Kisah Athaya, Mahasiswa Berkebutuhan Khusus dari UB yang Melaju ke Tahap Nasional Pilmapres 2026
Mahasiswi Universitas Brawijaya, Athaya Putri Nirwasita, lolos seleksi awal Pilmapres 2026 kategori Diploma berkat inovasi AthayaArts dan perjalanan inspiratifnya.
MALANG – Perjalanan Athaya Putri Nirwasita menuju ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) 2026 bukan hanya tentang capaian akademik. Mahasiswi Program Diploma Administrasi Bisnis Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) itu berhasil lolos seleksi awal tingkat nasional kategori Diploma berkat rekam jejak prestasi dan inovasi yang dikembangkannya melalui AthayaArts, sebuah jenama fesyen berbasis karya lukis. Di balik pencapaian tersebut, Athaya merupakan mahasiswa berkebutuhan khusus yang selama ini menunjukkan kemampuan untuk terus berkarya dan berprestasi.
Athaya akan mengikuti tahap penilaian nasional Pilmapres 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Universitas Multimedia Nusantara pada Agustus mendatang.
Ibunda Athaya, Isa Maisah, mengatakan proses seleksi Pilmapres tersebut tidak hanya menilai prestasi akademik, tetapi juga berbagai capaian unggulan yang diraih mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
“Di sini pesertanya harus mengisi data capaian unggulan yang dinilai berdasarkan tingkat prestasinya, Athaya juga membuat video perkenalan diri dan menyusun proposal produk inovatif,” ujar perempuan yang akrab disapa Isa tersebut saat dihubungi TIMES Indonesia, 16 Juli 2026 lalu.
Dalam video perkenalan diri, Athaya memperkenalkan AthayaArts, sebuah brand fashion berbasis karya lukisan yang lahir dari keterbatasan sekaligus kreativitasnya sebagai penyandang disabilitas.
Isa mengatakan, sejak Athaya divonis sebagai anak berkebutuhan khusus, saat itu juga dirinya berfokus untuk membangun kemandirian dan rasa percaya diri Athaya.
“Athaya harus bisa percaya diri dan mandiri untuk dirinya sendiri, syukur kalau dia bisa berdampak kepada masyarakat, jadi fokus saya sebagai ibu hanya itu,” tambahnya.
Ia mengenang bagaimana dirinya menerapkan pola pengasuhan yang disebut konsep 3D, yakni diamati, difasilitasi, dan dievaluasi. Dari proses tersebut, Isa menemukan bahwa Athaya memiliki ketertarikan besar pada dunia seni.
Awalnya aktivitas melukis Athaya hanya dilakukan sebagai proses terapi alami untuk melatih kemampuan motorik halus. Namun, Isa mengamati bahwa anaknya masih memiliki kendala, seperti cara memegang kuas yang benar. Isa pun mencoba membantunya dengan memberikan berbagai peralatan sederhana seperti alat-alat dapur yang mudah digenggam oleh Athaya.
Hasilnya di luar dugaan. Teknik tersebut justru menghasilkan karakter lukisan yang khas dengan komposisi warna, nilai seni yang kuat, dan terdapat cerita Athaya di baliknya.
“Dulu ibu kasih alat-alat seadanya pas Athaya masih kesulitan menggunakan kuas, malah ibu lihat lukisannya komposisinya pas, ada nilai estetika yang tersembunyi di dalamnya,” lanjutnya.
Dari situlah perjalanan seni Athaya dimulai.
Berangkat dari karya tersebut, pihak keluarga kemudian mengembangkan AthayaArts, yang menghasilkan lukisan menjadi produk fashion seperti hijab, tas, sepatu, outer, hingga berbagai aksesori.
Bukan sekadar wadah untuk berkarya, AthayaArts juga menjadi ruang pemberdayaan. Saat ini, usaha tersebut melibatkan ibu rumah tangga, penjahit penyandang disabilitas, hingga komunitas disabilitas dalam proses produksinya. Hal ini kemudian mengantar Athaya Putri yang saat itu masih menjadi siswa kelas 11 di SMKN 2 Kota Malang terpilih sebagai "Woman of The Year 2023” Anugerah TIMES Indonesia untuk wilayah Malang Raya.
“AthayaArts melibatkan teman-teman disabilitas, meskipun skalanya masih kecil,” tambahnya.
AthayaArts hadir dengan misi menumbuhkan kepercayaan diri, tidak hanya bagi Athaya, tapi seluruh penyandang disabilitas. Logo berbentuk daun kecil membawa pesan mendalam untuk tumbuh mandiri dan memberi dampak positif tidak harus menunggu sampai besar.
Selain itu, Ataya juga rutin menggelar pertunjukan fashion pada peringatan Hari Disabilitas Internasional dengan melibatkan teman-teman penyandang disabilitasnya. Tak jarang, AthayaArts juga tampil di berbagai acara fashion show di Kota Malang.
Melalui AthayaArts pula, limbah kain sisa produksi diolah kembali menjadi aksesori bernilai ekonomi sehingga mendukung konsep usaha berkelanjutan.
“Untuk kain perca sisa produksi juga kita olah menjadi aksesori, tentunya dengan dibantu teman-teman disabilitas juga,” imbuhnya.
Tentunya masih banyak prestasi lainnya yang membuat Athaya lolos menuju seleksi nasional Pilmapres 2026. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berprestasi. Athaya tidak hanya membuktikan dirinya mampu, tetapi juga memberikan semangat dan motivasi bagi para penyandang disabilitas di luar sana melalui inovasi, kreativitas, dan semangat yang tidak pernah padam. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


