Advertisement
Pendidikan

Dari Pelosok Tegal, SDN Randusari 04 Kenalkan Guru dengan Konsep Line Up ala Piala Dunia 2026

SDN Randusari 04 di pelosok Tegal viral lewat video MPLS kreatif bertema line up Piala Dunia 2026, perkenalkan guru dengan gaya sepak bola yang dekat dengan dunia anak.

TIMES Indonesia,
Dari Pelosok Tegal, SDN Randusari 04 Kenalkan Guru dengan Konsep Line Up ala Piala Dunia 2026
Khairudin saat memperagakan video Line Up di Masa Pengenalan. lingkungan Sekolah. (Foto: Cahyo Nugroho/TIMES Indonesia)
A-AA+

TEGAL Kreativitas tidak selalu lahir dari sekolah dengan fasilitas lengkap. Hal itu dibuktikan oleh SD Negeri Randusari 04, sebuah sekolah dasar di pelosok Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sukses mencuri perhatian publik melalui cara unik memperkenalkan para guru kepada peserta didik baru.

Dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027, sekolah tersebut menghadirkan video perkenalan guru dengan konsep line up tim sepak bola, layaknya pengumuman susunan pemain pada ajang Piala Dunia 2026. 

Advertisement

Video tersebut menampilkan setiap guru secara bergantian dengan grafis bergaya stadion dan animasi pertandingan, serta musik yang selalu  menghadirkan atmosfer sepak bola internasional.

Konsep yang tidak biasa itu langsung menarik perhatian para siswa. Suasana perkenalan yang umumnya berlangsung formal berubah menjadi lebih hidup dan menghibur. 

Anak-anak tampak antusias menyaksikan kemunculan para guru yang diperkenalkan satu per satu lengkap dengan nama, jabatan, dan perannya di sekolah, sebagaimana pemain yang memasuki lapangan sebelum pertandingan dimulai.

Penggagas konsep tersebut, Mochammad Khairudin, mengatakan ide itu muncul dari keinginan menghadirkan pengalaman MPLS yang lebih dekat dengan dunia anak-anak masa kini.

"Anak-anak sekarang sangat dekat dengan dunia digital dan olahraga, khususnya sepak bola. Kami ingin membuat momen perkenalan guru menjadi lebih menarik sehingga mereka merasa senang sejak hari pertama masuk sekolah," ujar Khairudin, Kamis (16/7/2026).

Advertisement

Menurutnya, kesan pertama saat memasuki lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam membangun kenyamanan peserta didik. Karena itu, pihak sekolah mencoba mengemas kegiatan MPLS dengan pendekatan yang lebih kreatif tanpa menghilangkan nilai edukatif.

Ia menambahkan, visual menarik diharapkan mampu membantu siswa lebih mudah mengenali guru-guru yang akan mendampingi mereka selama proses belajar mengajar. Dengan demikian, hubungan antara guru dan peserta didik dapat terjalin lebih cepat sejak hari pertama sekolah.

Menariknya, inovasi tersebut lahir di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi sekolah. Hingga kini, SD Negeri Randusari 04 masih berdiri di atas lahan milik pemerintah desa. Proses pengalihan status lahan ke pemerintah daerah telah berlangsung sekitar enam tahun, namun belum juga rampung.

Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para pendidik untuk terus menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan. Alih-alih menjadikan keterbatasan sebagai alasan, para guru justru memanfaatkan kreativitas serta teknologi sederhana untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.

Kepala SD Negeri Randusari 04, Sri Winarni, menegaskan bahwa fokus utama sekolah adalah memberikan pelayanan pendidikan terbaik meski masih menghadapi berbagai tantangan.

"Kami memilih fokus memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan membangun kesan pertama yang positif bagi peserta didik baru," katanya.

Tak hanya mendapat apresiasi dari lingkungan sekolah, video tersebut juga viral di berbagai platform media sosial. Ribuan warganet memberikan tanggapan positif dan memuji kreativitas para guru. 

Banyak yang menilai bahwa konsep tersebut membuktikan bahwa inovasi pendidikan tidak harus bergantung pada anggaran besar maupun fasilitas modern.

Sejumlah pengguna media sosial bahkan berharap konsep serupa dapat diterapkan di sekolah lain sebagai cara menciptakan suasana MPLS yang lebih ramah, menyenangkan, dan berkesan bagi peserta didik baru. 

Mereka menilai pendekatan kreatif seperti ini mampu mengurangi rasa gugup anak-anak saat pertama kali memasuki lingkungan sekolah.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak selalu dimulai dari perubahan besar. Inovasi sederhana yang berangkat dari pemahaman terhadap karakter generasi saat ini justru mampu memberikan dampak positif dalam proses pembelajaran.

Kisah SD Negeri Randusari 04 menjadi pengingat bahwa sekolah-sekolah di daerah juga memiliki potensi besar untuk melahirkan gagasan inspiratif. 

Dengan memanfaatkan kreativitas, semangat kolaborasi, dan teknologi yang tersedia, sekolah di pelosok pun mampu menghadirkan pengalaman belajar modern, menyenangkan, dan relevan dengan kehidupan peserta didik.

Di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi, SD Negeri Randusari 04 membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kemegahan fasilitas, melainkan oleh dedikasi para pendidik yang terus berupaya menciptakan pengalaman belajar terbaik bagi setiap anak. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Cahyo Nugroho
PenulisCahyo NugrohoSarjana Ilmu Jurnalistik - Ilmu Sosial dan Politik (Kampus Tercinta) Lenteng Agung Jakarta (1989) Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2020 Meliput berbagai topik, Sosial dan budaya dan isu daerah
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia