi juga membangun fondasi yang kuat bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Pemerintah menilai investasi pada pendidikan usia dini akan memberikan dampak jangka panjang terhadap produktivitas, daya saing, dan kualitas generasi penerus bangsa.
Pendidikan Dasar Jadi Prioritas
Selain memperkuat PAUD, Kemendikdasmen juga menempatkan peningkatan mutu pendidikan dasar sebagai salah satu agenda utama.
Abdul Mu'ti menyebut pendidikan dasar merupakan foundation education yang membentuk kemampuan akademik sekaligus karakter peserta didik.
"Pendidikan dasar adalah fondasi. Karena itu, kualitas guru, proses pembelajaran, penguatan kemampuan dasar, pembentukan karakter, perkembangan motorik, spiritual, maupun kecakapan sosial harus menjadi perhatian utama," katanya.
Pendekatan tersebut mencerminkan arah kebijakan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, hingga keterampilan sosial yang dibutuhkan di masa depan.
Dapodik Jadi Dasar Pengambilan Kebijakan
Untuk memastikan kebijakan berjalan lebih tepat sasaran, Kemendikdasmen terus memanfaatkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sebagai basis perencanaan program.
Melalui pemetaan data pendidikan dari berbagai daerah, pemerintah dapat mengidentifikasi kebutuhan masing-masing wilayah, mulai dari ketersediaan guru, sarana prasarana, hingga kualitas layanan pendidikan.
Pendekatan berbasis data ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus mengurangi kesenjangan mutu pendidikan antardaerah.
Membangun SDM Sejak Usia Dini
Penguatan implementasi Wajib Belajar 13 Tahun menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak dimulai ketika anak memasuki sekolah dasar, melainkan sejak fase pendidikan usia dini.
Dengan memperkuat kualitas PAUD, kelompok bermain, dan layanan penitipan anak, pemerintah berharap dapat menghadirkan layanan pendidikan yang lebih berkualitas, inklusif, dan merata. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menyiapkan generasi Indonesia yang unggul, adaptif, dan berdaya saing menghadapi tantangan pembangunan pada masa mendatang.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


