Advertisement
Pendidikan

Berkat Rindu Bulan, 3.259 Anak Putus Sekolah di Banyuwangi Kembali Bersekolah

Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mencegah anak putus sekolah membuahkan hasil.

TIMES Indonesia,
Berkat Rindu Bulan, 3.259 Anak Putus Sekolah di Banyuwangi Kembali Bersekolah
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, saat visitasi program Rindu Bulan. (FOTO: Humas Pemkab for TIMES Indonesia)
A-AA+

BANYUWANGI Upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mencegah anak putus sekolah membuahkan hasil. Melalui Program Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun (Rindu Bulan), sebanyak 3.259 anak tidak sekolah berhasil kembali mengenyam pendidikan.

Program yang diluncurkan sejak 2023 itu, mengedepankan kolaborasi hingga tingkat desa dan kelurahan untuk memastikan tidak ada anak yang kehilangan hak memperoleh pendidikan, baik melalui jalur sekolah formal maupun pendidikan kesetaraan.

Advertisement

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen memberikan akses pendidikan kepada seluruh anak hingga jenjang SMA atau sederajat, tanpa terkecuali.

“Bagi kami, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan apa pun persoalannya. Setiap anak berhak mendapatkan haknya untuk bersekolah melalui berbagai skema bantuan,” kata Ipuk, Kamis (16/7/2026).

Menurut Ipuk, berbagai bentuk afirmasi telah disiapkan pemerintah untuk membantu anak-anak yang rentan putus sekolah. Mulai dari bantuan perlengkapan sekolah, uang saku, pendidikan kesetaraan, hingga pendampingan agar mereka dapat kembali ke bangku sekolah.

Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah Rindu Bulan, yang mengoptimalkan kolaborasi antara pemerintah desa, kelurahan, sekolah, Kementerian Agama, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, hingga Baznas.

Melalui kolaborasi tersebut, proses pendataan dan pendampingan anak tidak sekolah dilakukan secara menyeluruh hingga ke tingkat desa.

Advertisement

“Penyisiran kami lakukan dari lingkup desa. Kalau kita kunci dari wilayah terkecil, penanganannya akan lebih tepat sasaran karena penyebab anak putus sekolah berbeda-beda sehingga bentuk bantuannya juga harus disesuaikan,” ujar Ipuk.

Ipuk menyebut, keberhasilan mengembalikan ribuan anak ke bangku pendidikan bukanlah akhir dari proses pendampingan. Pemkab Banyuwangi terus memastikan mereka tetap mendapatkan dukungan agar mampu menyelesaikan pendidikan hingga lulus.

“Tidak sekedar mengembalikan mereka ke sekolah, kami juga terus mendampingi, baik dari sisi prestasi maupun kebutuhan pendidikannya hingga lulus,” ucapnya.

Selain melalui pendataan, Ipuk juga rutin mendatangi rumah anak-anak yang teridentifikasi berisiko putus sekolah. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memberikan motivasi kepada anak maupun keluarganya agar tetap melanjutkan pendidikan.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Dinas Pendidikan Banyuwangi, Alfian, menjelaskan bahwa pendampingan diawali dengan proses verifikasi dan validasi data anak yang berpotensi putus sekolah. Tim kemudian melakukan kunjungan langsung ke rumah untuk mengetahui penyebab mereka tidak bersekolah.

“Anak-anak yang memang benar berstatus tidak sekolah akan kami visitasi untuk mengetahui akar persoalannya. Dari situ kami menentukan afirmasi atau bantuan yang paling sesuai, baik mengembalikan ke sekolah formal, pendidikan kesetaraan, maupun memfasilitasi akses berbagai bantuan pendidikan yang tersedia,” jelas Alfian.

Perlu diketahui, selain program Rindu Bulan, Banyuwangi juga punya program apik Siswa Asuh Sebaya (SAS). Melalui program ini, para siswa diajak menyisihkan sebagian uang saku mereka untuk membantu teman sekolah yang kurang mampu.

Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pendidikan, seperti pengadaan sepeda, kacamata, perlengkapan sekolah, uang saku, hingga bantuan lain yang dibutuhkan siswa.

Gerakan tersebut tidak hanya menjadi jaring pengaman sosial di lingkungan sekolah, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan kepedulian antarsiswa. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Muhamad Ikromil Aufa
PenulisMuhamad Ikromil AufaPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2024. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia