ITB Asia Malang Dampingi Petani Desa Taji, Dorong Kopi Lokal Naik Kelas lewat Inkubasi Bisnis
ITB Asia Malang: peningkatan kesejahteraan petani tidak cukup hanya mengandalkan produktivitas kebun, juga bagaimana petani mampu menciptakan nilai tambah komoditas mereka
MALANG – Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Asia Malang terus memperkuat perannya dalam pemberdayaan masyarakat desa melalui pengembangan potensi ekonomi lokal. Kali ini, kampus di Jl Soekarno Hatta Kota Malang, ini, mendampingi petani kopi di Desa Taji, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jatim.
Program yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Anggaran 2026 ini dibuat untuk meningkatkan nilai jual hasil panen melalui pengolahan pascapanen dan strategi inkubasi bisnis.
Program itu dilaksanakan melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) yang berlangsung sepanjang Mei hingga Juli 2026. Kegiatan ini memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Anggaran 2026 sebagai bagian dari penguatan tridarma perguruan tinggi dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
Mengusung tema "Transformasi Kopi Taji sebagai Produk Potensial Daerah melalui Implementasi Strategi Inkubasi Bisnis Desa Binaan", program ini difokuskan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kopi sekaligus membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui pendampingan yang berkelanjutan.
Ketua Tim Program PDB ITB Asia Malang Agus Purnomo Sidi, S.Sos., M.M. menjelaskan, selama ini sebagian besar petani di Desa Taji masih menjual hasil panen dalam bentuk buah kopi segar atau gelondong. Kondisi tersebut menyebabkan nilai ekonomi yang diterima petani relatif rendah karena belum melalui proses pengolahan.
"Selama ini kopi dijual dalam bentuk gelondong dengan harga sekitar Rp18 ribu per kilogram. Melalui program ini kami ingin mendorong petani agar mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi, seperti green bean maupun roasted bean, sehingga peluang pasarnya juga semakin luas," ujar Agus.
Menurutnya, peningkatan kesejahteraan petani tidak cukup hanya mengandalkan produktivitas kebun. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu menciptakan nilai tambah dari komoditas yang mereka hasilkan.
Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada pelatihan teknis semata, tetapi juga menyentuh aspek perubahan pola pikir masyarakat agar lebih berorientasi pada pengembangan usaha.
Agus mengakui proses tersebut bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah kebiasaan sebagian petani yang memilih menjual hasil panen sesaat setelah dipetik karena membutuhkan uang tunai dalam waktu cepat.
"Saat ini petani banyak sekali yang ingin mendapatkan uang langsung dari panennya. Sehingga kemauan untuk mengolah lebih lanjut masih relatif rendah. Karena itu, kami melakukan pendampingan secara bertahap agar mereka dapat melihat manfaat ekonomi dari proses pengolahan tersebut," katanya.
Program pemberdayaan ini melibatkan tim multidisiplin dari ITB Asia Malang. Selain Agus Purnomo Sidi sebagai ketua, kegiatan juga didukung Dr. Puji Subekti, S.Si., M.Si., Widya Adhariyanty Rahayu, S.Pd., M.Pd., serta Prof. Dr. Boge Triatmanto, S.E., M.M. dari Universitas Merdeka Malang.
Pelaksanaan program turut diperkuat oleh empat mahasiswa ITB Asia Malang yang terjun langsung mendampingi masyarakat bersama Pemerintah Desa Taji.
Secara keseluruhan, program ini melibatkan sekitar 20 anggota kelompok tani dan 20 pemuda desa sebagai peserta utama. Keterlibatan generasi muda sengaja diperkuat agar pengembangan kopi Desa Taji tidak hanya bertumpu pada petani senior, tetapi juga melahirkan wirausaha baru berbasis potensi lokal.
Pendampingan dilakukan melalui berbagai metode, mulai seminar, sarasehan, diskusi kelompok hingga praktik langsung di lapangan.
Menariknya, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang pertemuan. Tim juga memilih berdiskusi di warung milik pemuda desa maupun langsung di kebun kopi milik petani.
Pendekatan tersebut dipilih agar proses pendampingan berlangsung lebih cair, dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, sekaligus memudahkan tim menggali persoalan nyata yang dihadapi petani dalam mengembangkan usaha kopi mereka.
Dalam setiap sesi, peserta memperoleh materi mengenai strategi penciptaan nilai tambah (value creation), teknik pengolahan pascapanen, peluang pemasaran, hingga pengembangan model bisnis berbasis potensi desa.
Desa Taji sendiri bukan merupakan lokasi baru bagi ITB Asia Malang. Desa ini telah menjadi desa binaan sejak tahun 2023.
Pada tahap awal, pendampingan lebih diarahkan pada peningkatan literasi masyarakat. Seiring berkembangnya program, fokus pemberdayaan kemudian bergeser menuju penguatan ekonomi desa melalui optimalisasi komoditas unggulan, yakni kopi.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, ITB Asia Malang berharap Desa Taji mampu melahirkan produk kopi dengan identitas lokal yang memiliki daya saing lebih tinggi di pasar.
Selain meningkatkan pendapatan petani, program ini juga diharapkan membuka peluang lahirnya pelaku usaha baru dari kalangan pemuda desa yang mampu mengembangkan industri kopi dari hulu hingga hilir.
Dengan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, mahasiswa, dan masyarakat, Program Pemberdayaan Desa Binaan ini diharapkan menjadi model pengembangan ekonomi desa yang tidak hanya meningkatkan kualitas produk lokal, tetapi juga memperkuat kemandirian masyarakat melalui inovasi, inkubasi bisnis, dan pemanfaatan potensi unggulan daerah secara berkelanjutan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


