Dari Unmul ke Jepang, Warga Bontang Raih Penghargaan Bergengsi Internasional: Kisah Anisa Fitri Rahayu Menembus Dunia Sains
Anisa Fitri Rahayu, lulusan UNMUL, gagal masuk PTN, kini raih Paper Award The 97th Annual Meeting of The Japanese Biochemical Society 2024. Satu-satunya non-Jepang penerima penghargaan.
SAMARINDA – Di sebuah ruang penelitian di Jepang, ribuan kilometer dari kampung halamannya, Anisa Fitri Rahayu menghabiskan hari-harinya meneliti sesuatu yang tak kasat mata: kromatin dan epigenetik, bidang ilmu molekuler yang menjadi kunci memahami bagaimana gen bekerja dalam tubuh makhluk hidup.
Perjalanan yang membawanya ke sana tidak dimulai dari laboratorium canggih atau kampus ternama dunia. Semuanya berawal dari seorang gadis asal Bandung yang pernah gagal masuk perguruan tinggi impiannya.
Kini, nama Anisa tercatat sebagai penerima Paper Award dari Journal of Biochemistry pada The 97th Annual Meeting of The Japanese Biochemical Society tahun 2024. Yang membuat pencapaian itu semakin istimewa, ia menjadi satu-satunya akademisi non-Jepang yang menerima penghargaan tersebut pada tahun itu.
Bagi perempuan yang kini menetap di Kota Bontang itu, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan akademik, melainkan simbol dari perjalanan panjang yang dipenuhi kegigihan, kesepian, dan ketekunan.
Anisa lahir di Bandung pada 5 Maret 1995 dari pasangan Edi dan almarhumah Yeni. Sejak kecil, ia dikenal sebagai siswa yang rajin dan konsisten berprestasi. Saat duduk di bangku SMP hingga SMA, namanya hampir selalu berada di jajaran lima besar kelas.
Namun, prestasi akademik yang baik tidak serta-merta membuat jalannya mulus. Setelah lulus SMA, Anisa gagal diterima di kampus yang menjadi impiannya. Kegagalan itu sempat membuatnya mengubah arah hidup. Ia memutuskan merantau ke Samarinda dengan niat bekerja.
"Tidak pernah terbayang akan melangkah sejauh ini di dunia akademik," kenangnya.
Dukungan keluarga menjadi titik balik penting. Alih-alih berhenti mengejar pendidikan, ia kembali mencoba mengikuti SBMPTN, yang kini dikenal sebagai UTBK. Kesempatan kedua itu mengantarkannya menjadi mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Mulawarman.
Di kampus yang berlokasi di Samarinda itu, ketertarikan Anisa terhadap dunia penelitian mulai tumbuh kuat.
Ia dua kali dipercaya mewakili Kalimantan Timur dalam ajang Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi (ON-MIPA PT) bidang Biologi. Meski belum berhasil menembus tingkat nasional, pengalaman tersebut justru membentuk mentalnya sebagai peneliti.
Alih-alih menyerah, Anisa terus mencari peluang. Pada 2016, ia terpilih mewakili Universitas Mulawarman dalam FSCI Internship Program di King Mongkut's University of Technology Thonburi (KMUTT), Thailand.
Setahun kemudian, pengalaman internasionalnya bertambah melalui program praktik kerja lapangan di Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI—yang kini menjadi bagian dari BRIN—serta mengikuti NIBB Internship Program di Jepang. Bagi Anisa, kesempatan-kesempatan itu membuka matanya terhadap dunia penelitian global. Ia melihat bagaimana sains berkembang di negara lain, bagaimana budaya riset dibangun, dan bagaimana kolaborasi internasional menjadi bagian penting dari kemajuan ilmu pengetahuan.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 2017, Anisa kembali membuat lompatan besar. Pada 2018, ia berhasil memperoleh beasiswa Monbukagakusho atau MEXT dari Pemerintah Jepang, salah satu program beasiswa paling bergengsi di dunia.
Beasiswa itu membawanya menempuh program doktor terintegrasi di SOKENDAI yang berafiliasi dengan National Institute for Basic Biology (NIBB), Jepang. Selama lima tahun, ia mendalami bidang regulasi kromatin dan epigenetik, cabang ilmu biologi molekuler yang mempelajari bagaimana informasi genetik diatur dan diekspresikan.
Bidang tersebut masih relatif jarang dikembangkan di Indonesia, padahal memiliki peran penting dalam penelitian kesehatan, penyakit genetik, hingga pengembangan bioteknologi masa depan. Di usia 28 tahun, Anisa berhasil menyelesaikan program doktor tersebut dan langsung menyandang gelar PhD tanpa melalui jenjang magister terpisah karena mengikuti program terintegrasi.
Di balik capaian akademik yang gemilang, perjalanan Anisa di Jepang tidak selalu mudah. Ia mengaku salah satu tantangan terbesar selama menempuh studi adalah rasa kesepian. Di lembaga penelitian tempatnya bekerja, jumlah mahasiswa maupun peneliti Indonesia sangat sedikit. Ia menjadi salah satu orang asing yang harus beradaptasi dengan lingkungan baru, bahasa baru, dan budaya kerja yang berbeda.
"Sukanya bisa melihat bagaimana negara lain berkembang dan belajar budayanya. Dukanya kesepian karena di research institute saya orang asing, orang Indonesia juga sedikit," ujarnya.
Situasi semakin berat ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Selama lima tahun menjalani studi di Jepang, Anisa hanya dua kali bisa pulang ke Indonesia. "Karena Covid, selama lima tahun itu saya cuma dua kali pulang," katanya.
Jarak yang jauh dari keluarga, keterbatasan mobilitas, serta tekanan penelitian menjadi ujian tersendiri yang harus dihadapinya. Namun, dari laboratorium yang sunyi itulah lahir karya ilmiah yang kemudian mengantarkannya meraih penghargaan internasional.
Penelitian doktoralnya berjudul "Cooperative DNA-binding activities of Chp2 are critical for its function in heterochromatin assembly" berhasil menarik perhatian komunitas ilmiah internasional.
Karya tersebut diterbitkan di Journal of Biochemistry dan kemudian terpilih menerima Paper Award pada pertemuan tahunan ke-97 Japanese Biochemical Society tahun 2024. Penghargaan itu telah diberikan sejak 1993 kepada berbagai penulis artikel terbaik yang dipublikasikan di jurnal tersebut.
Namun yang pasti, pada tahun 2024 ia menjadi satu-satunya penerima penghargaan yang bukan berasal dari Jepang. "Saya kaget, senang, tidak menyangka, merasa sangat beruntung dan sangat bersyukur kepada Allah. Karena selama penelitian juga banyak jatuh bangun dan kesulitannya," tuturnya.
Kabar penghargaan itu disambut hangat oleh para pembimbing dan koleganya di Jepang. Profesor pembimbingnya, Prof. Jun-ichi Nakayama, beserta tim peneliti lainnya turut menyampaikan ucapan selamat dan apresiasi atas pencapaian tersebut.
Hal serupa juga datang dari dosen-dosen di Indonesia, termasuk dari lingkungan Universitas Mulawarman yang mengikuti perjalanan akademiknya sejak masih menjadi mahasiswa. "Banyak yang mengucapkan selamat dan mendoakan kesuksesan," katanya.Prestasinya bahkan sempat dipublikasikan melalui situs resmi National Institute for Basic Biology (NIBB).
Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Anisa kembali ke Indonesia dan melanjutkan karier sebagai postdoctoral fellow di Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN selama satu tahun.
Kini, ia memilih menetap di Kota Bontang. Perempuan yang pernah meneliti di laboratorium-laboratorium Jepang itu kini menjalani aktivitas sebagai tutor freelance sambil mencari posisi akademik maupun penelitian yang lebih permanen.
Meski telah meraih penghargaan internasional, ia tidak melihat pencapaian tersebut sebagai garis akhir. Baginya, proses belajar tidak pernah benar-benar selesai.
"Target ke depannya adalah terus bergerak, terus belajar dalam segala hal, dan semoga bisa terus berkarya dengan mengutamakan kejujuran dan integritas," tutupnya.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


