BRIN Dorong Spirulina Jadi Pakan Masa Depan untuk Perikanan Berkelanjutan
BRIN mendorong pemanfaatan spirulina sebagai pakan fungsional untuk akuakultur. Mikroalga ini kaya protein dan dinilai berpotensi memperkuat industri perikanan berkelanjutan.
JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong pemanfaatan spirulina (Spirulina platensis) sebagai inovasi untuk mendukung sistem akuakultur dan industri perikanan yang lebih berkelanjutan. Mikroalga tersebut dinilai memiliki kandungan nutrisi tinggi sekaligus prospek ekonomi yang menjanjikan di tengah meningkatnya kebutuhan pangan global.
Peneliti Pusat Riset Budidaya Laut BRIN Siti Faridah mengatakan spirulina memiliki potensi besar sebagai bahan baku pakan fungsional, baik pada fase pembenihan maupun pembesaran berbagai komoditas perikanan.
"Selain bisa dijadikan sebagai komoditas industri tersendiri, hasil dari spirulina sangat mendukung kegiatan industri perikanan. Spirulina bisa menjadi enrichment (pengayaan nutrisi) pada pakan untuk kegiatan pembenihan dan pembesaran," ujar Siti dalam diskusi di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, spirulina dipilih karena memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan mikroalga lainnya. Selain pertumbuhannya relatif cepat dan mudah dipanen, mikroalga ini juga memiliki kandungan nutrisi yang tinggi serta mudah dicerna oleh organisme budidaya.
Kandungan Protein Capai 65 Persen
Salah satu keunggulan utama spirulina adalah kandungan proteinnya yang sangat tinggi. Siti mengungkapkan mikroalga tersebut mengandung protein hingga 65 persen, jauh melampaui berbagai sumber protein konvensional.
Bahkan, kandungan protein spirulina disebut sekitar enam kali lebih tinggi dibanding telur dan tiga kali lebih tinggi dibanding daging sapi, serta melampaui kandungan protein ayam, susu, maupun keju.
Tak hanya kaya nutrisi, spirulina juga dinilai efisien dalam mendukung sistem produksi akuakultur. Biomassa hasil budidayanya dapat dimanfaatkan sepenuhnya sebagai bahan baku pakan ikan maupun ternak lainnya sehingga mampu mengurangi limbah produksi.
"Pemanfaatan biomassa spirulina dapat mendukung efisiensi produksi sekaligus menjawab tantangan krisis pangan dan tekanan terhadap ekosistem perairan," jelasnya.
Teknologi Fotobioreaktor Tingkatkan Produksi
Dalam proses budidayanya, spirulina dikembangkan melalui tiga tahapan, yakni kultur skala laboratorium, kultur intermediate, dan produksi skala massal.
Pada tahap produksi massal, teknologi yang digunakan terus berkembang, mulai dari kolam konvensional hingga fotobioreaktor.
Menurut Siti, penggunaan fotobioreaktor mampu meningkatkan produktivitas karena membutuhkan lahan yang lebih kecil dengan hasil produksi lebih tinggi serta risiko kontaminasi yang lebih rendah.
"Fotobioreaktor lebih baik dibanding sistem konvensional karena memanfaatkan lahan yang sedikit namun mampu menghasilkan produksi lebih maksimal dan meminimalkan kontaminan, meskipun membutuhkan biaya investasi serta penguasaan teknologi yang lebih tinggi," katanya.
Ia menambahkan, keberhasilan budidaya spirulina dipengaruhi oleh sejumlah faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, intensitas cahaya, serta tingkat keasaman (pH) air.
Pasar Global Terus Tumbuh
Selain memberikan manfaat ekologis melalui dukungan terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), spirulina juga dinilai memiliki prospek bisnis yang terus berkembang.
Mengutip data Unleaded Market Research, Siti menyebut nilai pasar global spirulina diproyeksikan meningkat dari 393,6 juta dolar AS pada 2019 menjadi 897,61 juta dolar AS pada 2027.
Meski produksi dunia saat ini masih didominasi China, industri spirulina di Indonesia mulai menunjukkan perkembangan. BRIN mencatat telah ada dua perusahaan perintis berskala besar di Semarang, Jawa Tengah, dengan kapasitas produksi mencapai 108 ton per tahun.
"Prospek usaha budidaya spirulina sangat layak untuk terus dikembangkan agar menjadi pendorong terwujudnya industri perikanan yang maju, modern, dan berkelanjutan di Indonesia," tutur Siti.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


