Advertisement
Pendidikan

Mengenal CANA, Model Pembelajaran yang Menekankan Kesadaran dan Kolaborasi

Collaborative Activation for Nurturing Awareness (CANA) merupakan model pembelajaran yang menonjolkan kesadaran guru dalam mengajar peserta didik.

TIMES Indonesia,
Mengenal CANA, Model Pembelajaran yang Menekankan Kesadaran dan Kolaborasi
Pelaksanaan CANA Academic Series 2026 di UM. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Collaborative Activation for Nurturing Awareness (CANA) merupakan model pembelajaran yang menonjolkan kesadaran guru dalam mengajar peserta didik. Hal tersebut disampaikan oleh Pakar Universitas Negeri Malang (UM Malang), Prof. Dr. Syihabuddin, M.Pd melalui melalui kegiatan Academic Series yang digelar di UM, Senin (6/7/2026).

Prof. Syihabuddin menjelaskan bahwa CANA dikembangkan untuk mendorong guru mengajar dengan kesadaran penuh sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

Advertisement

“Dengan kesadaran guru ketika mengajar, maka guru dan proses pembelajarannya akan lebih berkualitas sehingga dapat meningkatkan kualitas siswa juga,” jelasnya. 

Ia menambahkan bahwa banyak pendidik sering tidak memiliki kesadaran secara penuh ketika mengajar. Ia mencontohkan kondisi ketika guru langsung memarahi siswa yang ribut di kelas tanpa terlebih dahulu mengelola emosinya.

Dalam konsep CANA, guru didorong untuk terlebih dahulu menyadari posisinya sebagai pendidik sebelum mengambil tindakan.

“Guru harus sadar posisinya guru, bagaimana dia menenangkan dirinya mengelola emosi terlebih dahulu dan sadar posisinya sebagai pendidik,” tambahnya. 

Prof. Syihabuddin menambahkan, untuk membangun kesadaran tersebut, terdapat enam tahapan untuk membantu guru. Pertama adalah Activate Awareness, yaitu mengaktifkan kesadaran guru terhadap posisinya. Lanjutnya, guru harus memahami berbagai macam karakter siswa. 

Advertisement

Kedua adalah Release Emotion, yaitu terkait pelepasan emosi. Menurutnya, ia harus memahami terlebih dahulu akan emosinya sebelum dilepaskan. 

“Misal dia sedang emosi, maka harus memahami emosinya seperti apa, apa marah, sedih, atau yang lain,” tambahnya. 

Ketiga adalah Reframe Mindset, yaitu mengubah pemikiran terkait posisi guru. Untuk poin ini, ia menambahkan bahwa akan ada pendampingan khusus dari ahli yaitu psikiater dan psikolog. 

Keempat yaitu Stabilize Mental State. Menurutnya, seorang guru perlu menguatkan mentalnya dalam proses pembelajaran. 

Kelima merupakan Collaborative Action. Prof. Syihabuddin mengatakan bahwa CANA tidak bisa berjalan apabila beban diserahkan kepada guru semua. Peran kooperatif orang tua dan siswa dalam hal ini menjadi penting. 

Dan yang terakhir adalah Nurturing Awareness, dimana kesadaran yang sudah tumbuh harus dipelihara dan jangan sampai padam. 

“Itulah enam pilar CANA yang harus dipahami, semoga dari sini muncul kesadaran hingga pemahaman dalam merilis emosi,” imbuhnya. 

Dalam model CANA, kolaborasi menjadi kunci penting untuk menjaga kualitas pendidikan. 

Kedepan, ia berharap CANA tidak hanya difokuskan untuk guru saja, tetapi juga bisa dikembangkan untuk orang tua, siswa, bahkan para pemimpin.

“Kita semua membutuhkan kesadaran, maka saya berharap CANA bisa dikembangkan lebih jauh untuk semuanya,” pungkasnya.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Miranda Lailatul Fitria
PenulisMiranda Lailatul FitriaSarjana Hukum Universitas Brawijaya. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2025. Meliput berbagai topik, termasuk pendidikan, hukum, dan budaya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia