Mahasiswa Polbangtan Malang Kembangkan Teknologi IoT Berbiaya Murah untuk Tingkatkan Produktivitas Sapi Perah Rakyat
Mahasiswa PPKH Polbangtan Malang mengembangkan sistem kontrol pendingin berbasis Internet of Things (IoT) sebagai solusi sederhana dan ekonomis untuk mengatasi heat stress pada sapi perah rakyat.
Malang – Komitmen Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dibuktikan melalui karya inovatif mahasiswa. M. Bernice Breeze T, mahasiswa Program Studi Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan (PPKH).
Ia berhasil mengembangkan sistem kontrol pendingin berbasis Internet of Things (IoT) sebagai solusi sederhana dan ekonomis untuk mengatasi heat stress (cekaman panas) pada sapi perah rakyat.
Inovasi tersebut dipresentasikan dalam Ujian Tugas Akhir Sarjana Terapan (S.Tr.) pada Jumat, 17 Juli 2026 lalu.
Penelitian berjudul “Evaluasi Penerapan Sistem Kontrol Pendingin Berbasis Internet of Things (IoT) pada Peternakan Sapi Perah Rakyat” berangkat dari tantangan nyata yang dihadapi peternak di tengah perubahan iklim.
Peningkatan suhu dan kelembaban lingkungan menyebabkan nilai Temperature Humidity Index (THI) meningkat sehingga memicu cekaman panas yang berdampak pada menurunnya produktivitas dan kualitas susu sapi perah.
Penelitian dilaksanakan di Hanif Farm, Kota Batu, Jawa Timur, dengan memanfaatkan aplikasi Bardi Smart Home dan perangkat smart dual plug berbasis Wi-Fi untuk mengendalikan kipas angin serta sistem sprayer secara otomatis sesuai kondisi mikroklimat kandang.
"Teknologi ini memungkinkan proses pendinginan dilakukan secara tepat waktu tanpa harus menunggu sapi menunjukkan gejala cekaman panas secara visual," ujarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan sistem pendingin berupa kipas angin selama 60 menit mampu menjaga kondisi fisiologis sapi tetap optimal. Laju respirasi, denyut jantung, dan suhu tubuh berada pada kisaran normal sehingga berdampak langsung terhadap peningkatan performa produksi susu.
Volume produksi susu meningkat sekitar 12,7 persen, disertai kualitas susu yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), baik dari kadar lemak, protein, maupun solid non fat (SNF).
Selain efektif, inovasi tersebut juga dinilai layak diterapkan oleh peternak rakyat karena membutuhkan investasi yang relatif rendah. Biaya pengadaan sistem kipas angin sekitar Rp592 ribu, sedangkan biaya operasional listrik hanya sekitar Rp405 per hari, sehingga memberikan solusi modern yang mudah diadopsi untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan.
Pelaksanaan ujian tugas akhir dipimpin oleh tim dosen penguji yang terdiri atas Kartika Budi Utami, selaku Ketua Program Studi PPKH, Yendri Junaidi dan Intan Galuh Bintari, Tim penguji memberikan apresiasi atas kebaruan penelitian yang mengimplementasikan konsep low-cost precision livestock farming sebagai solusi nyata bagi peternakan sapi perah rakyat.
Ketua Program Studi Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan (PPKH) Polbangtan Malang, Kartika Budi Utami, menyampaikan bahwa inovasi yang dikembangkan mahasiswa merupakan bukti nyata implementasi pendidikan vokasi yang berorientasi pada penyelesaian permasalahan di lapangan.
“Kami ingin setiap penelitian mahasiswa mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Inovasi yang dikembangkan Bernice menunjukkan bahwa transformasi digital di sektor peternakan tidak selalu membutuhkan investasi besar," ujarnya.
"Dengan teknologi IoT yang sederhana dan terjangkau, peternak dapat meningkatkan kesejahteraan ternak, menjaga produktivitas susu, sekaligus meningkatkan efisiensi usaha. Inilah bentuk nyata pendidikan vokasi yang menghasilkan solusi aplikatif bagi pembangunan peternakan Indonesia,” lanjutnya.
Kartika menambahkan bahwa Program Studi PPkH terus mendorong mahasiswa untuk menghasilkan inovasi yang tidak hanya memenuhi capaian akademik, tetapi juga memiliki potensi untuk diimplementasikan secara luas.
“Polbangtan Malang berkomitmen mencetak lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, mampu berpikir kritis, inovatif, dan menjadi agen perubahan di sektor peternakan," ujarnya.
Ia berharap inovasi seperti ini dapat terus dikembangkan, dihilirisasi, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi peternak rakyat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan mewujudkan peternakan modern yang berkelanjutan. (D)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


