KKN Nusantara VI 2026 Jadikan Kawasan Baduy Laboratorium Pembelajaran Ekoteologi
KKN Nusantara VI 2026 melibatkan 240 mahasiswa dari 42 PTK se-Indonesia di kawasan Baduy, Lebak, Banten, untuk memperkuat ekoteologi, moderasi beragama, dan pemberdayaan masyarakat.
SERANG – Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI kembali menggelar Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara VI Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) se-Indonesia Tahun 2026. Program yang mengusung tema "Merawat Ekoteologi, Menjaga Tradisi: Meneguhkan Iman, Melestarikan Alam" ini dipusatkan di Kabupaten Lebak, Banten, dengan melibatkan mahasiswa dari 42 PTK di seluruh Indonesia.
Kegiatan dibuka Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. di Auditorium Gedung Rektorat UIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, Rabu (15/7/2026), yang ditandai dengan prosesi pemukulan bedug. Sehari kemudian, Kamis (16/7/2026), para peserta diberangkatkan menuju lokasi pengabdian di Kecamatan Leuwidamar dan Cirinten, Kabupaten Lebak, yang berada di kawasan sekitar permukiman masyarakat Baduy.
Menag: Mahasiswa Harus Menjadi Cendekiawan yang Arif
Dalam arahannya, Menteri Agama menegaskan bahwa mahasiswa peserta KKN tidak hanya dituntut menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia membedakan tiga tingkatan keilmuan, yakni ilmuwan yang menguasai teori, intelektual yang mampu menerapkan teori, dan cendekiawan yang menghadirkan dampak bagi kehidupan masyarakat. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi keagamaan diharapkan menjadi cendekiawan yang memiliki integritas sekaligus kepekaan sosial.
"Di perguruan tinggi umum, masyarakat mungkin hanya melihat undzur ma qala (lihat apa yang dikatakan). Tetapi tuntutan untuk alumni UIN dan Perguruan Tinggi Keagamaan tidak cukup itu, masyarakat akan melihat undzur man qala (siapa yang mengatakan). Ada muruah yang harus kita perhatikan. Jangan menjadi cendekiawan yang cerdas tapi egois menutup pintu dari lingkungannya," tegas Nasaruddin Umar.
Terkait tema ekoteologi, Menag mengingatkan peserta agar tidak datang dengan sikap merasa paling tahu. Menurutnya, masyarakat desa memiliki kearifan lokal yang telah teruji dalam menjaga hubungan harmonis dengan alam.
Ia mencontohkan bagaimana petani tradisional mampu memahami karakter tanah dan cuaca melalui pengalaman yang diwariskan turun-temurun.
"Orang tua kita dulu tidak pernah ditipu oleh alam karena mereka bersahabat dengan alam. Kalian nanti akan melihat ada jarak antara apa yang Anda ketahui di bangku kuliah sebagai kebenaran, dengan apa yang diamalkan masyarakat lokal. Jangan gampang menyalahkan orang lain. Kalian dituntut bukan hanya menjadi orang pintar, tapi harus menjadi orang arif," ujarnya.
Sebagai pedoman selama menjalankan KKN, Menag juga memperkenalkan delapan nilai karakter yang dirangkum dalam akronim ISTIQAMAH, yaitu Ikhlas, Sabar, Tawaduk, Ihsan, Qanaah, Akhlak, Muruah, dan Al-Haya'. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal mahasiswa saat berinteraksi dengan masyarakat.
Kawasan Baduy Dipilih sebagai Lokasi Pembelajaran Ekoteologi
Rektor UIN SMH Banten, Prof. Dr. H. Muhammad Ishom, S.Ag., M.A., mengatakan UIN Banten menerjunkan sekitar 1.400 mahasiswa KKN pada 2026. Sebanyak 1.200 mahasiswa telah ditempatkan di berbagai wilayah di Banten, sedangkan 240 mahasiswa lainnya merupakan delegasi KKN Nusantara dari 42 PTK se-Indonesia.
Menurut Ishom, kawasan Baduy dipilih karena dinilai menjadi contoh nyata praktik ekoteologi yang masih terjaga hingga kini.
"Kita sengaja memilih tema merawat ekoteologi, karena pada dasarnya orang Baduy memiliki nilai-nilai ekoteologis yang luar biasa. Di Baduy ada Baduy Dalam yang menolak modernisasi demi menjaga kemurnian alam, dan Baduy Luar yang meski terbuka tetap menjaga kelestarian lingkungan," katanya.
Ia menambahkan, keberadaan masyarakat adat Baduy dan komunitas penganut Sunda Wiwitan di Banten memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar mengenai pelestarian tradisi sekaligus membangun harmoni dalam kehidupan masyarakat yang beragam.
Mahasiswa Didorong Menjadi Agen Pemberdayaan
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr.phil. Sahiron, M.A., mengatakan KKN Nusantara merupakan program strategis yang mengintegrasikan pengabdian kepada masyarakat dengan penguatan nilai keagamaan, kearifan lokal, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Menurutnya, paradigma ekoteologi menempatkan manusia sebagai khalifah fil ardh yang memiliki tanggung jawab moral menjaga kelestarian bumi.
"Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya melaksanakan pengabdian sebagai bagian dari tridarma, tetapi juga hadir sebagai agen pemberdayaan masyarakat yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, kearifan lokal, dan inovasi dalam menjawab tantangan pembangunan," ujarnya.
Ia menambahkan, mahasiswa dibekali berbagai pendekatan pengabdian, seperti Asset Based Community Development (ABCD), Participatory Action Research (PAR), Community Based Research (CBR), dan Service Learning (SL) yang berorientasi pada potensi masyarakat setempat.
Ditargetkan Hasilkan Luaran Akademik dan Sosial
Kasubdit Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis Kementerian Agama, Dr. Nur Kafid, menegaskan bahwa KKN Nusantara VI tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kegiatan lapangan, tetapi juga harus menghasilkan luaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik maupun sosial.
Menurutnya, program ini ditargetkan menghasilkan artikel ilmiah, policy brief bagi pemerintah daerah, serta modul pemberdayaan masyarakat yang dapat diterapkan di berbagai wilayah.
"Kehadiran mahasiswa delegasi se-Indonesia di tengah masyarakat Baduy dan sekitarnya tidak boleh hanya sekadar menggugurkan kewajiban SKS. Transformasi sosial di Banten harus terdokumentasi dengan baik agar model penerapan ekoteologi ini dapat direplikasi oleh perguruan tinggi lain," ujarnya.
Selama 40 hari pelaksanaan KKN, mahasiswa dari 42 PTK diharapkan mampu mengembangkan program pemberdayaan masyarakat yang berpijak pada pelestarian lingkungan, penguatan nilai keagamaan, serta penghormatan terhadap kearifan lokal. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


