Advertisement
Pendidikan

Awali Tahun Ajaran Baru, SMP Mu’allimat NU Gresik Deklarasi Anti Bullying

Ratusan siswa SMP Mu’allimat NU Gresik menggelar deklarasi anti-perundungan dan kekerasan pada hari pertama masuk sekolah saat momen MPLS 2026.

TIMES Indonesia,
Awali Tahun Ajaran Baru, SMP Mu’allimat NU Gresik Deklarasi Anti Bullying
Deklarasi anti perundungan di Kabupaten Gresik (Foto: Akmal/TIMES Indonesia)
A-AA+

GRESIK Mengawali tahun ajaran baru, ratusan siswa SMP Mu’allimat NU Gresik mengikuti deklarasi anti-perundungan (anti-bullying) pada momen Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Langkah ini menjadi bentuk komitmen untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh warga sekolah.

Kepala SMP Mu’allimat NU Gresik, Muhammad Syarifuddin, menegaskan bahwa proses belajar mengajar hanya dapat berlangsung optimal apabila seluruh warga sekolah merasa aman dan dihargai.

Advertisement

"Di sekolah ini, kita percaya bahwa belajar hanya bisa terjadi di tempat yang aman dan nyaman. Karena itu, kami mendeklarasikan diri sebagai Sekolah Anti Perundungan dan Kekerasan," ujarnya, Senin (13/7/2026).

Syarifuddin menekankan bahwa perundungan bukanlah bagian dari candaan, sementara kekerasan tidak dapat dibenarkan sebagai cara mendidik. Menurutnya, setiap siswa, guru, dan tenaga kependidikan memiliki hak yang sama untuk dihormati tanpa membedakan suku, kondisi fisik, maupun kemampuan.

Ia mengajak seluruh warga sekolah untuk menjaga budaya saling menghargai melalui tiga kata kunci, yakni Hormati, Lindungi, dan Laporkan.

"Hormati perbedaan, lindungi teman yang lemah, dan laporkan jika melihat ketidakadilan. Sekolah yang hebat lahir dari hati yang saling menghargai," katanya.

Dalam deklarasi tersebut, seluruh siswa menyatakan komitmen untuk menghentikan segala bentuk perundungan dan kekerasan di lingkungan sekolah. Bentuk-bentuk perilaku seperti ejekan, pemalakan, ujaran kasar, hingga kekerasan fisik ditegaskan tidak mendapat toleransi.

Advertisement

Salah seorang siswi kelas IX, Danisa, menyambut baik deklarasi tersebut. Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi tempat yang membuat siswa merasa aman untuk belajar dan berkembang.

"Sekolah itu tempat kita tumbuh, bukan tempat kita takut. Di sini tidak ada bercanda yang berlebihan sampai membuat teman menangis. Kuat itu melindungi, bukan menindas," tuturnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Akmalul Azmi
PenulisAkmalul AzmiSarjana Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura (2017). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia