Prof Mahfud Effendi: Prodi Perguruan Tinggi Harus Relevan dengan Zamannya
Guru Besar UMM Moh. Mahfud Effendi menilai perguruan tinggi harus beradaptasi dengan membuka program studi baru dan memperkuat kolaborasi lintas disiplin sesuai kebutuhan Gen Z dan dunia kerja.
MALANG – Guru Besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, M.M., menilai perguruan tinggi harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membuka program studi baru serta memperkuat kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Menurutnya, transformasi tersebut menjadi kebutuhan karena karakter calon mahasiswa dan tuntutan pasar kerja terus berkembang.
"Contohnya perubahan nama fakultas merupakan respons terhadap perkembangan zaman. Kita tidak bisa hanya bertahan, tetapi harus memperluasnya," ujar Mahfud, Senin (6/7/2026).
Menurut Dekan Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH) UMM itu, perubahan nomenklatur fakultas bukan sekadar pergantian nama, melainkan bagian dari strategi membuka ruang kolaborasi antarbidang ilmu.
Ia menilai selama ini sejumlah disiplin ilmu masih dipandang berdiri sendiri, padahal memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui pendekatan multidisiplin.
Mahfud juga menyoroti perubahan karakter generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, yang memiliki cara belajar, minat, dan harapan berbeda dibanding generasi sebelumnya.
"Sekarang zamannya Gen Z dan Alpha, maka didiklah anak sesuai zamannya dan sesuai kebutuhannya. Sebagai institusi pendidikan, kita tidak bisa hanya diam saja," katanya.
Menurutnya, perubahan preferensi tersebut turut memengaruhi minat calon mahasiswa terhadap sejumlah program studi, terutama bidang keguruan.
Karena itu, UMM bersama sejumlah perguruan tinggi lain melakukan penyesuaian, salah satunya dengan mengubah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) menjadi Fakultas Pendidikan, Sains, dan Humaniora (FPSH).
"Calon mahasiswa sekarang tidak begitu tertarik pada bidang keguruan. Selain faktor kesejahteraan, generasi sekarang juga tidak ingin terlalu terkungkung. Mereka ingin berpikir lebih bebas, dan itu yang kami sediakan," ujarnya.
Mahfud menambahkan, transformasi tersebut harus diikuti dengan pengembangan program studi yang sesuai kebutuhan masa depan.
Di lingkungan FPSH UMM, misalnya, kampus berencana menambah Program Studi Sains Aktuaria dan Data Science untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja di bidang analisis data dan industri berbasis teknologi.
"Perubahan nama fakultas tidak cukup hanya pada nomenklatur. Program studi di dalamnya juga harus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat," jelasnya.
Meski hingga kini belum ada regulasi yang mewajibkan perguruan tinggi membuka program studi baru, Mahfud meyakini arah kebijakan pendidikan tinggi akan semakin mendorong kampus untuk lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan dunia kerja. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


